Galeri-PESAT-(2)BOGOR, Today – Masa Orientasi Peserta Di­dik Baru (MOPDB) perlu dipahami sebagai upaya memperkaya materi kegiatan ysng sesuai dengan visi Kota Bogor dan wawasan kebangsaan yang sinergis, dengan tujuan pen­didikan. Sebab itulah, wawasan kebangsaan perlu dipahami sebagai cara pandang peserta didik untuk menempatkan dirinya sebagai anak bangsa dalam mengembangkan kemam­puan membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat, serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Pengayaan materi MOPDB dengan wawasan kebangsaan merupakan upaya pembudayaan dan aktualisasi jiwa, se­mangat dan nilai-nilai kejuangan bangsa Indo­nesia (NKBI) antara lain diwujudkan dengan membangun kesadaran peserta didik sebagai anggota keluarga, warga sekolah, warga ma­syarakat Kota Bogor, warga Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta warga dunia.

Itulah sebabnya, SMP/SMA/SMK Informa­tika Pesat menanamkan nilai-nilai itu dalam penyelenggaraan MOPDB PESAT yang berlang­sung pada Senin (27/07/2015) hingga Kamis (30/07/2015) lalu di Kampus 1 dan 2 Sekolah PESAT, Jl.Poras No. 7 Bogor. Acara dilanjutkan dengan kegiatan Latihan Dasar Kepemimpi­nan (LDK) di kawasan Puncak, Bogor. Kepala Sekolah SMP Pesat Kiki Mohamad Ahdiat,S. Pi menyebutkan peserta MOPDB tahun pelaja­ran 2015/2016 di Yayasan Pesat Birrul Walidain ini berjumlah 854 calon peserta didik, dengan rincian 284 SMP, 211 SMA dan 259 SMK.

Ia menuturkan, sebagai upaya membentuk insan berakhlak mulia, kesadaran peserta didik sebagai anggota keluarga, warga sekolah, warga Kota Bogor, warga negera dan warga dunia perlu dilatih dan dibekali dengan baik. “Sebagai ang­gota keluarga, harus diwujudkan dalam bentuk menghormati orang-tua, menumbuhkan rasa kasih sayang dan menjaga nama baik keluarga dan lain-lain, sementara sebagai warga sekolah tentu berwujud dalam bentuk kepatuhan dan ketaatan terhadap segala ketentuan yang diatur oleh sekolah. Melalui kepatuhan dan ketaatan ini diharapkan peserta didik mampu mawas diri dan olah budi, meningkatkan motivasi dan prestasi, serta ikut menjaga citra dan nama baik sekolah,” papar Kiki.

Demikian juga kesadaran sebagai warga Kota, seperti menjaga kearifan lokal Kota Bo­gor maupun berpartisipasi aktif mewujudkan visi dan misi kotanya. Sementara sebagai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia, diwujud­kan dalam bentuk cinta tanah air, cinta produk­si dalam negeri, kesediaan untuk bela Negara, dan lain-lain. “Sebagai warga dunia, peserta didik harus ikut menjaga lingkungan hidup seb­agai upaya pelestarian dunia, menguasai bahasa asing yang seimbang dengan kemampuan ber­bahasa Indonesia secara baik dan benar, mem­pertebal rasa kebanggaan nasional, serta men­empa diri menjadi manusia yang lebih efektif, kreatif dan produktif dalam rangka persaingan global,” tegasnya.

Sementara itu pemerhati pendidikan Heru Budi Setyawan menyambut baik metode MOP­DB di banyak sekolah yang mulai meninggalkan masa perpeloncoan dan arena balas dendam antara senior dengan ju­nior. “Saya masih melihat satu dua sekolah yang masih melanggar aturan ini. Cara-cara lama itu menurut saya tidak simpatik. Meski panitia berdalih ini hanya untuk melatih mental calon peserta didik, apa tidak ada cara lain yang lebih mendidik ?” tambah Pahe, begitu dia sering di­panggil muridnya.

(Rifky Setiadi)