Untitled-5

NAMANYA Uwais bin Amir bin Jaz-un bin Malik al-Qorni, al-Muradi, al-Yamani namun biasa lebih dikenal dengan Uwais al-Qorni. Dia adalah seorang tabi’in yang hidup pada masa Rasulullah SAW namun, karena berbaktinya yang sangat tinggi kepada ibunya yang sudah lanjut usia dan sakit-sakitan, sehingga dia tidak bisa berkesempatan untuk bertemu muka dengan kekasih pujaan hati yang selalu dirinduinya, Rasulullah SAW yang jarak dari kampungnya di Qarn, Yaman ke Madinah lebih kurang 400 km. Uwais al-Qorni adalah seorang yang miskin, sangat miskin, ia bekerja sebagai penggembala domba dan unta yang upahnya hanya cukup untuk kebutuhan ibunya dan dirinya, apabila mendapatkan upah yang lebih selalu dibaginya dengan tetangga yang sama miskinnya dengan dirinya. Sehingga para tetangganya yang lain hampir tidak menyadari adanya keberadaan Uwais al-Qorni, sekalipun diakui keberadaannya hanya untuk diperolok-olok karena kemiskinannya. Dari Muharib bin Ditsar, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya diantara umatku ada orang yang tidak dapat datang ke masjid atau mushallanya karena keadaannya yang telanjang. Imannya menghalangi dia untuk meminta-minta kepada manusia, diantara mereka adalah Awis al-Qarny dan Furat bin Hayyan al-Ajly.” (HR. Ahmad, dalam riwayatnya Imam Ahmad bin Hanbal menggunakan nama Awis al-Qarny dalam beberapa riwayat dari Muslim menggunakan nama Uwais al-Qarny). Suatu ketika Abu Nadhrah menyampaikan hadits di Kuffah dalam satu majelis beberapa kali dia tidak melihat Uwais al-Qorni yang biasanya paling belakang membubarkan diri di majelisnya, setelah bertanya tentang ciri-cirinya dan menanyakan rumahnya setelah ditunjukkan dimana rumahnya Abu Nadhrah mengetuk pintu dan dia keluar. Kemudian Abu Nadhrah bertanya: “Wahai saudaraku, mengapa tidak pernah tampak (dalam majelis), sehinga kami tidak mengenal dirimu?” “Karena keadaanku yang telanjang,” jawabnya. Abu Nadhrah menawarkan jubahn untuk dipakai, namun, Uwais menolaknya, setelah dipaksa untuk diterima, diambillah jubah itu dan kemudian dipakainya keluar rumahnya. Adalah benar, teman-temannya memperolok keadaan Uwais dan Abu Nadhrah memerhatikannya. Jubah itu dikembalikan lagi. Disamping kezuhudannya, Uwais al- Qorny sangat berbakti dan menyayangi ibunya yang sudah lanjut lagi sakit-sakitan. Keinginannya untuk bertemu dengan Rasulullah sangat kuat, namun selalu di tahan karena dia tidak tega untuk meninggalkan ibunya seorang diri. Baktinya kepada ibunya dan kezuhudannya menjadikan sangat terkenal di penduduk langit, sampai-sampai Rasulullah SAW pun mengingatkan para sahabat akan datangnya seseorang dari kalangan tabi’in yang zuhud bernama Uwais al-Qorny, yang dibadannya muncul cahaya, lalu ia berdoa kepada Allah agar menghilangkannya, sehingga Dia benar-benar menghilangkannya, lalu dia berdoa: “Ya Allah, tinggalkanlah di badanku sesuatu yang dapat membuatku ingat nikmat yang Engkau berikan kepadaku’, sehingga Dia meninggalkannya di badannya dan membuatnya mengingat nikmat Allah yang diberikan kepadanya. Nabi SAW menyarankan agar apabila bertemu dengannya, hendaklah untuk meminta dia memohon ampunan baginya. Diriwayatkan dari Ashbagh bin Zaid dia berkata: “Sesungguhnya yang menghalangi Uwais untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah baktinya kepada ibunya”. Ketika Umar bin Khattab ra. menjadi khalhifah, Umar teringat pesan Rasulullah SAW soal Uwais al-Qorny. Oleh karenanya setiap ada rombongan dari Kuffah datang ke Makkah, Khalifah Umar bin Khattab ra., selalu menanyakan apakah mereka mengenal Uwais al-Qorny dengan tanda putih sebesar dirham di lengannya. Satu ketika datang rombongan dari Kuffah, Umar bertanya: “Apakah kalian mengenal Uwais bin Amir al-Qorny?” Seseorang yang juga anak dari pamannya Uwais yang ikut dalam rombongan tersebut menjawab, bahwa Uwais adalah orang yang rusak, mereka selalu menghinakan dan memperolok, sehingga Amirul mukminin tidaklah layak mempertanyakan keadaanya. “Celaka kau dan engkaulah yang rusak,” sergah Umar. Kemudian Umar mengatakan jika dia (anak pamannya Uwais) bertemu dengan Uwais minta untuk disapaikan salam dan diminta datang untuk menghadapnya. Menghadaplah Uwais al-Qorny kepada Khalifah dan Umar bin Khattab bertanya: “Engkaukah yang bernama Uwai al-Qorny?” “Ya”, jawab Uwais singkat. “Engkaulah yang keluar cahaya di badanmu, lalu engkau berdoa kepada Allah agar menghilangkannya, sehingga Dia pun menghilangkannya, lalu engkau berdoa, ‘Ya Allah, tinggalkan di badanku sesuatu yang dapat memebuatku ingat nikmat yang Engkau berikan kepadaku’, sehingga Dia meninggalkannya dibadanmu dan membuatmu mengingat nikmat Allah yang diberikan kepadamu?” lanjut Umar. Uwais balik bertanya, “Siapakah yang memberitahukan kepadamu wahai Amirul- Mukminin? Demi Allah, padahal tak seorang tahu hal ini.” “Rasulullah SAW pernah memberitahukan kepada kami, bahwa akan muncul dari kalangan tabi’in seseorang dari Qarni yang bernama Uwais bin Al-Qorny. “Mohonlah ampunan bagiku wahai Uwais bin Amir,” pinta Umar bin Khattab. “Allah sudah mengampuni dosamu wahai Amirul-Mukminin,” jawab Uwais. “Allah juga mengampuni dosamu wahai Uwais bin Amir,” kata Umar. Uwais adalah seorang yang zuhud, yang menjadikan akhirat sebagai satu-satunya tujuan dan dunia sebagai persinggahan. Di dalam kemiskinannya dia tidak ketinggalan dalam bersedekah, yang mana amalan tersebut kebanyakan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang mampu atau kaya saja, tetapi Uwais tidak menjadikan kondisinya sebagai alasan, dia bersedekah dengan apa yang ia miliki. Keberadaan Uwais memang tidak dikenal di kalangan penduduk Kuffah, kampungnya sendiri. Tapi ia lebih dikenal di kalangan penduduk langit. Sehingga, ketika beliau meninggal dunia, penduduk Kuffah, keheranan, karena begitu banyak orang yang datang saling berebut untuk memandikan, mengkafani, menyolatkan, mengusungnya dan menguburkannya. Orang yang selama ini belum pernah mereka lihat sebelumnya. Akan tetapi seolah-olah Uwais al-Qornya adalah tokoh terkenal sehingga begitu banyak orang yang berebut untuk melakukan kebaikan-kebaikan kepada jasadnya. Rupanya orang-orang yang banyak itu adalah para malaikat yang berbondong- bondong berebut untuk melakukan amal-amal kebaikan kepada jasad seorang Tabi’in yang memang telah sangat terkenal di kalangan penduduk langit. Dalam riwayat yang lain, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, menerangkan. Dari Abdullah bin Salamah, dia berkata, “Kami berperang di Azerbaijan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Awis Al-Qorny juga ikut bergabung bersama kami dalam peperangan itu. Dalam perjalanaan pulang, dia jatuh sakit, sehingga kami harus menggotongnya di atas tandu. Tapi tak seberapa kemudian dia meninggal dunia. Kami berhenti, yang ternyata di tempat itu sudah ada kuburan yang sudah digali, air yang cukup dan kain kafan yang telah tersedia. Maka kami memandikan, mengafani dan menshalatkannya, lalu kami menguburkannya.” “Bagaimana jika kita kembali ke kuburannya dan memohonkan ampunan baginya?” Sebagian diantara kami berkata kepada sebagian yang lain setelah berjalan beberapa saat. Maka kamipun kembali ke kuburannya. Tapi kami tidak mendapatkan jejak apapun. Wallahu’alam bisshowab.

(Hanif Abdullah Thamih, Sumber: Shahih Muslim, Imam Ahmad bin Hanbal, Zuhud Cahaya Kalbu, Darul Fallah, 2003; Siarus Salafis Shalihin, Jilid 3)