ekbisJAKARTA, TODAY — Ekonomi nasinal boleh lesu. Tetapi batik tetap laris manis. Paling ti­dak ini terlihat di Gelar Batik Nusantara (GBN) 2015 yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta, Minggu (28/6/2015)

Acara ini ber­hasil menyedot animo penggemar batik. Terbukti pameran batik yang dihelat selama 5 hari pada 24-28 Juni 2015 ini berhasil meraup omzet hingga Rp 28 miliar. “Di tengah ekonomi kita yang sedang lesu, minat belanja batik masyarakat tetap tinggi. Terbukti selama 5 hari pameran ini omzet dari 350 stand mencapai Rp 28 miliar. Ini bahkan naik dari tahun sebelumnya yang hanya Rp 22 miliar,” ujar Ratna Djoko Suyanto, Ketua Panitia GBN, sekaligus Ket­ua Yayasan Batik Indonesia (YBI) dalam sambutan penutupan GBN 2015 di JCC.

Pengunjung terus menga­lir hingga hari terakhir pameran. Meski secara resmi pameran tel­ah ditutup, namun pengunjung masih bisa membeli dari stan-stan peserta hingga pukul 21.00 WIB tadi malam.

“Jumlah pengunjung yang borong batik tetap tinggi. Pen­gunjung bahkan saya lihat nggak cuma beli 5-10 potong, tapi lebih dari itu, sampai tadi bawa koper,” terangnya.

Ratna mengungkapkan, gelar­an 2 tahunan ini menampilkan kreasi yang semakin kreatif dan inovatif. “Tahun ini para peserta menampilkan kreasi yang luar biasa. Batik semakin akrab dengan masyarakat dari berbagai kalan­gan dan usia,” imbuhnya.

Baca Juga :  Ironis! Gadis 15 Tahun Disetubuhi 3 Lelaki, Teman-temannya Malah Tertawa

GBN kali ini turut memberi penghargaan batik inovatif dan kreatif yang diraih Batik Pohon, Batik Pakualaman, Batik Warisan, dan Batik Handmade.

Lebih dari 350 pengusaha, perajin, dan kolektor berkumpul pada gelaran GBN 2015. Pameran ini menyuguhkan kekayaan batik seantero tanah air.

Bertemakan ‘Batik, Pemer­satu Bangsa’, hingga hari terakhir pelaksanaan pengunjung terus mengalir. Salah satu peserta pam­eran, Enchanted Batik milik Erie P Soeprapto, unjuk koleksi batik tulis Jawa kuno. Koleksi batiknya rata-rata dari era 1890-1920an. Butik batik antik ini memajang beberapa batik asal Lasem dan Pekalongan.

Seorang staf menunjukkan selembar kain batik berwarna me­rah muda bercorak kera. “Batik ini dari sentra batik lawas di Lasem, Jawa Tengah. Dibuat sekitar tahun 1900-an. Batik berbahan katun ini harganya Rp 45 juta,” jelasnya.

Kain batik antik Jawa banyak diminati dari Lasem, Yogyakarta, Pekalongan dan daerah pesisir Pantura. Erie mengaku telah men­goleksi 1000-an batik tulis lawas. Berawal dari kegemarannya men­goleksi batik, kini telah berubah menjadi bisnis menjanjikan den­gan pangsa pasar khusus kolektor batik.

“Batik di Indonesia sudah ada sejak abad 17. Kerjaan orang Jawa itu dulu mbatik. Coraknya sangat beragam mulai dari flora, fauna sampai kisah peperangan,” pa­parnya.

Ia mencontohkan sebuah koleksi unik dari Enchanted Ba­tik bermotif cerita dari komik era 1980-an berjudul Flash Gordon. “Apapun bisa jadi ide motif batik, termasuk komik lawas Flash Gor­don. Jaman dulu, batik juga jadi media melukiskan peperangan nyata yang terjadi pada masa itu,” jelasnya.

Baca Juga :  Resep Membuat Sambal Ijo Ayam Geprek

Corak batik pun bisa terpen­garuh dari saudagar pemilik usaha batik. Kalau saudagarnya dari Chi­na, maka motifnya bisa jadi bunga atau wanita China. Kalau dari Eropa, bisa bermotif binatang, potret alam, atau gadis Eropa.

Erie menjelaskan, para pemi­nat koleksinya merupakan sesama kolektor baik lokal maupun asing seperti Jerman dan Amerika Seri­kat. Ia mengumpulkan kain-kain antik ini dari dari pedagang di dae­rah-daerah seperti Pekalongan, Lasem, Cirebon, Indramayi, Tegal, Jogja, Solo, dan Banyumas.

Kemahalan batik tulis, menu­rut Erie ditentukan dari beberapa faktor. Batik tulis lawas makin ma­hal karena usia, keunikan motif, kelangkaan, dan halusnya gara­pan. Harganya Rp 10-50 juta.

Erie berkisah, batik pada masa lalu turut menjadi penanda status sosial. Ada beberapa motif yang bahkan tidak boleh dipakai oleh sembarang orang.

“Ada motif tertentu misalnya batik keraton yang tidak boleh dikenakan selain keluarga Keraton Solo atau Yogyakarta. Sedangkan di pesisir, seseorang yang men­genakan batik makin halus dan ba­gus berharga mahal menandakan orang kaya,” terangnya.

(Alfian M|net)


1 KOMENTAR

Comments are closed.