HL-Hormat-BenderaINI bukan formalitas upacara, ini juga bukan hukuman bagi warga atau pelajar yang tawuran. Hormat bendera sudah seharusnya dilakukan dengan jiwa nasionalisme demi menumbuhkan rasa persatuan antar warga. Lomba menjadi upaya untuk memelihara semangat kebangsaan.

Oleh : RIFKY SETIADI
[email protected]

Keluarga besar Sekolah PESAT yang terdiri dari SMA, SMK dan termasuk juga ada SMP, siap mendukung nilai nasionalisme dalam “Lomba Hormat Bendera” yang akan digelar di Lapan­gan Heulang pada Minggu-Senin, 16-17 Agustus 2015. Lomba ini merupakan uji ketahanan menghormat ter­hadap Sang Merah Putih yang dilakukan dengan sikap sempurna, sesuai ketentuan penghormatan terhadap bendera kebangsaan. Peserta yang paling lama bertahan dan paling konsisten mempertahankan sikap, dinyatakan sebagai pemenang. Target waktu paling maksimal dalam lomba ini ditetapkan selama 17 jam 45 menit 8 detik. Peserta akan diberikan kesempatan istirahat 17 menit dengan waktu ketentuan istirahat yang ditetapkan oleh penyelenggara.

Baca Juga :  3 Mobil yang Sedang Parkir di RSUP Adam Malik Tertimpa Pohon Tumbang

Banyaknya keluarga besar PESAT, mulai dari staf dan karyawan serta pengurus Yayasan Pesat Birrul Walidain, guru dan karyawan SMP, siswa dan siswi SMA-SMK, guru dan karyawan SMA serta SMK, mulai dari Tata Usaha hingga bagian keamanan, sangat memungkinkan un­tuk mengikuti lomba ini sebagai bentuk dukungan dan partisipasi aktif sekolah, baik sebagai bagian dari warga Bogor, mitra, juga sebagai lem­baga pendidikan yang memu­puk rasa kebangsaan. “Kami siap mendukung lomba ini. Selain unik dan tidak biasa, juga sangat mendorong nilai nasionalisme,” ungkap Heru Budi Setiawan S, Pd.Pkn, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMA Pesat Bogor. Berbagai sekolah lain juga sudah turut mendukung kegiatan ini dengan mengirimkan peser­tanya di ajang uji kebangsaan ini.

Baca Juga :  Sepasang Kekasih Mesum di Kos-kosan Diamankan Satpol PP Padang

Heru menambahkan kegiatan peringatan Agustus di sekolah harus mengarah pada pembentukan karakter cinta bangsa. “Lomba-lomba yang diadakan di sekolah dalam peringatan Hari Kemerdekaan RI memang ha­rus membentuk karakter generasi muda yang mencintai bangsanya,” ujar Heru. Lelaki kelahiran Blora, 19 Mei 1965 yang lulus sebagai sarjana Pendidikan Kewarganeg­araan ini juga mencoba menanamkan dirinya sebagai warga cinta bangsa dengan menggunakan pin merah-putih dan garuda yang tak pernah lepas dari dadanya. “Sudah 3 tahun merah putih ini terpasang di dada,” ung­kapnya. Ia berharap, semngat cinta bangsa menular ter­hadap anak didik dan lingkungannya. Semangat ini patut dihargai. Tentu saja, bukti nasionalisme warga PESAT akan ditantang dan diuji dalam kegiatan ini. (*)