foto-persib-bandung-vs-persita-LSI-2014-SIM_0143JAKARTA, Today – Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) terus mendorong PT Liga Indonesia (PT LI) untuk kembali menggulirkan kompetisi.

Misalnya saja untuk kompetisi Indonesia Super League (ISL), akan mulai digelar pada minggu ketiga Ok­tober 2015.

Aristo Pangaribuan, Direktur Hu­kum PSSI, mengatakan bahwa kom­petisi bakal berjalan tanpa perlu mel­ibatkan Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI).

“Semua kegiatan sepak bola, baik turnamen maupun kompetisi, atas perintah Undang-Undang No.3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, sudah sangat jelas bahwa itu harus dilakukan oleh induk cabang olahraga, dalam hal ini PSSI,” katanya.

Dipaparkannya, Pasal 29 ayat 2 UU SKN, berbunyi (2) Pembinaan dan pengembangan olahraga profe­sional dilakukan oleh induk organ­isasi cabang olahraga dan/ atau organisasi olahraga profesional.

Diperjelas di Peraturan Pemerintah 16/2007 ten­tang tentang Penyelengga­raan Keolahragaan, Pasal 36 ayat 1, 2 dan 3 (1) Pembinaan dan pengembangan olahraga profesional dilaksanakan ser­ta diarahkan untuk tercip­tanya prestasi olah­raga, lapangan kerja, dan peningkatan pendapatan.

Kemudian selanjutnya, (2) Pembi­naan dan pengemban­gan olahraga profesional sebagaimana d i m a k s u d pada ayat (1) dilakukan oleh induk or­ganisasi cabang olahraga, induk or­ganisasi olahraga fungsional, dan/ atau organisasi olahraga profesional.

Lalu (3) Pemerintah berkewa­jiban memberikan pelayanan dan kemudahan kepada induk organisasi cabang olahraga, induk organisasi olahraga fungsional, dan atau organ­isasi olahraga.

Dipertegas juga dengan Pasal 51 ayat 2 UU SKN, (2) Penyelenggara kejuaraan olahraga yang mendatang­kan langsung massa penonton wa­jib mendapatkan rekomendasi dari induk organisasi cabang olahraga yang bersangkutan dan memenuhi peraturan perundang-undangan.

“Jadi, dimana posisi BOPI? BOPI tidak diper­lukan selama ada induk cabang olahraga. Justru keberadaan BOPI memberi peluang terjadinya break away league, yang sangat diharamkan di seluruh dunia,” tuturnya.

“Terjadi juga pada tahun 2012, saat I n ­donesia Super League (ISL) saat diputar oleh Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) tanpa rekomendasi PSSI. Oleh karena itu, secara prinsip, Komite Eksekutif PSSI menolak keberadaan dan keterlibatan BOPI,” pungkasnya.

Melihat hal ini, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) mem­buka peluang untuk kembali menggu­lirkan turnamen Piala Indonesia (PI).

Sebelumnya, Piala Indonesia dilaksanakan PSSI dengan mengi­kutsertakan seluruh klub. Ketika terakhir digelar pada 2012, Persibo Bojonegoro keluar menjadi menjadi juara. Sementara Sriwijaya FC, men­jadi klub tersukses setelah tiga kali juara.

PSSI sempat ingin menggulirkan turnamen tersebut pada 2015, sejalan den­gan kompetisi Indone­sia Super League (ISL) dan Divisi Utama.

Sayangnya, nasib sama seperti ISL dan Divisi Utama, yang tidak bisa terlaksana kare­na terjadi persoa­lan dengan Badan Olahraga Profe­sional Indonesia (BOPI) dan Kement­erian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Ada wacana membuat kembali Pi­ala Indonesia. Semua klub akan ikut, baik dari ISL, Divisi Utama, dan am­atir. Itu akan digelar satu musim juga beriringan dengan kompetisi.

“Tapi, masih digodok. Sebena­rnya, hal tersebut seperti FA Cup,” terang Wakil Ketua Umum PSSI, Er­win Dwi Budiawan.

(Imam/net)