Untitled-3Berbagai penelitian telah mengungkap adanya mukjizat puasa ditinjau dari perpekstif medis modern. Dalam penelitian ilmiah, tidak ditemukan efek merugikan dari puasa Ramadhan pada jantung, paru, hati, ginjal, mata, profil endokrin, hematologi dan fungsi neuropsikiatri.

Oleh : RIFKY SETIADI
Email: [email protected]

Bulan Ramadhan ada­lah bulan yang paling dinanti oleh umat mus­lim. Saat itu, dianggap sebagai bulan yang penuh berkah dan rahmah. Se­mua umat muslim yang sehat dan sudah akil balik diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh. Meski­pun untuk sebagian orang ibadah puasa cukup berat, tetapi terdapat keistimewaan untuk mendapatkan hikmah dari Allah berupa kebaha­gian, pahala berlipat, dan bahkan suatu muhjizat dalam kesehatan.

Allah berjanji akan memberi­kan berkah kepada orang yang berpuasa. Seperti ditegaskan sab­da Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim: “Berpuasalah maka kamu akan sehat.” Dengan berp­uasa, akan diperoleh manfaat se­cara biopsikososial berupa sehat jasmani, rohani dan sosial. Rahasia kesehatan yang dijanjikan dalam berpuasa inilah yang menjadi daya tarik ilmuwan untuk meneliti berb­agai aspek kesehatan puasa secara psikobiologis, imunopatofisilogis dan biomolekular.

Para pakar nutrisi dunia men­definisikan puasa atau kelapa­ran (starvasi) sebagai pantangan mengkonsumsi nutrisi baik secara total atau sebagian dalam jangka panjang atau jangka pendek. Se­dangkan konsep puasa dalam Islam secara substansial adalah menahan diri tidak makan, minum dan berhubungan suami istri mulai terbit fajar hingga terbenam mata­hari dengan disertai niat. Sehingga puasa memiliki perbedaan diband­ingkan starvasi biasa. Beberapa mukjizat yang dibuktikan adalah:

Keseimbangan Anabolisme dan Katabolisme

Berbeda dengan kelaparan atau starvasi dalam berbagai ben­tuk dapat mengganggu kesehatan tubuh. Namun sebaliknya, dalam puasa ramadhan terjadi keseim­bangan anabolisme dan katabo­lisme yang berakibat asam amino dan berbagai zat lainnya mem­bantu peremajaan sel dan kom­ponennya memproduksi glukosa darah dan mensuplai asam amino dalam darah sepanjang hari. Ca­dangan protein yang cukup dalam hati karena asupan nutrisi saat buka dan sahur akan tetap dapat menciptakan kondisi tubuh un­tuk terus memproduksi protein esensial lainnya seperti albumin, globulin dan fibrinogen.

Baca Juga :  Sering Konsumsi Minuman Ini Bikin Cepat Tua, Apa Saja?

Tidak Akan Mengakibatkan Pengasaman dalam Darah

Kemudian juga berbeda den­gan starvasi, dalam puasa Islam pe­nelitian menunjukkan asam amino teroksidasi dengan pelan dan zat keton tidak meningkat dalam da­rah sehingga tidak akan mengaki­batkan pengasaman dalam darah.

Tidak Berpengaruh pada Sel Da­rah Manusia

Dalam penelitian, saat puasa tidak berpengaruh pada sel da­rah manusia & tidak terdapat per­bedaan jumlah retikulosit, volume sel darah merah serta rata-rata kon­sentrasi hemoglobin (MCH, MCHC) dibandingkan dengan orang yang tidak berpuasa.

Puasa pada Penderita Diabetes Tipe 2

Puasa ramadhan pada pend­erita diabetes tipe 2 tidak berpen­garuh dan tidak terdapat perbedaan protein gula, protein glikosilat dan hemoglobin glikosilat. Namun pada penderita diabetes tipe tertentu sebaiknya harus berkonsultasi den­gan dokter bila hendak berpuasa.

Pengaruh pada Ibu hamil dan menyusui

Terdapat sebuah penelitian puasa pada ibu hamil, ibu menyu­sui, dan kelompok tidak hamil dan tidak menyusui di perkampungan Afika Barat. Ternyata dalam pe­nelitian tersebut disimpulkan tidak terdapat perbedaan kadar glukosa serum, asam lemak bebas, triglis­erol, keton, beta hidroksi butirat, alanin, insulin, glucagon dan hor­mon tiroksin.

Pengaruh pada Janin

Penelitian di Departemen Ob­stetri dan Ginekologi dari Gaziant­ep University Hospital, terhadap 36 wanita sehat dengan kehamilan tanpa komplikasi berturut-turut dari 20 minggu atau lebih, yang berpuasa selama bulan Ramadhan untuk mengevaluasi efek Ramadan pada janin, pengukuran Doppler ul­trasonografi dalam peningkatan di­ameter biparietal janin (BPD), pen­ingkatan panjang tulang paha janin (FL), meningkatkan berat badan diperkirakan janin (EFBW), profil biofisik janin (BPP), indeks cairan amnion (AFI), dan rasio arteri um­bilikalis sistol / diastol (S / D) rasio.

Baca Juga :  Ternyata Ini Dia Makanan yang Bisa Bikin Kulit Rusak, Salah Satunya Nasi

Pengaruh pada Fungsi Kelenjar Gondok

Ketika berpuasa ternyata juga terbukti tidak berpengaruh pada fungsi kelenjar gondok manusia. Hasil penelitian menunjukkan bah­wa tidak terdapat perbedaan kadar plasma tiroksin (TS),tiroksin bebas, tironin triyodium dan hormon perangsang gondok (TSH) pada penderita laki-laki yang berpuasa.

Pengaruh pada Hormon Virgis­teron

Sedangkan pada penelitian hormon wanita tidak terjadi gang­guan pada hormon virgisteron saat melaksanakan puasa. Tetapi, 80% populasi penelitian menunjukkan penurunan hormon prolaktin. Penelitian ini menunjukkan hara­pan baru bagi penderita infertili­tas atau kemandulan wanita yang disebabkan peningkatan hormon prolaktin. Sehingga saat puasa, wanita tetap berpeluang besar un­tuk tetap pada kondisi subur.

Bermanfaat Bagi Jantung

Beberapa penelitian menye­butkan sebenarnya tidak terdapat perbedaan yang mencolok saat berpuasa dibandingkan saat tidak berpuasa. Puasa Ramadhan tidak mempengaruhi secara drastis metabolisme lemak, karbohidrat dan protein. Meskipun terjadi peningkatan serum uria dan asam urat sering terjadi saat terjadi de­hidrasi ringan saat puasa. Saat berpuasa ternyata terjadi pening­katan HDL dan apoprotein alfa1. Penurunan LDL sendiri ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Beberapa penelitian “chrono­biological” menunjukkan saat puasa Ramadhan berpengaruh ter­hadap ritme penurunan distribusi sirkadian dari suhu tubuh, hor­mon kortisol, melatonin dan gli­semia. Berbagai perubahan yang meskipun ringan tersebut tampa­knya juga berperan bagi peningka­tan kesehatan manusia.

Berbagai kajian ilmiah melalui penelitian medis telah menunjuk­kan bahwa ternyata puasa sebu­lan penuh saat bulan ramadhan bermanfaat sangat luar biasa bagi tubuh manusia. Manfaat puasa bagi kesehatan sebagian telah ter­bukti secara ilmiah. Wajar saja, bahwa puasa adalah saat yang pal­ing dinantikan oleh kaum muslim karena memang terbukti secara ilmiah menjanjikan berkah dan mukjizat dalam kesehatan manu­sia. (*)