Opini-2-AliKETIKA seseorang berpuasa, dia belajar mengendalikan emosinya, belajar mendisiplinkan diri agar terhindar dari penyakit hati dan omongan yang tidak berguna, belajar berjiwa ikhlas dan berperilaku jujur dalam segala aspek kehidupannya.

Oleh: ALI KHOMSAN
Guru Besar Pangan dan Gizi, FEMA IPB

Keimanan seseorang meningkat berlipat ganda di bulan puasa. Pada bulan ini, umat Islam berbondong-bondong ke masjid untuk beriba­dah. Mereka tidak merasa berat untuk berzakat dan bersedekah serta berlomba-lomba menyan­tuni anak yatim. Keimanan ini ha­rusnya dijaga terus untuk 11 bulan berikutnya.

Puasa dan Lebaran ternyata juga identik dengan naiknya harga barang dan makanan. Kekhusyu­kan Ramadan terganggu dengan gerutu karena ketidakberdayaan ekonomi. Bagi pedagang, puasa ialah saatnya menjual barang-barang lebih mahal daripada bi­asanya.

Sebenarnya, para pedagang bisa berkontribusi untuk mem­bahagiakan umat Islam yang ber­puasa dan nantinya menyongsong Lebaran, yaitu dengan tidak ber­lebihan dalam mencari keuntun­gan. Demand sudah pasti akan tinggi pada bulan puasa. Oleh se­bab itu, dengan laba yang standar pun mereka akan mendapatkan omzet yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan bulan-bulan lain. Hanya karena keserakahan akan harta, mereka tidak merasa bersalah menaikkan harga barang atau makanan secara tidak wajar di bulan puasa.

Masyarakat konsumen Indo­nesia dalam banyak hal juga tidak rasional dalam menyambut puasa dan Lebaran. Banyak yang ber­prinsip penghasilan setahun akan dihabiskan untuk menyongsong hari kemenangan. Oleh sebab itu, setinggi apa pun harga barang/ pangan yang ditawarkan, akan dibeli demi kebahagiaan seluruh anggota keluarga.

Perilaku seperti itu identik dengan memanjakan para peda­gang. Mereka sudah memahami pola psikologis konsumen, yaitu menghambur-hamburkan uang pada bulan puasa menjelang Lebaran. Kenaikan harga di mata pedagang menjadi ritual tahunan yang mendatangkan keuntungan berlipat ganda. Pedagang juga sering kali menaikkan harga saat gaji pegawai naik, saat terjadi shortage supply, atau saat adanya kenaikan harga bahan baku di pas­ar internasional.

Baca Juga :  HIKMAH TRAGEDI KANJURUHAN MALANG

Apakah kenaikan harga ini sei­ring dengan kemakmuran rakyat? Kesejahteraan PNS meski cend­erung membaik, bukannya tanpa masalah. Sebagai contoh, guru belum bisa menerima tunjan­gan sertifikasi secara rutin setiap bulan. Mereka selalu berharap-harap cemas, kapan pemda akan mencairkan tunjangan sertifikasi yang menjadi hak guru. Benarkan pemerintah serius untuk membe­nahi program sertifikasi? Mengapa pembayarannya tersendat-send­at? Di mana letak kesalahannya, di pihak Kemendikbud atau pemda? Kalau pemda memang terkesan menghambat pembayaran sertifi­kasi, sebaiknya dilakukan sentral­isasi langsung oleh Kemendikbud.

Buruh-buruh yang bekerja di industri swasta juga tidak kalah runyam nasibnya. Dengan sistem yang kini banyak diterapkan pe­rusahaan, buruh tidak memiliki masa depan yang jelas. Karut-marut ekonomi masyarakat ini akan mendorong merebaknya kantongkantong kemiskinan baru.

Nasib Orang Miskin

Pada bulan puasa, sebagian umat Islam mengeluarkan zakat dan sedekahnya. Gerakan zakat di kalangan umat Islam selama ini belum terorganisasi secara optimal.Jutaan umat Islam yang hidup berkecukupan ternyata tidak mampu mengentaskan saudara-saudaranya yang dilanda kemiskinan.

Orang masih suka berzakat dan bersedekah dengan mengun­dang orang miskin ke rumahnya. Antrean orang miskin yang me­manjang dan berjubel terkadang malah menimbulkan bencana karena mereka harus berdesak-desakan.

Mengapa kita tidak memer­cayai lembaga amil zakat? Karena kita semua mengalami krisis ke­percayaan. Kita tidak percaya ke­pada birokrat yang kini semakin marak diberitakan tersangkut uru­san korupsi. Sementara KPK yang selama ini menjadi tumpuan ha­rapan masyarakat dalam memer­angi korupsi, para pemimpinnya tersandera kasus-kasus kriminal yang di mata orang awam tampak aneh, tapi perkaranya tetap dilan­jutkan untuk diproses.

Baca Juga :  HIKMAH TRAGEDI KANJURUHAN MALANG

Puasa harus dilakukan dengan jiwa ikhlas. Salah satu tanda ikhlas ialah tidak mudah kecewa. Saat ini banyak di antara kita menjadi in­dividu yang selalu kecewa, kecewa mengapa harga barang selalu naik di bulan puasa, kecewa mengapa program pengentasan kemiskinan tiada kunjung datang hasilnya, dan masygul karena banyaknya anggota dewan yang terhormat melakukan perbuatan tidak ter­hormat.

Bangsa ini harus segera ban­ting setir dan lebih tegas memer­angi segala bentuk penyelewen­gan. Bangsa ini harus segera mewujudkan kesejahteraanan keadilan bagi seluruh anggota ma­syarakatnya. Bangsa ini mempu­nyai PR besar, yakni membangun generasi jujur dan amanah.

Kejujuran sudah menjadi ba­rang langka di negeri ini. Kete­ladanan para pemimpin semakin sulit dicari. Yang ditemukan jus­tru pemimpin-pemimpin yang kemaruk harta. Mereka ialah orang-orang pintar otaknya, teta­pi kurang cerdas hatinya. Mereka ialah orang-orang yang menjadi­kan puasa sekadar sebagai ritual. Makna kejujuran di balik puasa tidak diimplementa sikan dalam perikehidupan di tempat kerja.

Perilaku sebagian pemimpin-pemimpin kita yang lupa akan amanah dan melalaikan hakikat kejujuran, membuat rakyat ter­sakiti hatinya dan semakin kurang rasa hormatnya pada pemimpin. Kita trenyuh melihat pemimpin-pemimpin yang perutnya tidak pernah kenyang dengan yang se­dikit, dan nafsunya tidak pernah puas dengan yang banyak.

Ramadan harus memberikan pembelajaran untuk hidup yang lebih baik. Ramadan merupakan waktu untuk mengoreksi diri dan meningkatkan mutu pribadi kare­na selama 11 bulan kita barangkali telah menjalani kesibukan dan ke­giatan yang tidak jelas. Ramadan menjadi kawah candradimuka agar kita menjadi insan kamil atau insan paripurna. Oleh karena itu, siapa pun yang tidak introspeksi diri pada bulan Ramadan, pasti hanya akan mengulang-ulang per­buatan salahnya di bulan-bulan yang akan datang. (*)