SELANGOR TODAY – Sudah empat hari pencarian terhadap korban kapal tenggelam di ka­wasan Sabak Berenam, Selan­gor, Malaysia, yang mengangkut 100 an Warga Negara Indonesia (WNI) dilakukan. Sejauh ini, baru 20 WNI yang selamat dan akan segera dipulangkan. Sementara untuk WNI yang meninggal kini menjadi 57 orang.

“20 WNI yang berhasil dis­elamatkan akan segera diproses pemulangannya ke Tanah Air. Saat ini jumlah korban mening­gal 57 orang,” ujar Direktur Per­lindungan Warga Negara Indone­sia dan Badan Hukum Indonesia Kemlu, Lalu Muhammad Iqbal, Minggu (6/9/2015).

Iqbal menambahkan korban yang selamat merupakan tah­anan sementara pihak imigrasi Malaysia. Namun, ke-20 orang tersebut tidak akan diproses hu­kum. “Mereka memang di tah­anan sementara. Keselamatan atau pemulihan kondisi mereka tetap menjadi prioritas. Tapi kes­epakatan dengan pihak Malaysia, mereka tidak akan diproses hu­kum,” lanjutnya.

Tim SAR terus melakukan pencarian dan penyelamatan. Asset yang digunakan pada hari ini berupa 3 kapal APMM, 3 boat APMM, 2 kapal Angkatan Laut Malaysia dan 2 helikopter. Sat­gas KBRI KL saat ini masih terus melakukan koordinasi dengan APMM guna memonitor operasi penyelamatan.

Presiden Joko Widodo juga telah memerintahkan Basarnas untuk ikut dalam proses evakua­si. “Semoga keluarga tabah dan kuat. Saya sudah perintahkan operasi pencarian sampai korban ditemukan. Lakukan evakuasi bagi korban yang sudah ditemu­kan. Saya juga meminta evaluasi mobilitas penduduk lintas perba­tasan,” kata Presiden Jokowi yang disampaikan kembali oleh Kepala Staf Presiden Teten Masduki.

Teten menambahkan, Jokowi telah menerima laporan dari Kementerian Luar Negeri yang menyebut KBRI Malaysia terus berkoordinasi dengan otoritas pemerintah Malaysia.

Kapal tersebut berjenis boat kayu yang di dalamnya ter­dapat 100 WNI. Jokowi kemu­dian memerintahkan kement­erian terkait untuk melakukan evaluasi agar kejadian serupa tak terulang. “Masalah mobili­tas penduduk lintas negara di perbatasan selama ini kurang mendapat perhatian. Selain ke­lengkapan dokumen yang kerap tidak diperhatikan, warga Indo­nesia juga tidak memperhatikan kelayakan moda transportasi,” imbuh Teten.

Pemerintah juga mendorong adanya investasi untuk membu­ka lapangan pekerjaan di wilayah perbatasan. Sehingga WNI akan memilih untuk bekerja di negeri sendiri ketimbang menyeberang ke negeri orang.

(Yuska Apitya/net)