Untitled-10ADA perkataan Nabi Mu­hammad SAW agar orang Islam berbuat baik kepada tetangganya. Kata Nabi Mu­hammad, “Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hen­daknya ia berbuat baik kepada tetangganya.” Pernah juga Nabi Muhammad berkata bahwa orang yang tidur nyenyak ke­tika tetangganya kelaparan bukanlah bagian dari umatnya. Itulah sebabnya, memelihara kerukunan hidup warga perlu terus dijaga se­bagai bagian dari tugas Ketua Rukun Tetangga (RT). Menurut Mama Arif Hidayat, Ketua RT 04 RW 10, Perum Taman Yasmin Sektor 5, Cu­rug Mekar, Kota Bogor, lingkungan RT menjadi kunci penting dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. “Kadang kita terlalu berpikir dalam masyarakat luas, tapi kita lupa pada tetangga,” ungkap Mama Arif – begitu ia biasa disapa, yang juga budayawan Kota Bogor itu.

Agar tujuan itu tercapai, Ketua RT yang sudah terpilih selama dua periode di lingkun­gannya ini menggelar halal bihalal silaturahmi dengan seluruh warga di lingkungan RT 04 RW 10 pada Sabtu (08/08/2015) lalu. Warga diper­temukan, saling memperkenalkan diri dan ber­baur dalam sajian sederhana. Uniknya, warga disuguhi pertunjukan wayang bambu. Wayang khas asal Bogor dan satu-satunya di Jawa Barat. “Masyarakat tidak boleh meninggalkan identi­tas bangsa. Wayang bambu merupakan bagian dari potensi yang dimiliki Kota Bogor. Ini perlu dikenali dan dinikmati warga,” jelas Mama Arif.

Wayang bambu memang termasuk salah satu jenis kesenian yang langka. Kesenian wayang bambu ini baru berkembang di Bo­gor, Jawa Barat. Tepatnya, di kampung Cijahe , kelurahan Curug Mekar. Karya budaya ini dikembangkan oleh Drajat Iskandar sekitar 2011. Seorang dalang sekaligus pembuat way­ang bambu. Sesuai namanya, wayang bambu terbuat dari jalinan bahan bambu, tepatnya ati bambu. Ati bambu adalah batang bambu bagian dalam. Bambu yang digunakan untuk membuat wayang ini adalah bambu tali. Bam­bu tali sangat lentur, sehingga mudah dianyam dan dibentuk jadi wayang. Sekilas, wayang bambu hampir mirip wayang golek. Begitu pula dengan kostum yang dikenakannya.

Baca Juga :  Dosen Mengabdi IPB Bicara Perubahan Iklim di SMK Pembangunan Kota Bogor

Bedanya, wajah wayang bambu polos tan­pa lukisan. Sedangkan, wajah wayang golek biasanya dilukis dengan lengkap. Ada mata, hidung, bibir, sehingga menyerupai wajah ma­nusia. Wajah wayang bambu memang sengaja dibuat polos. Tujuannya, agar penonton be­bas berimajinasi tentang wajah tokoh wayang tersebut. Hebatnya lagi, dada wayang bambu bisa digerakkan naik turun. Jadi, wayang ini bisa kelihatan seperti manusia bernafas.

Warga Yasmin yang menyaksikan per­tunjukan itu terpana dan sekaligus terbaha-bahak menyaksikan suguhan wayang bambu Ki Drajat, begitu panggilannya. Boneka itu bergerak lincah. Dadanya naik turun seperti orang bernafas. Tangannya menari-nari diir­ingi musik gamelan karawitan Sunda. Wayang dari bambu itu, semakin segar dengan selin­gan pertunjukan sulap dan kehadiran tokoh Ijot sebagai ikon wayang bambu.

Panggungnya menggunakan gedebog pi­sang. Meski diiringi dengan musik karawitan Sunda. ada yang berbeda dari wayang umum­nya. Cerita wayang bambu tidak diambil dari kisah Mahabharata atau Ramayana seperti cerita wayang golek. Cerita wayang bambu justru diangkat dari kisah kehidupan sehari-hari. Selain itu, bahasa yang digunakan dalam pertunjukan wayang bambu adalah bahasa sunda Bogor. “Ini merupakan upaya untuk mendekatkan wayang bambu sebagai bagian dari milik dan kebanggaan warga Bogor. Ikon Kota Bogor,” ungkap Ki Drajat.

Baca Juga :  Komnas HAM Sebut Gas Air Mata di Stadion Kanjuruhan Kedaluwarsa

Drajat Iskandar warga Cijahe, Semplak Kota Bogor memang mencoba menciptakan bentuk baru wayang golek dengan bahan dasar bambu. Seniman sunda ini menciptakan sesuatu yang baru yang diniatkan untuk mem­perkaya khasanah budaya nusantara. Wayang bambu ini menurutnya bisa dikatakan sebuah bentuk pengembangan dari wayang golek pada umumnya. Karena tokoh dan karakter­istik wayang ciptaannya sama seperti yang diperankan wayang golek kayu termasuk or­namaen yang dikenakannya.

Diakui Ki Drajat, pembuatan wayang bambu cukup sulit karena harus menjalin bi­lah-bilah bambu yang rumit. Terutama pada saat membuat suvenir wayang bambu dalam botol yang membutuhkan 3 kali eksperimen untuk mendapatkan bentuk yang sempurna. Wayang bambu dari Cijahe ini memang tak hanya dibuat untuk dipertontonkan, akan tetapi dieskpor sebagai souvenir ke berbagai negara, seperti China, Australia, Jepang dan sebagainya. Ide “Selain wayang bambu utuk di pergelarkan dengan sebuah cerita di atas panggung, saya buat juga dalam bentuk mini sebagai souvenir khas Bogor “ jelas Ki Drajat.

Wayang Bambu ini berawal dari besek bambu yang sering dibuang setelah isinya di makan. Timbullah ide membuat wayang dari bambu. Secara kebetulan, bambu juga sangat banyak di daerah Cijahe ini. Akhirnya lama kelamaan berkembang menjadi sebuah kese­nian baru yang khas dari kota Bogor. Kini, way­ang bambu mulai dikenal di berbagai wilayah Indonesia, bahkan luar negeri pun sudah, seperti Jepang, dan negara-negara ASEAN. Jalinan wayang bambu ini memberi filosofi se­bagai sulaman silaturahmi dan kebersamaan, seperti yang dilakukan warga Yasmin, Bogor.

(Rifky Setiadi)