Untitled-4Co­pot Budi Waseso’, Dahnil Anzar Siman­juntak dan Ray Rangkuti, bakal menyerah­kan hasil petisi ke Presiden Joko Widodo, Rabu(22/7/2015). Jumlah penandatangan petisi hingga hari ini sebanyak 16.338 orang.

“Ada tiga petisi serupa. Kalau diga­bungkan jadi lebih dari 20 ribu penan­datangan,” kata Dahnil di gedung PP Mu­hammadiyah, Jakarta Pusat, Rabu, 22 Juli 2015.

Dahnil dan Ray bakal meminta Jokowi mencopot Komisaris Jenderal Budi Wase­so dari jabatannya Kepala Badan Reserse Kriminal Polri. Mereka juga meminta Jokowi membentuk tim independen untuk mengevaluasi Polri dalam rangka refor­masi Polri.

Baca Juga :  Atap Rumah Janda Disapu Angin Kencang, Kades Nembol dan Pemuda Kampung Kaso Gercep

Dahnil menceritakan petisi terse­but muncul lantaran Budi Waseso kerap menetapkan aktivis pegiat antikorupsi dan akademisi sebagai tersangka. Tak hanya itu, pernyataan-pernyataan Waseso kerap dinilai menghina sejumlah pihak.

“Pernyataan dia soal Buya Syafii Maarif terkesan menghina dan melukai hati. Dia menganggap Buya tidak punya wewenang lah, segala macam,” ujar Dahnil. “Ini han­ya trigger atau puncaknya untuk mendu­kung pencopotan Buwas (Budi Waseso),” kata dia.

Selama tiga bulan sejak Budi Waseso dilantik sebagai Kabareskrim, gerakan antikorupsi dilemahkan. Setidaknya ada 49 orang pejuang antikorupsi dilaporkan dalam berbagai kasus pidana. Empat di­antaranya adalah pejabat KPK dan Komisi Yudisial.

Baca Juga :  Menempelkan Alat Kelaminnya ke Buku Kumpulan Doa, Warga Bekasi Diamankan Polisi

Kriminalisasi terhadap 49 orang itu, masih sesuai petisi, menjadi ancaman besar bagi para aktivis yang bergiat di gerakan anti-korupsi. Semua persoalan ini muncul saat Budi Waseso jadi Kaba­reskrim.

Sebelumnya, Budi Waseso menang­gapi santai petisi online yang menuntut agar dia dicopot dari jabatan. Budi Waseso pun tak gentar menanggapi dukungan pe­tisi online yang mencapai 16 ribu orang.

(Yuska Apitya/net)