Untitled-5BANDUNG, Today – Terhentinya kompetisi yang berakhir pada sanksi FIFA membuat kerugian besar buat sepakbola Indonesia.

Tidak hanya ancaman pengang­guran dalam jumlah banyak, kondisi tersebut menjadikan terputusnya koneksi dengan dunia luar.

Djadjang Nurdjaman misalnya. Pelatih Persib saat ini teramat mera­sakan bagaimana terjegalnya karier kepelatihan untuk bisa menangangi tim luar.

Padahal, saat ada kesempatan, per­masalahan lisensi kepelatihan harus memupus harapannya. Pada sisi lain, saat ini dirinya tidak dapat mengikuti kurusus kepelatihan karena sanksi federasi sepakbola dunia ini.

“Untuk melatih klub luar negeri belum kepikiran. Soalnya saya ju­gakan masih terkendala lisensi, kan baru B (AFC) untuk ngambil lisensi A AFC juga terkendala sanksi FIFA. Kalau tawaran memang sempat ada, tapi saya anggap itu cuma obrolan bi­asa saja bukan sebuah tawaran,” kata pelatih yang karib disapa Djanur ini.

Baca Juga :  Federasi Sepakbola Wales Berduka, 1 Suporter Meninggal Dunia di Qatar

Akibatnya, ia pun hanya dapat ber­harap jika kondisi sepakbola Tanah Air kembali bergairah, dengan sele­sainya semua permasalahan saat ini. Khususnya segera dicabutnya sanksi FIFA kepada sepakbola Indonesia.

“Saya optimistis masalah persepakbolaan ini bisa segera se­lesai. Dengan begitu kompetisi bisa bergulir lagi, dan saya bisa kembali melatih. Harapan ini mungkin juga menjadi harapan semua orang yang memang merindukan kompetisi dan pertandingan lagi,” harapnya.

Seperti diketahui, setelah karut marut sepakbola Indonesia, beberapa pemain maupun pelatih berkesem­patan untuk unjuk gigi di luar negeri. Seperti langkah yang diambil pelatih Mitra Kukar, Rudy Eka Pryambada yang memutuskan hijrah untuk me­nukangi tim asal Bahrain, Al Najma.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Siapkan Bonus 309 Miliar Bagi Atlet Beprestasi di Asean Para Games 2022

Disinggung soal agenda anak asuhnya yang selama vakum melaku­kan kegiatan tarkam, Djanur tak bisa melarang. Hanya saja dia berharap pemainnya lebih hati-hati meng­hindarkan cedera.

“Ya selama belum ada kegiatan dan mereka ada kesempatan untuk main ya boleh-boleh saja,” ujar dia.

Selama bulan Ramadan ini, dia akan mengisi waktu mengikuti Liga Ngabuburit 2015 di Stadion Sidolig. Bukan sebagai pelatih, namun Djanur akan berperan menjadi pemain.

“Ya gabung dengan grup Disyan­jak, besok main, turnamen ini buat ngabuburit saja,” ujar dia.

Lebih jauh, Djanur menyatakan kini tengah menunggu keputusan manajemen, soal kepesertaan di tur­namen Piala Presiden 2015.

“Belum siap, karena sayanya be­lum dapat instruksi dari manajemen, jadi ya saya belum mulai bergerak,” pungkas dia.

(Imam/net)