h_seaSINGAPURA, Today - Indonesia masih tertahan di posisi kelima perolehan medali emas dari 11 negara peserta SEA Games 2015.

Indonesia berada di bawah Malaysia yang menempati pering­kat empat dengan 62 medali emas dan Vietnam di posisi tiga dengan 73 medali emas.

Ketua kontingen SEA Games 2015, Taufik Hidayat menyam­paikan permintaan maaf kepada masyarakat Indonesia karena tim yang dipimpinnya belum memenuhi harapan masuk tiga besar negara pengumpul medali terbanyak.

“Hasilnya memang seperti ini. Saya percaya semua atlet yang turun sudah berbuat maksimal. Saya akan bertanggung jawab dan melaporkan hasilnya ke KOI, KONI maupun pemerintah,” kata Taufik Hidayat, mengutip Antara, Selasa (16/6/2015).

Menurut dia, pencapaian med­ali kontingen Indonesia pada ke­juaraan dua tahunan itu memang belum sesuai harapan.

Ada beberapa hal yang bisa digarisbawahi dan diharapkan segera diperbaiki karena banyak kejuaraan yang telah menunggu.

“Memang ada yang sudah ses­uai dengan target seperti dayung. Untuk cabang olahraga lain banyak target yang meleset seperti biliar maupun renang,” imbuhnya.

Cabang olahraga dayung yang mempunyai tiga disiplin yaitu kano/kayak, rowing dan tradition­al boat race (perahu naga) mampu menjadi penyumbang emas ter­banyak bagi kontingen Indonesia yaitu 13 emas. Sementara biliar tanpa emas dan renang hanya satu dari lima emas yang ditargetkan.

Mantan atlet bulu tangkis itu menegaskan, jika Indonesia in­gin bersaing dengan negara lain yang olahraganya terus berkem­bang, seperti Thailand, Singapura maupun Vietnam maka dibutuh­kan terobosan termasuk dengan penambahan anggaran.

“Pelatihan tidak boleh pu­tus minimal hingga Asian Games 2018. Untuk mencetak prestasi anggarannya tidak murah. Harus ada anggaran besar dan didukung dengan atlet dan pelatih (asing-lo­kal) yang memadai,” jelasnya.

Kontingen Indonesia masih tertahan di posisi lima dengan perolehan 45 medali emas, 59 perak dan 74 perunggu. Posisi per­tama peraih medali emas terban­yak ditempati Thailand dengan 95 emas,83 perak dan 68 perunggu.

Lalu tuan rumah Singapura di bawah Thailand dengan 83 emas, 73 perak dan 102 perunggu. Ke­mudian Vietnam masuk tiga besar dengan 73 emas, 53 perak dan 60 perunggu dibuntuti Malaysia den­gan 62 emas, 57 perak dan 66 pe­runggu.

Hasil SEA Games 2015 ini men­jadi yang terburuk setelah edisi 2005. Saat itu Kontingen Merah Putih juga menempati peringkat lima perolehan medali pesta olah­raga terbesar di Asia Tenggara itu.

Menpora Ajak Berbenah

Indonesia harus menerima kenyataan pahit berada di posisi kelima pada SEA Games 2015 di Singapura. Pencapaian peringkat dan raihan medali tersebut jauh harapan.

Karena itu, Menpora Imam Nahrawi mengajak kepada semua pengurus dan pembina cabang olah­raga, KONI, KOI, dan Satlak Prima untuk melakukan evaluasi menyelu­ruh dan pembenahan total dalam pembinaan olahraga nasional.

“Ini kenyataan yang harus diterima, tidak perlu saling me­nyalahkan dan kita tetap ha­rus berterima kasih kepada atlet yang sudah berusaha maksimal. Menang atau kalah adalah bagian dari pertandingan,” ujar Menpora menanggapi pencapaian kontin­gen Indonesia pada SEA Games 2015 ini.

Namun demikian, hasil SEA Games 2015 ini menjadi momen­tum evaluasi dan pembenahan total bagi pemerintah bersama semua pengurus dan pembina ser­ta seluruh stakeholder olahraga.

Selain persaingan di SEA Games yang makin ketat dan fak­tor tuan rumah yang memiliki hak keuntungan hak prerogratif dalam menentukan sebagian jumlah ca­bor dan nomor cabor yang diper­tandingkan, ada faktor teknis dan non teknis lain yang bisa mem­pengaruhi pencapaian peringkat di SEA Games.

Karena itu, evaluasi dan pem­benahan total pembinaan harus segera dilakukan termasuk kon­solidasi diantara stakeholder na­sional guna memperbaiki prestasi.

Berada di peringkat kelima memang bukan kali pertama di alami Indonesia. Posisi tersebut pernah terjadi pada SEA Games 2005 di Filipina, saat Menpora Adhyaksa Dault belum lama men­jabat dan kali pertama menangani SEA Games.

Berangkat dari kondisi demiki­an, pemerintah kala itu kemudian melakukan gebrakan kebijakan dalam perbaikan pembinaan.

Imam lantas menambahkan pihaknya memang harus meny­iapkan langkah dan strategi besar guna memperbaiki prestasi.

Tentu saja saja secara sistema­tis, terukur dan lebih jitu, karena situasi sepuluh tahun lalu tentu sudah berbeda dengan saat ini.

Tidak saja menyangkut atlet, tapi juga wasit dan juri berstandar internasional yang kualitas dan kuantitasnya harus ditingkatkan.

“Pemerintah tidak tinggal diam, dan penting bagi kami un­tuk berkomunikasi, berkoordi­nasi dan mengajak stakeholder olahraga agar bergerak bersama untuk mencari jalan terbaik agar memenuhi harapan masyarakat,” tegas politisi PKB ini.

(Imam/net)