Sepang-MotoGP-Winter-Test-2015-Marc-Marquez2Aksi Marquez yang terlalu berani dinilai menbahay­akan rider lain. Marquez pun diminta lebih tenang di atas lintasan.

Pebalap terakhir yang nyaris ‘di­jatuhkan’ Marquez adalah Valentino Rossi. Keduanya terlibat duel sengit di MotoGP Belanda, yang memuncak pada tikungan terakhir jelang garis fi­nis.

Rossi, yang dalam posisi me­mimpin ketika memasuki chicane, disalip Marquez dari sisi dalam. Saat motor keduanya bersenggolan, Rossi meluncur ke luar lintasan. Dia melaju melewati gravel tanpa terjatuh dan kembali ke trek untuk merebut ke­menangan di seri tersebut.

Ini bukan kali pertama Marquez nyaris membuat celaka pebalap lain. Di Argentina pada pertengahan April lalu Marquez malah terjatuh saat dia dianggap terlalu memaksakan diri ingin mengambil kembali status pe­mimpin balapan dari tangan Rossi.

Di Catalunya, kejadian nyaris se­rupa terjadi. Marquez terjatuh setelah dia mengambil risiko dalam upaya menyalip Jorge Lorenzo.

Soal gaya membalap Marquez yang dianggap berbahaya, sudah ban­yak dikomentari rider-rider lain sejak dia mulai turun di kelas MotoGP dua musim lalu.

Namun dalam beberapa kesem­patan, Marquez menegaskan kalau dia tidak akan mengubah pendekatan yang dilakukan.

“Saya melihat tayangan ulangnya berkali-kali dan satu-satunya kes­empatan yang dipunya Rossi adalah menegakkan motornya dan melaju menuju gravel. Jika tidak begitu saya pikir dia tidak bisa melewati tikungan itu,” analisa Andrea Iannone

Pebalap Ducati yang sudah beru­lang kali berduel dengan Marquez itu meminta sang juara dunia untuk lebih kalem di atas lintasan. Marquez dise­butnya sudah memberikan ancaman berupa kecelakaan ada pebalap lain.

“Marquez mencoba meraih kemenangan, dan dia hanya bisa menang dengan cara seperti itu, jika tidak dia tidak akan berhasil menang. Di kesempatan lain dia harus lebih tenang karena itu semua memberikan rasa takut pada yang lain,” lanjutnya seperti diberitakan La Gazzetta dello Sport.

Marquez sendiri, seusai jatuh di Catalunya, menyebut kalau main aman bukanlah gayanya. Mengambil risiko selalu jadi jalan yang dia tem­puh.

Adu Argumen

Apa yang terjadi antara Valen­tino Rossi dan Marc Marquez di Mo­toGP Belanda memunculkan banyak pro dan kontrak terkait banyak hal. Bagaimana bos Yamaha dan Honda menanggapi insiden tersebut?

MotoGP Belanda di Sirkuit Assen, Sabtu (27/6/2015) malam WIB, mem­pertontonkan salah saru race paling menegangkan di musim ini.

Melibatkan Rossi dan Marquez, puncak dari persaingan keduanya ada di tikungan terakhir menjelang garis finis.

Rossi, yang dalam posisi me­mimpin ketika memasuki chicane, disalip Marquez dari sisi dalam. Saat motor keduanya bersenggolan, Rossi meluncur ke luar lintasan. Dia melaju melewati gravel tanpa terjatuh dan kembali ke trek untuk merebut ke­menangan di seri tersebut.

Marquez mengklaim dirinya su­dah melewati tikungan terakhir den­gan sempurna dan merasa kecewa Rossi sudah memotong lintasan.

Sementara Rossi bersikeras dirin­ya terus berada di depan Marquez dan tak punya pilihan untuk meluncur ke­luar lintasan akibat bersenggolan.

Beberapa pebalap ikut berkomen­tar dan memberi pandangannya ter­kait kejadian itu. Berikut tanggapan petinggi Yamah dan Honda terkait kejadian itu, sebagaiman dikutip dari situs resmi MotoGP:

Direktur Tim Movistar Yamaha, Massimo Meregalli memiliki keragu-raguan saat insiden itu terjadi. Tapi saat melihat tayangan ulang dalam gerakan lambat hasilnya yang dipu­tuskan Race Direction adalah tepat.

Pertama, Valentino tengah be­rada di depan dan Marc tidak bisa menyalipnya saat dia sudah berupaya melakukannya. Lalu saat dia menyen­tuh motor Vale, satu-satunya hal yang dia (Rossi,red) bisa lakukan adalah menegakkan motornya dan melaju lurus.

Sementara itu, tim Prinsipal Rep­sol Honda, Livio Suppo mengatakan Race Direction memutuskan kalau itu adalah insiden balapan jadi pihaknya menghormati keputusan dan pergi ke Sachsenring dengan perasaan yang bagus karena Marc merasa oke den­gan motornya dan itu sangat penting.

Percuma untuk mengatakan ‘jika, jika, jika. Kesalahan sebenarnya yang dilakukan terjadi beberapa lap sebel­umnya saat Marc keluar dari chicane dan sedikit keluar mengenai gravel.

Setelah itu dia kehilangan kontak dengan Valentino dan tidak mung­kin terus menempelnya, tapi dia (Marquez,red) menjalani lap terakhir yang luar biasa.

Saya pikir dia memangkas jarak sekitar 0,4 detik dan itu sangat bagus karena Valentino, dengan hanya satu lap tersisa, juga meraih catatan terbai­knya yang juga luar biasa. Keduanya melakukan pekerjaannya dengan he­bat dan itulah balapan.

(Imam/net)