11083631_376047199262133_1237903435133719110_nMembawa kendaraan ke tempat pencucian mobil merupakan pilihan yang paling praktis bagi pemilik kendaraan yang sibuk. Tak heran bila bisnis jasa cuci mobil dan salon mobil tetap mekar. Sayangnya, bisnis ini tak begitu ramah lingkungan lantaran penggunaan air yang sangat besar. Untuk membersihkan sebuah mobil, air yang diperlukan bisa seratusan liter. Nah, muncullah inovasi baru, yakni mencuci mobil tanpa air. Peran air digantikan oleh cairan yang disemprot pada permukaan bagian mobil, baik pada eksterior maupun interior. Mobil pun bisa tampil kinclong.

Oleh : Apriyadi Hidayat

Salah satu pemain di usaha ini, Elihu Nu­groho, mengatakan bahwa jasa cuci mobil tanpa air sudah lazim di negara-negara maju. Pasalnya, masyarakat mereka di sana sudah menyadari pentingnya meng­hemat air. Sementara masyarakat Indonesia belum terlalu paham mengenai krisis air yang mulai terjadi.

Dulu, Elihu berkecimpung di usaha salon mobil konvensional hingga menemukan inovasi cuci mo­bil tanpa air. Dus, sejak 2013, Elihu membuat produk yang bisa digunakan untuk mencuci mobil tanpa air. Elihu butuh waktu setahun sampai mendapat for­mula yang pas. Beberapa kali ia menemui kegagalan dalam membuat produk tersebut. “Ketika saya buat, cairannya sempat menimbulkan flek putih pada per­mukaan mobil. Saya coba terus hingga formulanya tepat,” ujar Elihu.

Baru pada Maret 2014, Elihu menemukan for­mula yang pas untuk cairan pembersih mobil tanpa air. Cairan itu diberi merek Valo. Saat itu, ia belum percaya diri menjual produknya. Dus, produk cai­ran tersebut dia gunakan untuk membersihkan mo­bilnya sendiri terlebih dahulu. Selain itu, beberapa temannya pun ikut mencoba menggunakan produk tersebut.

Ketika puas dengan hasil yang didapat, Elihu membuka outlet pencucian mobil tanpa air di Ja­karta, September 2014, dengan nama Valo Car Care. Meski demikian, Valo juga menerima jasa cuci motor bahkan jetski. “Kami pernah diminta untuk membersihkan jetski karena pemiliknya kebingun­gan mencari produk yang tepat untuk membersi­hkan kendaraan yang terus-menerus ada di dalam air,” cetus dia.

Outlet tersebut sengaja didirikan dekat kawasan perkantoran dan apartemen. Dua bangunan ini jadi target Elihu. Banyak pengelola kantor dan aparte­men yang tidak mengijinkan mobil yang parkir un­tuk dicuci. Pasalnya, penggunaan air membuat pen­gelola keluar biaya. Inilah celah yang dimanfaatkan oleh Elihu.

Untuk menggunakan jasa Valo man (sebutan untuk karyawan Valo Car Care), konsumen harus membayar biaya berkisar Rp 50.000–Rp 200.000 per mobil. Besaran biaya itu ditentukan oleh paket pencucian yang dipilih, antara lain cuci eksterior, interior, jamur dan kaca, serta cuci mesin mobil. Se­makin banyak paket yang diambil, biaya pencucian tentu semakin besar.

Peluang yang sama juga ditangkap oleh Harijanto Ongko. Alih-alih menciptakan produk pembersih mobil, pria asal Surabaya ini mendatangkan waral­aba cuci mobil asal Australia, Nowet Waterless Car­clean.

Harijanto membawa lisensi Nowet pertama kali pada 2011. Saat itu bisa dikatakan, jasa cuci mobil tanpa air ini tergolong hal baru di dalam negeri. “Karena tanpa air, jasa ini bisa dilakukan di mana saja dan kami dapat menghampiri pelanggan,” ujarnya.

Dia bilang, mobil yang dipamerkan di pusat per­belanjaan kerap jadi kliennya. Lantaran tak mung­kin mencuci mobil dalam mal, jasa cuci mobil tanpa air pun sangat dibutuhkan.

Banyak kelebihan

Inovasi cairan pembersih mobil tanpa air ini me­mang belum terlalu dikenal banyak orang. Padahal, banyak kelebihan yang ditonjolkan ketimbang men­cuci air secara konvensional alias menggunakan air. Penghematan air dari cairan ini sangat signifikan.

Elihu bilang, untuk mencuci satu unit mobil, air bersih yang diperlukan bisa mencapai 300 liter. Di sisi lain, air bersih sebanyak itu bisa memenuhi kebutuhan konsumsi air minum seseorang sampai lima bulan. “Tidak banyak orang yang sadar akan kondisi ini,” ujar Elihu.

Dengan kata lain, usaha ini juga mendukung pro­gram ramah lingkungan. Ini jadi salah satu kelebihan jasa cuci mobil tanpa air. Elihu juga bilang, banyak jasa cuci mobil konvensional yang tutup karena kekurangan air bersih. “Banyak salon mobil yang tu­tup karena memang kebutuhan air sangat besar dan mereka tidak sanggup memenuhinya,” tandas dia.

Di samping itu, lantaran tak menggunakan air, merintis usaha jasa cuci mobil tanpa air ini pun lebih sederhana. Untuk memulai usaha, yang diperlukan adalah menyewa tempat usaha dan menyediakan produk cairan pembersih.

Bahkan, Elihu bilang, usaha ini bisa dilakukan di rumah alias tak perlu menyewa tempat. “Pemilik mobil tidak perlu mendatangi Valo, tapi Valo man yang akan mendatangi mobil konsumen untuk dicu­ci. Kami hanya perlu lokasi dan plat mobil,” ujarnya.

Ia melanjutkan, untuk membersihkan satu unit mobil, waktu yang diperlukan sekitar 15 menit hing­ga sejam, tergantung bagian yang dibersihkan. Ada­pun jumlah karyawan untuk membersihkan mobil tidak banyak. Jasa pencucian mobil tanpa air bisa dilakukan oleh satu orang saja.

Modal untuk merintis usaha ini jelas tidak sebe­sar jasa mobil konvensional. Ditambah, potensi balik modalnya pun lebih cepat. Elihu bilang, untuk membuka satu outlet Valo Car, modal yang diperlu­kan minimal Rp 30 juta. Modal itu digunakan untuk menyediakan produk, sewa tempat serta merekrut tenaga kerja.

Peluang kemitraan

Anda tertarik menjajal usaha ini? Bila tak mau repot-repot menciptakan produk baru, Anda bisa bergabung dengan kemitraan yang ditawarkan oleh Elihu dan Harijanto.

Sejak membawa Nowet Waterless Carclean ma­suk ke Indonesia, Harijanto langsung menawarkan waralaba. Saat ini, Nowet sudah punya enam outlet di Jakarta, Semarang, Batam, Surabaya dan Yogya­karta. “Satu gerai milik pusat, sisanya milik mitra,” ujar dia.

Dalam kerjasama waralaba ini, Harijanto menawarkan dua paket investasi. Pertama, paket Nowet Express senilai Rp 100 juta. Paket ini hanya menawarkan jasa cuci mobil. Dari investasi sebesar itu, Rp 75 juta untuk biaya waralaba lima tahun, dan sisanya buat peralatan cuci seperti obat-obatan. Mitra tak perlu punya tempat usaha karena ini jasa panggilan.

Selanjutnya, paket Nowet Car Care senilai Rp 200 juta. Rinciannya, Rp 150 juta buat biaya waralaba lima tahun, dan sisanya buat membeli peralatan dan obat-obatan. Berbeda dengan paket pertama, mitra paket ini diwajibkan memiliki lokasi usaha untuk digunakan sebagai workshop. Soalnya, paket ini menawarkan empat macam perawatan mobil, seperti cuci mobil, salon mobil, auto detailing dan paint protection. Pelanggan usaha ini biasanya para anggota komunitas pecinta mobil dan korporasi.

Tarif jasa cuci mobil di tepat ini dibanderol mulai Rp 90.000 sampai Rp 145.000, tergantung jenis mobilnya. Sementara tarif lain, seperti paint protection seharga Rp 6 juta per mobil. Ia menargetkan, mitra paket Nowet Express bisa mengan­tongi omzet sebesar Rp 22,5 juta dengan margin sekitar 30%. Semen­tara mitra paket Nowet Car Care bisa meraup omzet sekitar Rp 38 juta per bu­lan dengan margin sama. “Rata-rata balik modal tiap-tiap paket diperkirakan 18 bu­lan,” kata Harijanto.

Sementara itu, di bawah bendera PT Valo Indonesia Prima, Elihu menawarkan tiga paket kemitraan. Masing-masing men­syaratkan investasi senilai Rp 30 juta, Rp 50 juta, dan Rp 100 juta. Pembelian bahan baku rata-rata memakan biaya 30% dari total omzet. Di antaranya membeli produk kimia, semir ban, pembersih jamur, body waterless, dan engine cleaner.

Elihu menargetkan tiap outlet bisa mencuci minimal 110 mobil-300 mobil dalam satu bulan. Setelah dikurangi dengan biaya operasional, mitra diprediksi akan balik modal sekitar satu hingga dua tahun.

Elihu menambahkan, saat ini produk cairan un­tuk pembersih tanpa air bisa dihitung dengan jari. Untuk memudahkan, pemain baru bisa mengambil paket kemitraan yang ada. Akan tetapi, jika memang tak puas, Anda bisa coba membuat produk sendiri. “Kalau ada produk sendiri, potensi usahanya tentu lebih besar karena akan dicari-cari,” katanya.

Persaingan pada jenis usaha ini memang belum terlihat. Dus, Elihu bilang, peluang usahanya masih sangat menggiurkan. Sebagai salah satu pelopor usaha mencuci mobil tanpa air, Elihu bilang kesuli­tan yang ditemui adalah meyakinkan pengguna jasa yang dibidik.

Menurut pengamatan Elihu, kesadaran ma­syarakat akan pentingnya menjaga ketersediaan air bersih masih sangat kurang. Di mata masyarakat, produk ini belum dianggap sebagai solusi. Masyara­kat juga masih curiga produk ini bisa menimbulkan baret pada permukaan kendaraan karena hanya dis­emprot lalu dilap.

Sebagai bentuk edukasi, Elihu sering menga­dakan demo cuci mobil tanpa air. Dengan demiki­an, masyarakat bisa melihat langsung kelebihan produk ini dibandingkan pembersih yang biasa digunakan pada jasa cuci mobil konvensional.

(KTN)