Untitled-10Nia S. Amira
[email protected]

Bagi yang rindu makanan hasil laut, datanglah ke wilayah pesisir Jambi di Kuala Tungkal, Tanjung Jabung Barat yang sangat terkenal dengan kuliner lautnya yang san­gat khas. Penyuka makanan laut wajib memasukkan daerah Kuala Tungkal sebagai daftar kunjungan kuliner. Ada banyak rumah makan yang bertebaran di sepanjang ka­wasan terminal lama dalam kota Kuala Tungkal yang khusus menyaji­kan makanan olahan seafood (hasil laut). Biasanya rumah makan baru buka pukul 5 sore dan tutup pukul 10 malam.

Dengan hanya membayar Rp. 20 ribu hingga Rp. 70 ribu per porsi, perut kita sudah dibuat kenyang dengan berbagai olahan ikan; seper­ti ikan bawal, ikan pari, ikan senan­gin dan juga berbagai jenis kerang, udang, serta kepiting.

Udang mantis yang dikenal di Jambi dengan sebutan udang ketak pun tak lupa dihidangkan. Hanya ada 1 rumah makan yang menye­diakan menu tumis saus udang ketak. Udang bertubuh sexy dengan kaki banyak ini tidak mudah ditemu­kan di rumah makan lain di seluruh Indonesia. Mengapa? Karena jenis udang ini hanya tersedia di tem­pat-tempat tertentu yang memang merupakan daerah berkembang bi­aknya, salah satunya di Kuala Tung­kal. Selain itu, pasar udang jenis mantis ini bukan di dalam negeri melainkan di Taiwan dan Hon­gkong. M a k a jangan heran, jika harga menu masakan udang ketak ini menjadi sedikit lebih ma­hal daripada masakan hasil laut lain­nya.

Untuk 1 ekor udang ketak diban­drol dengan harga Rp 30 ribu bah­kan lebih, tergantung ukurannya. Jika kita memesan masakan hasil laut yang memasak udang ketak ini bisa ditagih bayaran Rp. 100 ribu per ekor udang, bahkan di Taiwan dan Hongkong dapat men­capai harga Rp. 350 ribu per ekornya dalam kondisi men­tah dan jika sudah di masak harganya bisa mencapai Rp. Rp 500 ribu per ekor. Men­gapa demikian mahal? Konon makan udang mantis merupakan target utama di Hongkong dan Tai­wan selain udang lobster karena kandungan proteinnya yang tinggi dan diyakini sebagai obat vitalitas bagi laki-laki. Di Indonesia sendiri, udang jenis mantis ini dijadikan obat agar anak tidak ngompol lagi, meski kedua kebiasaan ini belum dapat dibuktikan dari sisi medis dan gizi, namun ini lebih kepada sugesti yang ada.

Kondisi perairan laut Kuala Tungkal yang bersubstrat lum­pur atau lumpur pasir, membuat wilayah perairan ini menjadi sarang udang ketak atau udang ronggeng, demikian masyarakat di sekitar bi­asa menyebutnya.

Udang Mantis yang memiliki bentuk fisik panjang dan memiliki banyak kaki ini memang jadi terlihat sexy dan kini menjadi primadona bagi para nelayan di Kuala Tungkal, selain sangat mudah didapat, si sexy ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Para nelayan kini giat mem­buru udang ketak, bahkan sejak 10 tahun terakhir sekitar 70% nelayan yang ada di Kuala Tungkal sudah lama melaut khusus untuk berburu udang ketak karena nilai ekonomis yang dihasilkan dibandingkan den­gan menangkap ikan. Si Sexi mantis ini sangat laku di pasaran lokal yang akan dibeli oleh para toke yang akan membayar dengan nilai yang sangat tinggi. Hal ini dibenarkan oleh Dr. Mugi Mulyono dari Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta, dahulu dikenal sebagai Akademi Usaha Perikanan (AUP) yang kampusnya terletak di daerah Jati Padang Pasar Minggu.

Kuala Tungkal merupakan habi­tat udang mantis terbesar di Indo­nesia, bahkan konon 60% ekspor udang ketak dari Indonesia ke Hon­gkong dan Taiwan berasal dari per­airan yang terletak di Jambi ini.

Sore itu seorang nelayang pu­lang dengan suka cita karena udang ketaknya di bayar oleh seorang toke dengan harga Rp. 1,3 juta lebih. Har­ga udang ketak memang tidak dihi­tung per kilo namun per ekor dan setiap ekor udang memiliki harga yang bervariasi, tergantung dengan ukuran yang sudah dipatok sep­erti misalnya ukuran C, ukuran B, ukuran A, dan paling mahal adalah ukuran jumbo. Perbedaannya ti­dak terlalu mencolok namun tetap memberikan keuntungan yang ber­lebih bagi nelayan yang selama ini selalu hidup kekurangan.