kebakaran-komnas-PA-1JAKARTA, TODAY — Kantor Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) nyaris ludes ter­bakar. Kerugian material di­taksir kurang dari Rp1 miliar, namun belasan ribu data ten­tang anak ikut ludes. Aparat kepolisian menduga, keba­karan disengaja oleh oknum yang berkepentingan untuk melenyapkan data.

“Ada 12 ribu data di situ 4 tahun, itu yang kerugian terbesar,” jelas Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait dalam jumpa pers di Aula Gedung Komnas PA, Jl TB Simatupang, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Minggu (28/6/2015). Kebakarannya sendiri terjadi Sabtu malam.

Aula dan ruang sekretariat Komnas PA tidak terjamah api pada kebakaran ini. Arist menjelaskan, dalam kebakaran besar tahun 2009 lalu (arsip detikcom, red) data hingga tahun 1998 habis semua. Sedangkan untuk kebakaran tahun ini, data yang terbakar hingga tahun 2010. “Sungguh amat luar biasa, tahun 2010-2014 ada data dari anak-anak Indonesia yang terbakar, maka kami berutang pada anak Indonesia,” jelas Arist.

Ada 4 ruangan Komnas PA yang ludes terbakar termasuk ruang gudang data. Api timbul pada sekitar pukul 19.00-20.00 WIB.

Gedung ini masih di bawah pengelolaan Kementerian Sosial (Kemensos). Dulunya adalah gedung Diklat Kemensos. “Iya itu asetnya Kemensos. Dulu kantor diklat,” jelas Dirjen Rehabilitasi Sosial Kemensos, Sam­sudi, Minggu (28/6/2015).

Komnas PA, imbuh Samsudi, dulu­nya merupakan bagian dari Kemensos, dan mendapatkan kantor di Pasar Rebo. Seperti halnya Komnas Perempuan yang mendapat­kan kantor di wilayah Salemba.

Dengan terbakarnya gedung Komnas PA ini, Kemensos belum bisa menentukan langkah ke depan. “Belum tahu akan diperbaiki atau bagaimana. Itu sih nggak ada asuransi,” jelas dia.

Sedangkan rumah dinas, Samsudi mengatakan, sudah tidak ada rumah dinas di kawasan itu yang dikelola Kemensos. “Rumahnya sudah habis, sudah dimiliki semua. Itu kan sejak zaman dulu tahun 1970-an,” jelas dia.

Baca Juga :  Inilah Jenis Yoghurt yang Baik untuk Diabetes, Simak Ini

“Kemungkinan petasan. Bisa juga listrik. Hanya saja pas kejadian, listrik masih me­nyala, jadi mungkin bukan karena listrik,” kata Office Manager Komnas PA, Indriyarto Endar, di kantor Komnas PA, Jl TB Simatu­pang, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Minggu (28/6/2015).

Saat kejadian, antara pukul 19.30-20.00 WIB, Indriyarto dan pekerja mengaku ten­gah salat tarawih. Mereka datang setelah api menyambar bagian atas kantor. “Kami sempat menyelamatkan tabung gas, jadi bu­kan tabung penyebabnya,” jelasnya.

Staf Komisi PA sempat mendengar su­ara berisik di genteng sebelum kebakaran terjadi. Suara berisik itu berasal dari bagian ruang paling belakang Komnas PA. “Ada kaya bunyi berisik di genteng ruang paling belakang. Setelah itu terlihat percikan api, kemudian makin lama makin besar,” kata staf Komnas PA, Indah di lokasi kebakaran, Jalan TB Simatupang, Pasar Rebo.

Suara berisik di genteng itu muncul sekitar pukul 20.00 WIB. Indah menunjuk­kan ruangan tempat asal api adalah ruangan paling belakang, persis di sebelah kamar mandi. Ruangan itu sehari-harinya ditem­pati pegawai Kemensos bernama Caca (50).

Dibakar Oknum

Komnas PA tak menutup kemungkinan bahwa kebakaran ini merupakan aksi teror yang tak senang melihat sepak terjang Kom­nas PA. Komnas PA meminta perlindungan Presiden agar aktivisnya tak diteror.

“Saya minta pihak keamanan bahkan Presiden RI mohon lindungi aktivis-aktivis Komisi Perlindungan Anak agar teror-teror ini tak terjadi,” jelas Arist Merdeka Sirait.

Arist tampak didampingi Dewan Kon­sultatif Komnas PA, Seto Mulyadi. Bila se­belum kebakaran besar pada 2008 lalu, Kak Seto sempat menerima ancaman 10 hari sebelum kebakaran, bagaimana dengan ke­bakaran saat ini? “Banyaklah. Di mobil, di televisi dan segala macam tapi kami abai­kan. Kami ini sahabat anak, jadi kami tak pedulikan itu,” jawab Arist tegas.

Baca Juga :  Mayat Tanpa Identitas Ditemukan di Sungai Bogowonto Purworejo

Kasus terbesar saat kebakaran melanda Komnas PA pada 2008 lalu adalah soal tes DNA. “Saya tidak mau menyebutkan (DNA) siapa,” imbuh Arist.

Sedangkan kasus ‘hot’ yang sedang di­advokasi Komnas PA, diakui Arist adalah kasus kematian Engeline. Komnas PA akan mengawal kasus Engeline sampai selesai meski risikonya diteror.

“Faktanya Komnas PA sedang mengawal kasus Engline yang terbunuh di tempat itu. Mengapa anak yang sudah 5 hari di situ ng­gak bisa tercium dan ketemu. Saya senang kalau Pak Kapolda bilang ke saya ada ter­sangka baru. Soal arus pendek atau apa pe­nyebabnya saya nggak peduli itu, yang pent­ing kasus Engline terungkap,” tegas dia.

Dewan Konsultatif Komnas PA sempat memastikan data kasus Engeline hangus. Namun, Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait masih menyimpan semuanya. “Kalau ada (kebakaran ini) unsur kesengajaan, ba­hasanya kecele. Copy dan data-data semua masih ada di saya termasuk data-data ten­tang Engeline,” jelas Arist.

Faktanya, sejak 16 Mei 2015, Komnas PA sudah terlibat advokasi kasus bocah Engeline, yang ditemukan tewas di halaman rumah orangtua angkatnya. “Fakta kedua sejak 10 Juni, ada masyarakat yang men­dorong Komnas PA yang menyatakan Eng­line dikubur di rumah ibu angkatnya. Dan menanyakan fakta dan motivasi dari kema­tian Engline,” tuturnya.

Namun, dia tidak tahu apakah keba­karan ini ada kaitan dengan kasus Engeline. Yang jelas, Komnas PA tetap akan menga­wal kasus Engeline sampai selesai. “Ini tidak main-main. Saya tidak tahu apakah ada kai­tannya (pengungkapan kematian Engline). Kapolda Bali tadi malam sudah mengantongi tersangka baru. Bagi saya bukan itunya na­mun bagaimana mengungkap tabir ini,” tan­das dia.

(Yuska Apitya Aji/dtk)