juragan-tas-dompet-premium-(23)Merintis sebuah usaha dan menjadikannya sukses tak bisa hanya mengandalkan pendidikan yang dimiliki saja. Perlu pembelajaran yang terus menerus. Perlu juga kerendahan hati dan tidak cepat berpuas diri. Kira-kira itulah yang dilakukan seorang Rico Yudhiasmoro dalam menekuni bisnis produk kulitnya M Joint.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Pria yang mengenyam pendidikan tinggi di jurusan ekonomi dan ad­vertising Universitas Gajah Mada ini, mengaku memulai bisnis pada awal Juni 1997. “Ada seorang pengrajin yang bergabung sama kita. Kan kita lihat di Yo­gyakarta itu kota budaya, kota pelajar, sumber bahan baku kulit juga banyak ,” sebut Rico.

Ia yang mengaku tidak bisa desain ini pun belajar banyak dari pengrajin tersebut. Semua bentuk barang ia pelajari cara pembuatannya, mulai dompet, sarung tangan, hingga jaket. Dan, bahan baku produk pun tidak hanya kulit. Mer­eka menerima juga pesanan produk dari bahan non-kulit. “Waktu itu kan masih belajar, apa saja yang masuk order-nya ya diterima,” sebutnya.

Beberapa tahun bersama, Rico dan pengrajin tersebut pun berpisah dengan alasan perbedaan visi. Apalagi, kat a Rico, tuntutan kualitas produk dari konsumen kian tinggi. Sementara, menurut dia, pengrajin kurang memperhatikan kualitas.

Usaha Rico akhirnya fokus kepada produk-produk dari kulit. Bahan baku produk Rico hampir semua dari dalam ne geri. Ia tidak meng­gunakan cat supaya terkesan natural. Kulitnya juga ramah lingkungan. “Istilahnya vegetable tanned,” ucapnya.

Terkait modal, ia mengaku tak pernah merasa kesulitan. Kunc inya adalah kredibilitas. Ketika itu dipunyai, bantuan seperti pinjaman dana ataupun bahan baku mengucur. “Tunjukin kred­ibilitas dulu, prestasi kita apa. Adalah yang nawa­r in modal. Nggak kesulitanlah. Bisa diusahakan lebih mudah ketimbang teknis,” tegas Rico.

“Modal bisa pinjam dari keluarga dan teman tapi harus tanggung jawab,” lanjutnya.

Hal yang menjadi kendala justru sumber daya manusianya. Tidak ada sekolah atau pelatihan khusus untuk membuat tas. Ia lantas harus men­gadakan pelatihan sendiri bagi karyawannya. Spesialisasi dalam bekerja ia bentuk . “Kita bikin spesialisasi, ada yang ngelem, yang jahit. Di tem­pat kita tidak satu orang buat dar i awal sampai akhir,” paparnya.

Tadinya, ia hanya punya lima karyawan ter­masuk dirinya dan lokasi produksinya dilakukan di garasi rumah orang tuanya. Sekarang, usaha M Joint telah memiliki sekit ar 100 karyawan dan lokasi produksi pun bergeser ke belakang rumah supaya bisa menampung karyawannya.

Utamanya sekarang ini, Rico membuat tas dan dompet kulit. Ini lantaran keduanya sudah ada dari z aman dahulu kala. Ia berusaha mem­buat produk kulitnya tersebut berkualitas baik. Dengan begitu, produknya pasti dicari kon­sumen. “Ya kayak kuliner enak walau tempatnya terpencil, orang pun datang sekalipun terpe­losok,” kata dia.

Alhasil, pemasaran produk kulitnya ini ber­langsung dari mulut ke mulut. Atau, bisa dari re­lasi bisnis dan pameran yang diikutinya. Dari pa­meran itulah, usaha Rico berhasil mendapatkan buyer. Salah satu pameran yang pernah diikutin­ya yakni di Frankfurt, Jerman, pada tahun 2007. Ia dibawa oleh Badan Pengembangan Ekspor Na­sional. “Promosi itu penting nggak pentingnya ya lihat kemampuan kita kalau belum layak ke­napa promosi itu sama dengan mempermalukan diri sendiri,” sambung dia.

Rico menyebutkan, produksi tasnya bisa mencapai 2.500-3.000 buah setiap bulan. Tapi jumlah itu tergantung desain. Bila rumit otoma­tis lebih sedikit. Sebagian besar, yakni sekitar 90 persen produk kulitnya berupa t as. Sisanya berupa dompet. Sebagian besar produknya me­nyasar pasar internasional. Tahun 1998, produk Rico sudah masuk ke pasar Jepang meski kuanti­tasnya tidak banyak. Pengiriman ke Jepang pun tidak berlanjut lagi karena produknya kalah ber­saing dengan produk buatan China.

Sekarang ini, t as dan dompet kulitnya pun menyasar Eropa dan Australia. 80 persen dari total produksi ia lepas ke Eropa ,15 persen ke Australia dan sisanya baru untuk pasar dalam negeri. Produk Rico yang di Eropa sudah men­gisi et alase 450 toko, dijual se suai dengan merek setempat.

Adapun untuk penjualan di pasar lokal, Rico hanya memasarkan melalui pameran atau pen­jualan di rumahnya. “Kalau mau barang saya ya cari di Eropa, Australia, atau ke rumah, atau di pameran gini,” katanya.

Sekarang ini, ia berusaha mempertahankan pasar di kedua negara itu. Itu saja ia merasa ke­walahan mengerjakan jumlah produksi yang ter­bilang besar. Sampai- sampai, Rico harus lembur hingga malam. Kondisi yang demikian membuat upaya membuat merek sendiri pun agak terham­bat. Ia sedang berusaha mempatenkan merek pribadi yang sudah disiapkannya. Belum lagi ia harus siap memproduksi dalam jumlah yang lebih besar untuk mengisi pasar Tanah Air.

Mengenai omzet, pria yang telah berkelu arga ini tidak bersedia memberikan detil angkanya. Ia beralasan usahanya masih kecil dibandingkan bi snis kulit lainnya. Namun, ia mengisyaratkan, penjualan produknya bisa mencapai miliaran rupiah dalam setahun. Ini dihitung dari harga produk yang lumayan. Untuk dompet, ia me­masang harga antara Rp 50.000-Rp 150.000 per buah, sementara t as dengan kisaran Rp 300.000-Rp 600.000 untuk harga grosir.

“Naik terus omzet. Dari 3 tahun terakhir naik 15 persen. Tapi kan juga keuntungan belum ten­tu naik karena euro bisa turun dan biaya dalam negeri bisa naik,” sebutnya.

Ke depan, Rico berupaya menyasar pasar Timur Tengah, seperti Dubai. “Dubai sudah ada order dari buyer di Belanda. Tapi, barang dikir­im langsung,” pungkas dia.

(KPS)