jullie-shieTAK ada kata lain yang paling pas untuk menggambarkan Julie Shie selain tangguh. Perempuan yang belum genap 30 tahun ini mulai berbisnis di usia delapan tahun. Kini, Julie memiliki 14 perusahaan dengan omzet miliaran rupiah per tahun. Memulai usaha sendiri tidak perlu menunggu usia matang dan modal segudang. Julie Shie membuktikan hal itu. Dengan ketekunan dan tekad kuat, perem­puan kelahiran Aceh, 33 tahun silam ini, kini sukses menjadi salah pengusaha multinasional.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Sukses Julie Shie, seorang pengusaha wanita Indonesia, adalah mampu membangun banyak perusahaan di Singapura. Soal bisnisnya, salah satu perusahaanya melayani jual beli dua negara, yakni Indonesia dan China. Melalui perusa­haan Worldwide Shipping Logistic Service Pte Ltd, ia menjembatani jual beli karet sejak 2006.

Julie lahir di keluarga yang kekurangan, dididik untuk menghargai uang miliknya. Di sebuah kota kecil di kawasan Aceh, ayahnya adalah juragan angkot serta memiliki laun­dry. Julie mengaku sering tidak diberi uang saku karena semuanya butuh pengorbanan. Ia harus berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkan. “Untuk beli permen Rp.50 aja, saya lebih dulu ditanya macam- macam,” kenangnya.

Alhasil hidupnya penuh kemandirian, yakni dimulai dari ia ikut membantu ayahnya berbisnis laundry. Ia ikut menjalankan bisnis laundry di sekitaran rumah saja. Setiap hari, ia di usia enam tahun bekerja memilah dan menandai baju pelanggan ayahnya. Julie Shie yang bernama asli Yulianty sering ikut ibunya berpindah- pindah menemani berbisnis. Dia pun menjadi sosok mudah akrab dan pandai berkomunikasi bahkan saat bertemu orang baru.

Ia menjadi sosok supel dikalangan te­mannya, tetapi tetap bisa menjaga diri baik. Selain itu Julie menjadi satu sosok yang tak lepas dari segala usaha.

Keasyikan membantu bisnis kedua orang tuanya membuat nilainya sempat jeblok. Karena jadi pengusaha membuat nilainya tu­run. Di semester pertama masuk sekolah, ia bahkan belum bisa membaca seperti teman-temannya. Ia begitu malunya ketika raport miliknya dikembalikan dan bertekat untuk berubah. Sejak masa itu, ia jadi pekerja keras, hingga mampu mendapatkan ranking satu sejak kelas dua SD hingga SMP. Tapi jangan salah, dia masih asik dengan kegemaran­nya berbisnis.

Baca Juga :  Capaian Vaksinasi Melebihi Target, Ade Yasin Protes Kabupaten Bogor Belum Turun ke Level 1

Di usia delapan tahun, Julie berbisnis permen dan makanan ringan di sekolah. Modalnya hanya uang saku ia sisihkan sedikit demi sedikit. Ia membali barang di toko grosir milik tantenya kemudian menjualnya kembali. Usia 14 ta­hun, ia bekerja paruh waktu di toko unggas dan elektronik. Masa SMA, Julie memilih memberikan les privat mendapat­kan Rp.80.000- Rp.120.000 per- hari. “Kalau dikumpulkan, gaji saya bisa setara pekerja kantoran,” ucapnya bangga.

Julie berhasil meng­gabungkan dalam bisnis dan pendidikan. Dia ber­hasil menggabungkan antara bekerja, belajar serta berse­nang- senang. Ia bahkan masih sempat merencanakan masa de­pannya ketika anak- anak lain tidak. Selepas SMA, Julie fokus dengan karir bukan bisnis, mencoba mencari pengalaman mungkin. Ia memilih bekerja sebagai pegawai perusahaan asing. Pekerjaan tersebut buat­nya karena menghabiskan waktu dengan lem­bur hingga jam 5.

Lantaran perusahaan menghadapi pasar dollar yang aktif di jam 12 malam, Julie selalu lembur setiap harinya dan pulang pagi. Tak tahan, ia akhirnya keluar setelah tiga bulan kemudian bekerja di PT. Toba Internesa, perusahaan jasa forwarding. Ia dipercaya memegang cabang di Pekan­baru dan Padang karena prestasinya. Ada masalah internal membuat Julie akhirnya mengundurkan diri ketika berusia 19 ta­hun. Ia kemudian latah mendirikan perusa­haan forwarding send­iri, yakni PT. Samudra Indah Berkatindo.

Perusahaan terse­but menjadi titik balik ekpansi bisnisnya. PT. Samudra Indah Berkatindo berhasil menjadi satu jalan ter­baik untuk ekspansi ke berbagai negara tetangga. Julie memilih Singapura sebagai penghubung lahir­lah Wordwide Shipping Logis­tic. Seterusnya, bisnis tersebut berkembang dari penghubung China hingga Thailand. Ia mendiri­kan perusahaan baru Andaman World­wide Shipping Co Ltd. Modal awalnya cuma 30 juta, itupun ia pinjam dari ayahnya dan seorang teman.

Baca Juga :  Pemprov Jabar Resmi Batalkan Kenaikan UMK Bogor 2022, Bupati Ungkap Alasannya

Selain perusahaan di atas, Julie bergerak dibidang properti di Indonesia, Singapura, dan Thailand. Di tahun 2013, dia setidaknya memiliki 14 perusahaan dengan mobilitas tinggi Singapura- Indonesia. Julie masih bisa mengontrol semuanya secara baik. Di 2006, Worldwide Shipping Logistic menjembatani perdagangan karet di Indonesia oleh China. Ia kemudian membangun lagi perusahaan, Ome­ga Shipping Pte Ltd, yang mengurusi perda­gangan komoditas Sino dari Asia ke China.

Setahun kemudian, Julie tetap fokus jasa forwarding malalui Andaman Worldwide Shipping Co Ltd di Thailand. Di tahun 2010, penyuka masakan Indonesia ini mendirikan Worldwide Property Investment Ltd di Singa­pura, Indonesia, dan Thailand yang menjadi pemasar proyek properti di beberapa negara. Tahun ini, ia bakal membuka kantor di Shang­hai, Jepang, dan Korea. Ibu Jiratchaya Angel Parnitehkul, 18 bulan, memang dikenal memi­liki aktivitas padat yakni mengurusi 14 perusa­haan yang tersebar di tiga negara.

“Saya pernah ada di tiga negara dalam satu hari, atau menghadiri 10 meeting dalam sehari,” katanya. Tapi, ia memberi catatan, meeting tidak berada di Indonesia yang jala­nan macet. Meski sering tak ada di kantor, Julie tetap bisa memantau bisnisnya. “Semua sudah ada sistem. Saya tinggal kontrol pakai ponsel pintar,” katanya.

Kini ia fokus menggarap proyek BUMN asal China, fokusnya di sektor pertambangan. Apa rahasianya? itu hanya soal komitmen, ketekunan, dan keinginan dari setiap usahan­ya. Julie sakarang mengerjakan proyek besar untuk perusahaan mining di China. Dia juga menjadi distributor untuk water heater di Sin­gapura untuk Indonesia.

(pengusaha)