Untitled-1

MENARIK pendapat dari Presiden terpilih Republik Indonesia ke 7 Bapak Ir.H. Joko Widodo alias Jokowi mengenai revolusi mental. Revolusi mental menurut beliau adalah menciptakan paradigma, budaya politik, dan pendekatan nation building baru yang lebih manusiawi, sesuai dengan budaya nusantara, bersahaja, dan berkesinambungan.

Oleh: HERU B. SETYAWAN

Pendapat ini beliau tulis di salah satu koran nasional dan sebagai salah satu bagian dari kampanye Pilpres 2014. Tulisan yang sangat sederhana dan enak dibaca ini serta terkesan lugu, apa adanya sebagai trade mark Jokowi (pada waktu itu orang menyebut calon presiden wong ndeso) menjadi senjata yang ampuh bagi Jokowi untuk menarik simpati pendukungnya dan rakyat Indonesia. Sementara menurut salah satu anggota tim suksesnya Anies Baswedan pada waktu itu (kini menjadi Menteri Pendidikan dan kebudayaan), revolusi mental adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan peningkatan mutu bagi bangsa Indonesia. Pemikiran itu semakin membuat masyarakat tertarik dan terkesima dengan pemunculan konsep revolusi mental. Sedang menurut sosiolog Paulus Wirutomo Sosiolog, yang juga mantan ketua kelompok kerja revolusi mental pada rumah transisi Jokowi-JK, menjelaskan sekitar 300 pakar dan tokoh masyarakat diundang untuk membahas revolusi mental. Para pakar dan tokoh masyarakat ini sepakat Indonesia membutuhkan suatu “revolusi mental“. Mereka yakin bangsa Indonesia juga bisa membangun karakter seperti bangsa Jepang, Korea Selatan dan Singapura. Mereka juga yakin bahwa karakter adalah sesuatu yang bisa dirubah, bukan ciri yang abadi dari suatu bangsa. Kita memang sudah terlambat dibandingkan negara lain, tetapi lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Para tokoh dan pakar bersepakat bahwa hakikat revolusi mental adalah “mengembangkan nilai-nilai”. Agar perubahan revolusioner, nilai yang dikembangkan tidak boleh terlalu banyak dan harus bersifat “strategis-instrumental”. Artinya bila dikembangkan bisa mengangkat kualitas dan daya saing bangsa secara keseluruhan. Nilai-nilai itu tidak perlu disakralkan dan harus bersifat lintas agama agar tidak menyulut perdebatan antargolongan. Revolusi mental sebaiknya tidak menargetkan suatu moralitas privat, seperti kesalehan pribadi, kerajinan menjalankan ibadah, dan sebagainya, namun lebih diarahkan untuk membenahi moralitas publik, misalnya, disiplin di tempat umum, membayar pajak, tidak korupsi, tidak menghina apalagi menganiaya kelompok lain, dan lain lain. Moralitas privat memang penting, tetapi sebaiknya masuk ke ranah privat dan ranah agama. Revolusi mental cukup mengurus ranah publik. Jadi menurut Paulus Wirutomo nilai yang harus dikembangkan adalah : pertama nilai kewargaan, kedua nilai bisa dipercaya, ketiga nilai kemandirian, keempat nilai kreativitas, kelima nilai gotong royong, dan keenam nilai saling menghargai (Harian Kompas Rabu (29/4/2015). Tapi konsep revolusi mental ini ditolak dan ditentang oleh beberapa tokoh nasional seperti Fadli Zon, menurut Fadli Zon, bapak komunis Karl Marx menggunakan istilah Revolusi Mental pada tahun 1869 dalam karyanya ‘Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte’. Selain itu, lanjutnya, Revolusi Mental juga jadi tujuan ‘May Four Enlightenment Movement’ di China 1919 diprakarsai Chen Duxui, pendiri Partai Komunis China. Sedangkan di Indonesia, kata Revolusi Mental digunakan tokoh-tokoh berhaluan kiri untuk menghapus sesuatu yang berbau agama. Sedangkan Budayawan Goenawan Mohamad memiliki pandangan berbeda soal Revolusi Mental. Menurutnya, program Jokowi sama sekali tidak ada hubungannya dengan ideologi komunis. Menurut penulis konsep revolusi mental ini sangat sekuler, karena segala sesuatu dipisahkan antara kehidupan dunia dan agama ( baca akhirat ) , padahal dunia dengan akhirat itu selalu berhubungan menurut ajaran agama kita. Saudara Paulus Wirutomo pemikirannya sangat sekuler coba simak pernyataan ini, revolusi mental sebaiknya tidak menargetkan suatu moralitas privat, seperti kesalehan pribadi, kerajinan menjalankan ibadah. Persis pernyataan Ahok,” Jangan bawa-bawa urusan agama di dunia kerja,” Karena pemikiran Ahok adalah sekuler dan liberal, yang diutamakan Ahok adalah logika, urusan agama dibuang jauh-jauh, atau dengan kata lain segala cara dilakukan meskipun itu melanggar aturan agama. Makanya tidak mengherankan Gubernur DKI Jakarta ini mengusulkan akan legalisasi miras dan prostitusi. Memang revolusi mental tidak melanggar aturan agama, tetapi revolusi mental menjauhkan dan memisahkan bangsa Indonesia dari agama, ini yang namanya sekuler. Menurut penulis untuk menciptakan kesalehan sosial harus dimulai dari kesalehan privat ( pribadi ), tidak akan mungkin terjadi kesalehan sosial jika masyarakatnya tidak saleh secara pribadi dulu, ini justru pemikiran yang masuk akal dan logis. Mulailah berubah untuk menjadi hamba yang saleh dari diri sendiri, kemudian keluarga, lingkungan kita, masyarakat dan akhirnya bangsa kita atau terjadi kesalehan sosial. Karena revolusi mental banyak dikritik, maka Jokowi membantah dengan pernyataan atau memberi pengertian revolusi mental yang kedua yaitu revolusi mental adalah justru mengarahkan masyarakat secara massif menerapkan ajaran Ketuhanan. Tidak seperti kondisi saat ini, dimana ajaran agama cenderung hanya dipelajari dan dipahami, namun tidak diterapkan. Wah keren banget dan top markotop pengertian revolusi mental yang kedua ini. Dan setelah sekitar tujuh bulan Jokowi menjadi Presiden Republik Indonesia, pelaksanaan Revolusi Mental jalan di tempat, kalau tidak boleh dikatakan gagal total. Presiden Jokowi omdo (omong doang) karena menurut beliau revolusi mental adalah justru mengarahkan masyarakat secara massif menerapkan ajaran Ketuhanan. Tidak seperti kondisi saat ini, dimana ajaran agama cenderung hanya dipelajari dan dipahami, namun tidak diterapkan. Tapi nyatanya Presiden Jokowi tidak bisa menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, contohnya Jokowi tidak bisa untuk menyuruh ibu negara menutup auratnya, buktinya sampai sekarang ibu negara belum berhijab. Presiden Jokowi juga lebih senang bersepeda santai di car free day, baik sewaktu di Jakarta maupun di Bogor, dari pada mendatangi atau silaturahmi ke majelis taklim, dzikir, dan ilmu. Atau mendatangi Alim Ulama dan tokoh masyarakat untuk minta doa restu agar bangsa Indonesia maju dan berkah. Dalam tampilan fisik dan simbol sehari-hari, Presiden Jokowi juga jauh dari kesan religius, Jokowi jarang pakai kopiah haji, bukankah beliau seorang haji, atau beliau juga jarang pakai peci hitam khas Indonesia. Atau kasus terbaru Markobar, kafe baru putra sulung Presiden Joko Widodo Gibran Rakabuming di Solo memiliki mural mata satu yang di kelilingi segitiga atau identik dengan simbol illuminati dan freemason. Ketua Komisi VIII Saleh Daulay berujar jika mural tersebut sudah menjadi bahan sorotan masyarakat, Dia berharap gambar itu diganti dengan gambar yang tak menjadi bahan kontroversi. Sebab, kata dia, masyarakat bisa menjadi salah tafsir. Tentu kalau ini menjadi perbincangan mungkin bisa diganti dengan gambar lain, gambar yang lebih teduh. Karena masyarakat bisa salah menilai. Jadi tidak terjadi salah tafsir,” kata dia. Harusnya kalau sesuai revolusi mental gambar yang ada di kafe markobar adalah gambar kaligrafi atau gambar yang bernuansa religius yang lain. Maka dibutuhkan keseriusan dari Presiden Jokowi dan kita semua untuk menerapkan ajaran agama yang kita anut dikehidupan sehari-hari dengan sebaik-baiknya. Sehingga apa yang dikatakan Jokowi terutama konsep revolusi mental arti yang kedua yaitu revolusi mental adalah justru mengarahkan masyarakat secara massif menerapkan ajaran Ketuhanan. Tidak seperti kondisi saat ini, dimana ajaran agama cenderung hanya dipelajari dan dipahami, namun tidak diterapkan menjadi bumerang bagi Jokowi, tapi belum terlambat untuk memperbaiki diri, dan berbuat yang terbaik bagi negeri tercinta Indonesia ini serta menerapkan ajaran agama yang kita anut dalam kehidupan sehari-hari dengan penuh kesabaran, keikhlasan dan hanya mencari ridho Allah. Ayo seluruh komponen bangsa untuk beribadah sekaligus bekerja, atau ayo seluruh komponen bangsa untuk bekerja sekaligus beribadah. Jangan bekerja, bekerja dan bekerja kapan istirahatnya? Capai deh! Jayalah Indonesiaku.