11241717_770775683041277_2140556516_nAngelinda Fransisca (24) dan Daniel Tan (24) terjun dalam dalam usaha kosmetik sejak 2009. Saat itu, sembari kuliah, perempuan yang akrab disapa Linda ini menjual produk kosmetik impor bersama sang kekasih. Dari pengalaman usaha itu, mereka menangkap peluang untuk menjual produk perawatan tubuh yang natural.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Setiap orang butuh produk perawatan tubuh (body­c a r e ) . Tak hanya berlaku pada makanan, banyak masyarakat yang makin peduli pada produk perawatan tubuh yang dia pakai dalam keseharian, khususnya mereka yang menginginkan produk natu­ral. Inilah celah yang ditangkap oleh para produsen body care natural.

Daniel dan Linda mengamati, masyarakat masih kerap salah kaprah soal produk perawatan tubuh yang natural. Banyak orang menganggap, produk natural yang penting mengandung bahan baku yang alami. Akan tetapi, komposisi yang tak pas juga kerap mem­buat produk tak punya khasiat apa-apa. Daniel men­contohkan, coconut oil atau minyak kelapa yang sering dijadikan sabun. “Padahal, kandungannya tak cocok untuk sabun karena malah akan bikin kulit jadi ker­ing,” tutur Daniel.

Tak hanya itu. Daniel juga sering melihat produk natural tidak dikemas dengan apik. Alhasil, pembelin­ya kebanyakan berumur 40 tahun ke atas. Sementara, perawatan tubuh harus dimulai sejak muda. Dus, Dan­iel dan Linda fokus membuat produk yang terbuat dari bahan baku alami dengan komposisi yang pas serta dikemas secara menarik.

Namun, Linda dan Daniel mengaku, mereka butuh waktu cukup lama untuk penetrasi pasar. Walaupun sudah mulai memproduksi sabun cair pada awal 2013, mereka tak langsung menjualnya. Mereka mencoba sendiri produk yang mereka buat. Lalu, mereka tawarkan pada kerabat untuk di­coba sehingga mereka bisa menyempurnakan produknya.

Barulah pada September 2013, mereka berani memasarkan produk pertama mereka yang diberi nama Goats Don’t Lie. Produk ini merupakan sabun cair yang dibuat dari susu kambing murni. Penjualan pada bulan pertama memang sedikit, hanya sekitar tiga botol berukuran 250 ml. Daniel dan Linda meng­gunakan jalur online untuk penjualan pada situs www. thebathbox.co.id.

Untuk menambah pemasukan, mereka masih men­jual produk kosmetik. Akan tetapi, pada awal 2014, mereka menghentikan penjualan produk kosmetik impor. Alasannya, penjualan The Bath Box kian me­ningkat. Di sisi lain, mereka ingin fokus membesarkan produk sendiri.

Setelah enam bulan, penjualan tumbuh dengan pesat. Daniel menyebutkan beberapa penyeba b. Yang pertama, The Bath Box sudah punya konsumen loyal. Nah, konsumen inilah yang rajin mempromosi­kan produk The Bath Box pada teman-teman mereka. “Kami tidak mempromosikan produk kami, tapi men­gandalkan pemasaran dari mulut ke mulut,” tutur Linda.

Selain itu, The Bath Box mulai punya reseller sejak awal 2014. Melalui reseller, penjualan pun terkerek. Sekarang, The Bath Box punya belasan reseller yang tersebar di Jawa, Malaysia, dan Brunei Darusalam.

Kini, The Bath Box punya 50 jenis produk per­awatan tubuh, antara lain sabun cair, body lotion, facial oil, face scrub, lip balm, dan lip scrub. Harga produk The Bath Box dibanderol mulai Rp 35.000–Rp 330.000 per unit.

Linda mengatakan, kapasitas produksi The Bath Box saat ini men­capai 48 liter per hari. Dalam pem­buatan, mereka dibantu delapan orang karyawan di bagian produksi dan manajemen. Adapun perolehan omzet pasangan ini bisa mencapai Rp 100 juta saban bulan dengan laba bersih 50%.

Pemain lain yang menggeluti bisnis body care alami ini adalah Veronica Lucia Handayani. Perem­puan 33 tahun ini mengawali pem­buatan produk perawatan tubuh lantaran kulitnya sensitif terhadap produk yang beredar di pasaran. “Kulit saya merah dan gatal-gatal kalau pakai sabun lainnya,” kata dia.

Atas dorongan teman-teman yang sering memesan produk body care kepada dia, Vero pun merintis Kip­pabuw, dua tahun lalu. Kini, dia menyediakan beber­apa produk, seperti sabun, pelembap alami, sampo, dan pembersih alami.

Sama seperti The Bath Box, Kippabuw juga dibuat dari bahan-bahan makanan. “Semua bahan biasanya tersedia di dapur,” kata Vero. Karena itu, dia mengu­sung tagline, food for beauty. Kini, lebih dari 40 varian produk yang ditawarkan Kippabuw. Harga jual produk itu berkisar Rp 30.000-

Rp 135.000.

Vero bilang, peluang untuk memproduksi produk perawatan ini masih besar. Dia sendiri mengaku, be­lum bisa memenuhi permintaan yang datang. “Pelu­ang besar karena produk ini momennya tepat, di saat kepedulian konsumen akan produk-produk herbal me­ningkat,” jelas Vero. Dari bisnis ini, margin yang diper­oleh berkisar 20 persen hingga 50 persen.

(KTN)