Untitled-10

BOGOR, TODAY — Menghadapi bulan suci Ramadan, Polres Bogor dan Polres Bogor Kota menyatakan Bo­gor dalam status darurat uang palsu (upal). Mengantisipasi per­luasan wilayah edar, Polres Bogor Kota membentuk tim khusus pemberan­tasan uang palsu.

Ka­polres Bogor Kota, AKBP Irsan mengatakan, langkah antisipasi pencegahan upal di Kota Bogor, telah diben­tuk satu tim. Selain itu, anggota Babinkamtibmas juga diberi tugas tambahan dengan men­datangi warga, untuk memberi penjelasan, agar paham mana uang asli dan uang palsu.

“Selain tim khusus, anggota Babi­nkamtibmas di setiap Polsek, akan men­datangi warga. Nanti anggota Polsek ini mem­beri pemahaman kepada warga, dimana letak perbedaan uang asli dan pal­su,” ujar AKBP Irsan Minggu (31/5/2015).

Memberi pemahaman kepada warga dilakukan anggota Babinkamtimas, agar ma­syarakat jangan tertipu. “Pedagang di pasar tradisional atau pedagang yang membuka kios di rumahnya, loket gerbang tol (GT), akan menjadi target pelaku peredaran upal.

Modus lain, membeli bensin dengan uang nominal besar, padahal hanya beli 1 li­ter bensin. Namun modus ini akan gampang diketahui. Kalau di pasar dan kios kecil, bisa dengan mudah dilakukan pelaku pengedar uang palsu,” papar Irsan.

Ia mengimbau, jika ada pembeli yang hanya beli air mineral 1 botol kecil, namun membayar dengan mata uang nominal be­sar, maka pemilik warung harus melihat dengan cermat atau meraba serat uang hingga meneropongnya.

Bagi masyarakat yang memegang uang palsu namun tidak melapor ke polisi, maka bisa dikategorikan sebagai pengedar, jika nantinya ditangkap. “Kalau dapat upal, segera lapor agar polisi lakukan penyilidikan. Kalau menyimpan, bisa dikategorikan sebagai pengedar. Tidak perlu takut melapor, karena temuan lembar uang palsu, tidak akan mem­buat masyarakat dituduh sebagai pengedar. Logikanya, tidak mungkin pengedar upal akan melaporkan aksi jahatnya,” ujar Irsan.

Baca Juga :  Tahun 2022 TPPAS Lulut Nambo Mulai Beroperasi, Pemkab Bogor Dijatah 260 Ton Sampah Per Hari

Ia menambahkan, adanya kemiripan yang nyaris sempurna antara uang asli dan palsu, menuntut kewaspadaan tinggi. “Ke­napa peredaran uang palsu tinggi jelang hari raya, karena pada saat hari besar ke­agamaan, tingkat konsumsi masyarakat se­makin tinggi. Kebutuhan warga tinggi, maka sudah otomatis perputaran uang akan me­ningkat,” tandasnya.

Pangsa bisnis edar uang palsu menjelang Ramadhan di Bogor memang menggila. Pekan lalu, Polsek Megamendung menyisir kawasan Puncak. Razia uang palsu dilakukan ke sejum­lah pusat perbelanjaan di Kawasan Wisata Puncak. Hasilnya, polisi mengeruk Rp 5,9 juta dari warga Kampung Simpang, Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. “Tersangka di­tangkap saat hendak bertransaksi mengedar­kan uang palsu sebanyak 215 lembar dengan pecahan Rp 20 ribu senilai Rp 5,9 juta,” kata Kapolsek Megamendung, AKP Asyikin.

Asyikin juga mengatakan, polisi juga ber­hasil menyita satu unit komputer dan mesin printer diduga sebagai alat untuk mem­produksi duit palsu. “Awal penangkapan berasal dari laporan salah satu pemilik wa­rung di Gadog, Megamendung yang merasa tertipu. Uang yang pelaku berikan saat ber­belanja di warungnya setelah dicek ternyata palsu. Selanjutnya anggota mengejar pelaku dan menangkapnya di warung kelontong di Jalan Raya Tajur, Bogor Selatan, Kota Bogor,” ujar Asyikin. “Apakah melibatkan sindikat yang lebih besar, itu sedang kita selidiki. Bahkan, ada satu pelaku lagi yang merupak­an rekannya sebagai pemasok upal berinisial ED itu masih kita kejar,” sambungnya.

Asyikin mengimbau masyarakat mewaspa­dai maraknya peredaran uang palsu menjelang Ramadhan dan Lebaran. “Masyarakat harus lebih waspada dan selalu mengecek kembali uang yang hendak dijadikan alat transaksi, guna menghindari penipuan,” ucap Asyikin.

Baca Juga :  Ekspor Tanaman Hias di Kabupaten Bogor Semakin Diminati, Petani Raup Untung 200 Hingga 300 Juta Per Hari

BI Sebar Edaran

Staf Deputi Keuangan pada Bank In­donesia (BI), Aswin Kosotali dan Tri Adi Ri­yanto menyampaikan edaran bagaimana cara membedakan uang asli dan palsu. Hal tersebut berdasarkan hasil temuan polisi di sejumlah daerah.

Ciri-ciri khas uang rupiah bisa dikenali dengan unsur pengalaman. Cara menge­nalnya dengan metode 3D (diterawang, di­raba, dilihat) atau pakai alat sederhana sep­erti lup. “BI sudah melakukan pemeriksaan terhadap barang bukti, barang bukti tidak memenuhi ciri-ciri keaslian di BI. Barang ini bisa dikenali dengan mudah 3D,” ungkap As­win di Polres Jakarta Selatan.

Warna uang kertas palsu hasil tidak se­tajam atau sebagus uang asli. Pada uang asli bisa dilihat pada bagian kiri bawah ada optical variable x. Proses atau teknik cetak uang asli dengan pigment tinta khusus. Den­gan begitu bisa dikatakan warnanya akan berubah-ubah seiring perubahan sudut pan­dang mata kita.

Begitu juga dengan benang pengaman uang asli. Benar itu akan berubah warna kalau dilihat dari sudut pandang tertentu. “Kalau palsu tidak menghasilkan efek pe­rubahan warna. Kalau yang asli terasa kasar, karena dicetak dengan tinta khusus. Lam­bang negara harusnya juga kasar,” tuturnya.

Selain itu jika kertas palsu kita terawang, ada tanda airnya yang dicetak dengan teknik sablon. Sedangkan uang asli ada tekstur khusus yang membuat permukaan kertas timbul. Hal tersebut yang membuat kertas terasa ada tekstur kasar ketika merabanya.

Proses pembuatan tekstur itu bersa­maan dengan pembuatan kertas. Sedang­kan uang kertas palsu proses membuat per­mukaan kasar hanya dengan bantuan tinta sablon. “Kalau bandingkan dengan uang asli dibentuk pada saat pembuatan kertas. Sehingga membentuk efek tiga dimensi,” tu­turnya.

(Yuska Apitya Aji)