Untitled-10

Sebelum meninggal dunia Jumat (15/5/2015) pagi, Didi Petet Widiatmoko sempat mengikuti ajang World Expo Milan 2015 di Italia. Apa yang dilakukan aktor watak multi talenta ini di Milan?

Oleh : Yuska A

KEHADIRAN Didi Petet di World Expo Milan 2015 bukan hanya sebagai penonton. Sebagai Ketua Koperasi Pelestarian Budaya Nasional (KPBN) Didi Petet memikul tanggungjawab sebagai ketua panitia penyelenggara helatan akbar tersebut dari Pavilion Indonesia. Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Barekraf) Triawan Munaf menuturkan bagaimana peran Didi Petet dalam ajang terbesar dunia ketiga setelah Piala Dunia dan Olimpiade tersebut. Menurut Triawan, sosok Didi Petet pantang menyerah demi ikutnya Indonesia di ajang itu. “Penyenggaraan Paviliun Indonesia di Milan ini sepenuhnya oleh swasta yaitu atas inisiatif almarhum Didi Petet dengan mengatasnamakan koperasinya.

Kira-kira mendekati akhir tahun 2014, saya dihubungi oleh almarhum yang meminta saran-saran untuk dapat menghimpun sponsor-sponsor yang dibutuhkannya mengingat Expo di Milan. Namun belum ada satu pun sponsor yang menyatakan bersedia berpartisipasi,” tutur Triawan, Minggu (17/5/2015). Dia kemudian membandingkan dengan penyelenggaraan pameran sebelumnya di Shanghai, Tiongkok pada tahun 2010 pemerintah merogoh kocek APBN hingga Rp 250 – 300 miliar. Mahalnya biaya tersebut membuat pemerintah saat itu memutuskan untuk tak ikut ajang ini di tahun 2015. “Almarhum mengajukan diri (kepada Menteri Marie Pangestu waktu itu) untuk mengambil alih penyelenggaraan dan pendanaannya secara swasta,” kata Triawan. Melanjutkan penjelasannya, Triawan menyatakan bahwa banyak pekerjaan arsitektur dan konstruksi yang sudah kejar-kejaran dengan kondisi pendanaan yang hampir tidak ada. Di saat-saat kritis itu, seorang pengusaha swasta meminjamkan dana (bridging) sebesar Rp 4 – 5 miliar, namun dana ini hanya mencukupi bagi pembiayaan awal saja. Sedangkan Expo Milan 2015 ini akan berjalan selama 6 bulan dari 1 Mei 2015 sampai 31 Oktober 2015, yang tentunya akan memerlukan banyak biaya. “Setelah itu saya tidak lagi mengikuti perkembangannya, tapi saya sempat diberitahu oleh almarhum sewaktu masih di Milan sebelum pulang ke Jakarta dalam kondisi sakit, bahwa dana yang terkumpul dari para sponsor dan sudah terpakai itu baru sebesar Rp 34 miliar dari sekitar minimal Rp 57 miliar yang dibutuhkan. “Hitung-hitungan almarhum pada awalnya diperkirakan dibutuhkan Rp80 miliar” ungkap Triawan. “Nah, dalam kondisi pendanaan yang cekak itu lah Expo Milan dibuka pada 1 Mei 2015 dengan segala keterbatasannya. Sejak awal saya selalu bilang kepada almarhum bahwa Expo Milan ini pekerjaan yang telalu besar dan rumit untuk dikerjakan seorang Didi Petet tanpa pendanaan yang jelas ataupun dari pemerintah. Saya selalu bilang ‘Kang Dipet nekad’. Tapi karena merasa sudah tidak bisa mundur lagi, almarhum tetap saja melaksanakannya,” lanjut ayah dari Sherina itu. Didi Petet memang tak gampang menyerah. Menurut Triawan, dalam upayanya mencari sponsor, dia mendapat jawaban dari Kementerian Perdagangan RI dalam bentuk teknis dan Kemenko Kemaritiman yang akan mengirimkan ekspedisi kapalnya dalam rangka The World Ocean Day bulan September nanti di Milan. Pernyataan Triawan ini sekaligus mengklarifikasi tulisan akun Derek Manangka di laman Facebook. Triawan menegaskan bahwa Didi Petet sama sekali tak memanfaatkan APBN dalam perannya di World Expo Milan 2015. “Jadi tidak benar bahwa ada uang negara maupun komitmen APBN yang digunakan oleh kepanitiaan almarhum Didi Petet, yang disebut dikorupsi dari dana sebesar ‘Rp 80 miliar dan hanya separuhnya cair’ itu,’’ kata Triawan. Sebelum Didi Petet wafat, Triawan sempat meminta agar almarhum mengeluarkan statement untuk mengklarifikasi berita yang simpang-siur ini. Namun kondisi kesehatannya terus menurun hingga kita semua kehilangan seorang sahabat dan aktor besar ini dua hari yang lalu. ‘’Tentu saja almarhum merasa tertekan dengan kondisi ini. Apalagi almarhum membaca dan mendengar berita-berita di media sosial yang di antaranya menuduh adanya korupsi dan lain-lain,” tutur Triawan. Didi Petet wafat di Tangerang Selatan di usia 58 tahun. Di dunia hiburan Indonesia, Didi dikenal sebagai pemeran multi talenta. Ia telah membintangi banyak film dan teater, memerankan berbagai tokoh mulai dari Emon dalam Catatan Si Boy, Kabayan dalam Si Kabayan Saba Kota, sampai Suwito dalam Pasir Berbisik. Ketika dunia sinetron merebak seiring dengan tumbuh maraknya stasiun televisi di tanah air, Didi pun terjun ke sana. Film iklan tak ketinggalan dirambahnya pula. Bahkan ia kemudian mendirikan sebuah production house. Di samping itu, ia aktif pula dalam sejumlah pementasan teater, seminar tentang seni peran dan tentu saja mengajar di IKJ. Ia meninggal dunia pada Jumat(15/5/2015) subuh. Kesehatannya memburuk sepulangnya dari Milan, untuk menghadiri pameran World Expo Milan. Kini, guyonan Si Bung asli Surabaya itu tinggal kenangan, banyak terukir karya-karya hebat yang bisa dijadikan teladan bagi insan perfilm-an di Indonesia.(*)

Baca Juga :  Modus Gudang Beras, Tempat Hiburan Malam di Kemang Disegel