gettyimages-478976386-4-2048x1152DARI pahlawan jadi pesakitan. Dari dipujajadi dicaci. Itulah yang saat ini sedang dialamiPetr Cech setelah memutuskan menyeberang dari Chelsea ke klub rival sekota, Arsenal

Oleh : ADILLA PRASETYO WIBOWO
[email protected]

Bergabungnya pemain idola Chelsea ke Ar­senal itu tak pelak menyulut kemarahan sejumlah suporter The Blues. Mereka pun langsung memaki-maki penjaga gawang 33 tahun tersebut. Namun, Cech, sama seperti pemain sepak bola lainnya yang ingin rutin tampil di atas lapangan hijau, memilih bertindak menggunakan logika dibandingkan perasaan semata.

Ia mencurahkan alasan dirinya hengkang ke Ar­senal lewat surat terbuka kepada para suporter The Blues. “Saya pikir ini (pindah ke Arsenal) tidak akan pernah terjadi. Tetapi ini merupakan saat bagi saya mengucapkan perpisahan kepada Chelsea. Klub yang saya pikir akan menjadi tempat saya meng­gantung sarung tangan dan sepatu saya suatu hari nanti. Tetapi kehidupan tidak berjalan sesuai den­gan keinginan kita,” tulis Cech dalam suratnya.

Cech memiliki kenangan bagus bersama skuat The Blues dalam sedekade terakhir. Apalagi bila me­lihat 15 trofi yang dikoleksi Cech bersama Chelsea. Namun, Cech sadar sudah tersingkir oleh kehadiran kiper yang lebih muda, Thibaut Courtois. Minimnya masa pertandingan musim lalu yang mulai mem­buat Cech mempertimbangkan masa depannya.

“Waktu bertanding yang terbatas membuat saya memiliki kesempatan untuk beristirahat secara mental, serta menyadari betapa saya begitu menik­mati bermain sepak bola di level tertinggi. Itulah mengapa saya berbicara kepada Roman Abramov­ich, agar tetap bertahan di Liga Primer dengan pin­dah ke Arsenal,” lanjutnya.

Kini Cech tak lagi akan mengawal gawang Chel­sea, dan dirinya mungkin akan menjadi penghalang berat bagi The Blues saat mereka menghadapi Arse­nal 18 September mendatang. Namun Chelsea tetap merupakan salah satu bagian penting dari karier Cech, dan penjaga gawang itu tetap menunjukkan sikap hormat kepada mantan klubnya itu.

Baca Juga :  Pensiun Dari Anggota Dewan, Leon Edwards Jadi Juara UFC

“Terima kasih kepada seluruh suporter Chelsea. Saya tidak akan pernah melupakannya. Ini akan se­lalu dikenang selamanya. Kita akan bertemu lagi, tetapi kali ini saya akan berada di sisi gawang yang berbeda. Saya harap kalian akan mengingat sejarah kita dan mengerti ini merupakan saat bagi saya un­tuk memulai perjalanan baru. Saya berharap yang terbaik untuk Chelsea. Terima kasih untuk 11 tahun yang luar biasa,” tulis Cech di akhir suratnya.

Di usianya yang sudah 33 tahun Petr Cech ma­sih menjanjikan banyak hal untuk Arsenal. Statistik menunjukkan dia menjadi salah satu kiper terbaik di Premier League saat ini, melebihi David Ospina dan Wojciech Szczesny.

Kedatangan Thibaut Courtois di Stamford Bridge pada musim panas 2014 membuat Cech kehilangan tempat yang sudah 10 tahun dia miliki sebagai kiper nomor satu Chelsea. Tak ada yang menilai buruk penampilan Cech, namun kecemerlangan Cour­touis di Atletico Madrid membuat Jose Mourinho langsung memberikan posisi kiper nomor satu pada pemuda asal Belgia itu. Alhasil Cech cuma dapat ja­tah tujuh kali bermain di Premier League 2014/2015.

Meski cuma sedikit dapat kesempatan, Cech ma­sih membuktikan kalau dia masih jauh dari habis. Statistik Squawka menunjukkan kalau dalam tujuh penampilan di Liga Inggris tersebut dia mencatat­kan empat clean sheet. Prosentase penyelamatan­nya juga masih sangat tinggi yakni sampai 88,9 persen, selain itu Cech juga tercatat membuat nol kesalahan yang berujung lahirnya attempt ke arah gawangnya.

Baca Juga :  Kalah dari Leon Edwards, Kamaru Usman Meminta Maaf Kepada Penggemar UFC

Datang ke Arsenal dengan statistik seperti itu, Cech dipercaya akan langsung jadi pilihan utama Ar­sene Wenger di bawah mistar gawang. Faktanya an­gka-angka Cech memang masih lebih baik dibanding dua kiper utama The Gunners saat ini: David Ospina dan Wojciech Szczesny.

Ospina dan Szczesny berbagi jatah mengawal ga­wang Arsenal di Premier League musim ini. Si kiper Kolombia tampil dalam 18 pertandingan, sedangkan si penjaga gawang Polandia bermain di 17 kesempatan.

Dari 18 pertandingan, Ospina mencatatkan dela­pan celan sheet dengan prosentase penyelamatan mencapai 80,7 persen dan membuat satu kesalahan yang berujung datangnya attempt ke arah dia.

Sementara Szczesny punya rekor yang lebih bu­ruk. Di 17 penampilan dia cuma membuat tiga clean sheet, dengan prosentase penyelamatan 67,2 pers­en dan membuat enam kesalahan yang berujung datangnya attempt ke arah gawangnya.

“Anda bisa berdebat kalau mereka kesulitan pada posisi penjaga gawang setelah Jens Lehmann dan David Seaman. Itu adalah perjuangan untuk memenangi gelar tanpa kiper hebat. Perjuangan yang berat. Ospina mungkin kiper yang bagus dan sudah bekerja dengan baik, tapi dia bukan nomor satu dan mereka butuh kiper top. Mereka butuh kip­er yang bisa menyelamatkan poin untuk tim,” ucap Gary Neville menganalisa komposisi kiper Arsenal seperti dikutip dari Skysports.