Ilustrasi-Hikmah-2AKIBAT menolak diangkat menjadi hakim, Abu Hanifah ditangkap. ‘Ulama Ahli Hukum Islam itu pun di penjara. Sang Penguasa ru­panya marah besar hingga menjatuhkan hu­kuman yang berat kepadanya.

Dalam penjara, ‘Ulama besar itu setiap hari mendapat siksaan dan pukulan. Abu Hanifah sedih sekali. Yang membuatnya se­dih sebenarnya bukan karena siksaan yang diterimanya, melainkan karena cemas me­mikirkan Ibunya. Beliau sedih kerena ke­hilangan waktu untuk berbuat baik kepada Ibunya. Setelah masa hukumannya berakhir, Abu Hanifah dibebaskan. Ia bersyukur dapat bersama Ibunya kembali.

“Ibu, bagaimana keadaanmu selama aku tidak ada ?” tanya Abu Hanifah.

“Alhamdulillah……Ibu baik-baik saja,” jawab Ibu Abu Hanifah sambil tersenyum.

Abu Hanifah kembali menekuni ilmu Agama Islam. Banyak orang yang belajar ke­padanya. Akan tetapi, bagi Ibu Abu Hanifah ia tetap hanya seorang Anak. Ibunya men­ganggap Abu Hanifah bukanlah seorang ‘Ulama besar. Abu Hanifah sering mendapat teguran. Anak yang taat itu pun tak pernah membantahnya. Suatu hari, Ibunya ber­tanya tentang wajib dan sahnya shalat. Abu Hanifah lalu memberi jawaban. Tetapi, Ibu­nya tidak percaya meskipun Abu Hanifah berkata benar.

“Aku tak mau mendengar kata-katamu,” ucap Ibu Hanifah. “Aku hanya percaya pada fatwa Zar’ah Al Qas,” katanya lagi. Zar’ah Al Qas adalah seorang ‘Ulama yang pernah be­lajar ilmu Hukum Islam kepada Abu Hanifah. “Sekarang juga antarkan aku ke rumahnya,” pinta Ibunya.

Mendengar ucapan Ibunya, Abu Hanifah tidak kesal sedikit pun. Abu Hanifah mengan­tar Ibunya ke rumah Zar’ah Al Qas. “Sauda­raku Zar’ah Al Qas, Ibuku meminta fatwa tentang wajib dan sahnya shalat,” kata Abu Hanifah begitu tiba di rumah Zar’ah Al Qas.

Zar’ah Al Qas terheran-heran, kenapa Ibu Abu Hanifah harus jauh-jauh datang ke rumahnya hanya untuk pertanyaan itu ? Bu­kankah Abu Hanifah sendiri seorang ‘Ulama ? Sudah pasti putranya itu dapat menjawab dengan mudah. “Tuan, Anda kan seorang ‘Ulama besar ? kenapa Anda harus datang kepadaku ?” tanya Zar’ah Al Qas. “Ibuku hanya mau mendengar fatwa dari anda,” sa­hut Abu Hanifah.

Zar’ah tersenyum, ”Baiklah, kalau begitu jawabanku sama dengan fatwa putra anda,” kata Zar’ah Al Qas akhirnya. “Ucapkanlah fatwamu,” kata Abu Hanifah tegas.

Lalu Zar’ah Al Qas pun memberikan fat­wa. Bunyinya sama persis dengan apa yang telah diucapkan oleh Abu Hanifah. Ibu Abu Hanifah bernafas lega. “Aku percaya kalau kau yang mengatakannya,” kata Ibu Abu Hanifah puas. Padahal, sebetulnya fatwa dari Zar’ah Al Qas itu hasil ijtihad (mencari dengan sungguh-sungguh) putranya sendiri, Abu Hanifah.

Dua hari kemudian, Ibu Abu Hanifah me­nyuruh putranya pergi ke majelis ‘Umar bin Zar. Lagi-lagi untuk menanyakan masalah aga­ma. Dengan taat, Abu Hanifah mengikuti per­intah Ibunya. Padahal, ia sendiri dapat men­jawab pertanyaan Ibunya dengan mudah.

‘Umar bin Zar merasa aneh. Hanya untuk mengajukan pertanyaan Ibunya, Abu Hani­fah datang ke majelisnya. “Tuan, Andalah ahlinya. Kenapa harus bertanya kepada saya ?” kata ‘Umar bin Zar.

Abu Hanifah tetap meminta fatwa ‘Umar bin Zar sesuai permintaan Ibunya. “Yang pasti, hukum membantah orang tua adalah dosa besar,” kata Abu Hanifah. ‘Umar bin Zar termangu. Ia begitu kagum akan keta­atan Abu Hanifah kepada Ibunya. “Baiklah, kalau begitu apa jawaban anda atas pertan­yaan Ibu Anda ?”

Abu Hanifah memberikan keterangan yang diperlukan. “Sekarang, sampaikanlah jawaban itu pada Ibu anda. Jangan katakan kalau itu fatwa anda,” ucap ‘Umar bin Zar sambil tersenyum. Abu Hanifah pulang membawa fatwa ‘Umar bin Zar yang sebet­ulnya jawabannya sendiri. Ibunya memper­cayai apa yang diucapkan ‘Umar bin Zar.

Hal seperti itu terjadi berulang-ulang. Ibunya sering menyuruh Abu Hanifah mendatangi majelis-majelis untuk menan­yakan masalah agama. Abu Hanifah selalu menaati perintah Ibunya. Ibunya tidak pernah mau mendengar fatwa dari Abu Hanifah meskipun Beliau seorang ‘Ulama yang sangat pintar. (*)