1929512HASIL mengejutkan terjadi di Etihad Stadium, Manchester. Manchester City yang tampil impresif di liga domestik dengan menorehkan lima kemenangan tanpa satu kalipun kebobolan, kalah dari Juventus yang belum sekalipun menang di liga domestik.

Oleh : ADILLA PRASETYO WIBOWO
[email protected]

Manchester City sebena­rnya unggul lebih dulu lewat gol bunuh diri yang diciptakan oleh bek Juventus, Giorgio Chiellini. Namun Si Nyonya Tua mampu membalas lewat gol yang dicetak oleh Mario Mandzukic dan Alvaro Morata. Man­chester City pun takluk dari Juven­tus dengan skor 1-2.

Manchester City sendiri sempat mengunci permainan Juventus den­gan pressing yang mereka lakukan. Namun, Juventus perlahan-lahan berhasil keluar dari tekanan dan mampu meladeni permainan Man­chester City dengan umpan-umpan jauh yang mereka lepaskan.

Manchester City mendominasi permainan sepanjang laga. Pengua­saan bola City mencapai 55% ber­banding 45%. Total operan sukses yang dilepaskan skuat besutan Man­uel Pellegrini ini mencapai 527 kali dengan Juve yang hanya 348 kali.

Keberhasilan City menguasai jalannya pertandingan adalah den­gan melakukan pressing sedini mungkin ke pertahanan Juventus. Ke­tika pemain belakang Juve menguasai bola dan hendak melakukan seran­gan, empat pemain terdepan City menjaga ketat para pemain Juventus.

Keempat pemain City tersebut adalah Wilfried Bony, Raheem Ster­ling, David Silva, dan Samir Nasri. Sementara Fernandinho dan Yaya Toure menjadi perebut bola saat ali­ran serangan Juventus mengarah ke tengah lapangan, pada Paul Pogba ataupun Stefano Sturaro.

Skema bertahan City seperti ini membuat para pemain bertahan Juventus tak leluasa berlama-lama dengan bola ataupun memberikan operan pada para gelandang. Pada akhirnya, Juve cukup sering mem­berikan umpan-umpan panjang langsung ke depan.

Pada babak pertama, skema ini pun tiga kali menghasilkan peluang emas bagi City. Fernandinho men­catatkan dua tekel berhasil dan Yaya Toure sekali. Namun kiper sekaligus kapten Juventus, Gianluigi Buffon, bermain gemilang dengan selalu berhasil mengagalkan peluang City tersebut.

Pressing seperti ini tak dilaku­kan oleh Juventus. Untuk bertahan, Juve lebih memilih untuk sesegera mungkin mundur dan mengisi area bertahan Juve. Inilah yang membuat City menguasai jalannya pertandin­gan.

Saat City menguasai bola, para pemain Juve cenderung tak melaku­kan tekel-tekel agresif. Dengan pe­rubahan formasi saat menyerang 4-3-3 ke 4-5-1 saat bertahan, hanya Mario Mandzukic yang lebih sering memberikan tekanan sedini mung­kin.

Morata dan Cuadrado langsung berdiri sejajar dengan trio gelandang Juventus; Hernanes, Sturaro, dan Pogba. Kelima pemain ini kemudian hanya menunggu datangnya bola sambil membayangi pemain City yang berada di dekatnya.

Menghadapi skema bertahan Juve yang seperti ini, City meng­gunakan tempo lambat kala meny­erang. Operan-operan pendek di tengah diperagakan sambil menung­gu momen yang tepat untuk men­girimkan umpan ke sepertiga akhir pertahanan Juve.

Namun hanya sisi kiri City yang lebih sering berhasil menembus pertahanan Juve. Lewat Aleksandar Kolarov dan Sterling, sisi kanan per­tahanan Juventus cukup kewalahan menghadapi serangan City. Namun serangan ini sering kandaskan oleh ketangguhan Buffon.

Namun dominasi permainan City hanya bertahan pada babak pertama saja. Pada babak kedua, Juve mulai berhasil keluar dari tekanan dan membuat pertandingan berjalan berimbang dengan kedua kesebela­san yang saling jual-beli serangan.

Juventus yang pada babak perta­ma hanya berhasil melepaskan tiga tembakan, lebih memiliki banyak peluang pada babak kedua dengan tambahan tujuh tembakan. Semen­tara City yang pada bababk pertama melepaskan delapan tembakan, han­ya menambah enam tembakan pada babak kedua.

Aliran serangan Juve mulai membaik setelah Hernanes lebih dimundurkan pada babak kedua. Jika pada babak pertama Hernanes lebih sering menunggu di depan un­tuk menerima bola bersama Morata, Cuadrado dan Mandzukic, pada ba­bak kedua Hernanes lebih rajin men­cari bola hingga mendekati Bonucci dan Chiellini di lini pertahanan.

Manchester City unggul lebih dulu lewat servis bola mati yang berujung gol bunuh diri Chiellini. Tapi secara skema penyerangan, sebenarnya City mulai menemui ke­buntuan pada babak kedua. Peluang-peluang yang diciptakan Manchester City lebih karena aksi individu para pemainnya, seperti tendangan jarak jauh Yaya Toure, misalnya.

Hal ini dikarenakan Juventus pun mengubah cara bertahan mer­eka. Jika pada babak pertama saat bertahan Juve menggunakan for­masi 4-5-1, pada babak kedua Juve menggunakan formasi 4-4-2 saat ber­tahan. Pogba dan Cuadrado menjadi gelandang di kedua sisi, sementara Mandzukic dan Morata tetap berada di tengah lapangan atau di depan.

Dari total 29 duel udara pada laga ini, 16 di antaranya berhasil di­menangkan oleh pemain Juventus. Pada babak kedua, keberhasilan duel udara Juve lebih dari seten­gahnya atau lebih tepatnya menca­pai angka sembilan.

Catatan tak terkalahkan Man­chester City pada musim ini berhasil dikandaskan oleh Juventus yang ber­hasil memanfaatkan skema operan panjang pada babak kedua. Dua gol Juventus pun dicetak lewat proses yang dimulai dengan operan um­pan jauh menjadi bukti efektivitas skema ini. City sendiri sebenarnya melakukan sejumlah perubahan tak­tik seperti ketika memasukkan Kev­in De Bruyne setelah gol Mandzu­kic, dan mengubah skema menjadi dua penyerang saat memasukkan Sergio Aguero menggantian Nasri setelah gol kedua Juventus. Namun itu belum berhasil mengagalkan ke­menangan pertama Juventus pada musim ini.