compressing-balanceJAKARTA, TODAY — Penjuaan daging sapi di wilayah Jabodetabek ( Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) anjlok hingga 40 persen. Ini merupakan dampak dari melambungnya harga eceran daging sapi menjadi Rp 120.000 perkilogram.

 Komite Daging Sapi (KDS) Jakarta Raya mengungkapkan, meroketnya harga daging sapi ini terjadi pada saat daya beli masyarakat sedang menurun akibat rendahnya pertumbu­han ekonomi. Akibatnya, masyarakat mengu­rangi konsumsi daging sapi.

“Penurunan penjualan daging sapi di kalangan pedagang mencapai 30-40%. Saat daya beli masyarakat rendah, di sisi lain harga daging sapi stabil tinggi maka omzet pedagang pasar ikut anjlok,” kata Ketua KDS Jakarta Raya, Sarman Simanjorang, melalui pesan singkat kepada detikFinance, Minggu (9/8/2015).

Berdasarkan perhitungannya, tahun ini kebutuhan daging sapi nasional naik 8,5% dibanding tahun lalu menjadi sekitar 640 ribu ton. Kebutuhan di DKI Jakarta sendiri menca­pai 60 ton per hari. Namun, pemerintah malah mengurangi impor sapi. Akibatnya, terjadi kekurangan pasokan daging sapi di pasar.

“Memasuki bulan puasa kita sudah mera­sakan pergerakan kenaikan harga daging sapi, dan hampir 2 minggu pasca lebaran kita meli­hat harga daging sapi pada posisi stabil tinggi,” dia menuturkan.

Menurutnya, data produksi dan konsumsi daging sapi pemerintah harus dihitung ulang karena tidak sesuai dengan kenyataan di la­pangan. Gara-gara data yang tak valid, kebi­jakan yang diambil menjadi salah.

Baca Juga :  3 Mobil yang Sedang Parkir di RSUP Adam Malik Tertimpa Pohon Tumbang

“Selama ini kita sudah sampaikan ke pemerintah agar benar-benar menghitung sejauh mana daging lokal mampu mensuplai kebutuhan pasar dengan data yang akurat dan secara fisik dipastikan sebagai stok yang siap mensuplai pasar,” tandasnya.

Lebih lanjut, pihaknya mendesak pemer­intah segera sigap mengambil langkah untuk menstabilkan harga daging sapi yang sudah di luar kewajaran ini. “Pemerintah harus segera mengambil langkah-langkah taktis dan strate­gis untuk mengembalikan harga daging sapi di kisaran Rp 90.000-100.000/kg,” pungkasnya.

Seperti diketahui, harga daging sapi di pas­ar-pasar tradisional di Jakarta dan sekitarnya tak kunjung turun meski sudah memasuki pekan ketiga pasca lebaran. Rata-rata harga daging sapi di pasar mencapai Rp 120.000/kg, padahal saat lebaran lalu masih Rp 110.000/kg, dan Rp 90.000/kg dalam kondisi normal.

Lonjakan harga daging sapi terjadi pasca dikuranginya impor sapi bakalan pada kuartal III 2015. Tercatat pada kuartal I 2015 diterbit­kan izin impor sapi bakalan sebanyak 100.000 ekor, 250.000 ekor pada kuartal II, dan 50.000 ekor pada kuartal III.

Baca Juga :  Komunitas Cisadane Resik Ajak Siswa Mengenal Jenis Sampah 

Pengurangan impor ini dilakukan karena Kementerian Pertanian mengklaim bahwa stok di dalam negeri masih melimpah, sehing­ga akan merugikan peternak sapi di dalam negeri apabila dibuka impor lebih dari 50.000 ekor sapi.

Mahalnya harga daging sapi ini membuat para pedagang resah dan akhirnya memutus­kan untuk melakukan pemogokan pada hari ini sebagai aksi protes. Pasalnya, harga daging sapi yang terlampau mahal membuat omzet para pedagang turun.

Mafia Daging Bermain

Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPP IKAPPI) menilai ada ‘permainan’ harga yang dilakukan mafia dag­ing dan oknum importir sehingga daging sapi tembus Rp 120.000 kg.

Menurut Ketua Umum DPP IKAPPI Abdul­lah Mansuri, saat ini stok daging berkurang karena beberapa alasan. Ia menambahkan, situasi ini dimanfaatkan mafia daging dan ok­num importir untuk menggiring opini supaya membuka keran impor. “Kami tidak ingin, ped­agang daging di pasar tradisional menjadi ko­rban dari permainan mafia daging dan oknum importir,” katanya, Minggu (9/8/2015).

Abdullah mengatakan, berkurangnya stok daging sapi di pasaran salah satunya karena perusahaan penggemukan sapi (feedloter) menahan sapi bakalan untuk tidak dipotong dahulu.

(Alfian M|dtc)