gereja-ditembaki_20150618_144624AMERIKA TODAY – Sembilan orang dipasti­kan tewas dalam penembakan di gereja khu­sus jemaat kulit hitam di Charleston, Amerika Serikat, Rabu(17/6/2015) malam.

Dalam konferensi pers empat jam usai penembakan, kepala polisi Charleston Greg­ory Mullen mengatakan bahwa delapan kor­ban tewas di tempat, sementara seorang lain­nya meninggal di rumah sakit.

Ada seorang korban terluka, namun iden­titasnya tidak disebutkan. Di antara korban tewas adalah pastur Clementa Pinkney. Polisi tiba di Gereja Episcopal Metodis Afrika Eman­uel sekitar pukul 21:00, setelah muncul lapo­ran penembakan. Saat tiba di lokasi, delapan orang ditemukan telah tewas di dalam gereja, seorang lainnya langsung dilarikan ke rumah sakit. Pelaku melarikan diri.

Baca Juga :  Wow, Wanita Ini Bertahan Hidup Hanya Dengan Mengonsumsi Air

Mullen mengatakan polisi meyakini bah­wa ini adalah kejahatan bermotifkan keben­cian untuk kelompok tertentu, dalam hal ini adalah warga kulit hitam. “Sama sekali tidak terduga di masyarakat seperti sekarang ada seseorang masuk ke gereja saat jemaah ten­gah berdoa dan membunuh mereka,” kata Mullen, dikutip Reuters.

Menyusul serangan tersebut muncul an­caman bom. Setelah dilakukan penyisiran diketahui ancaman itu tidak terbukti.

Hingga saat ini polisi masih terus memb­uru pelaku yang masih buron. Menurut polisi berdasarkan pengakuan saksi mata, ciri-ciri pelaku adalah pria kulit putih berusia 20-an dengan postur tubuh tegap. Pelaku mengena­kan sweater warga abu-abu, jeans biru dan sepatu boot.

Baca Juga :  Kerap Diejek Berkulit Hitam, Istri Nekat Potong Kelamin Suaminya

Sempat terjadi salah tangkap saat polisi memborgol seorang fotografer yang memiliki ciri persis pelaku. Belakangan, fotografer lo­kal itu dibebaskan.

Gereja Episcopal Metodis Afrika Emanuel adalah tempat ibadah bersejarah yang diban­gun tahun 1816. Saat itu, jemaah kulit hitam dari Gereja Episcopal Metodis Emanuel me­mutuskan memisahkan diri dan membangun gereja sendiri setelah terlibat cekcok dengan jemaah kulit putih terkait lahan pemakaman.

Enam tahun kemudian, salah satu pendiri gereja itu dituduh terlibat dalam kasus pem­berontakan budak. Walaupun dia tidak dihu­kum, namun gereja itu sempat dibakar massa dan dibangun kembali tahun 1834.

(Yuska Apitya/net)