118961_largeINILAH jurus mabuk Republik Rakyat China dalam menyelamatkan perekonomiannya. Melalui bank sentralnya, People’s Bank of China (POBC), Negeri Tirai Bambu ini sengaja melemahkan mata uang yuan terhadap dolar AS (USD). Ini dilakukan karena ekspornya turun, dan daya saingnya harus dinaikkan.

ALFIAN MUJANI
[email protected]

Selasa (11/8/2015), yuan mengalami penurunan ter­endah dalam sehari sejak lebih dari 2 dekade tera­khir. Posisi yuan kembali rendah seperti 3 tahun yang lalu. Langkah POBC ini mengagetkan pasar keuangan dunia, terutama re­gional Asia.

Kemarin, yuan turun hampir 2%, dan para analis menyatakan ini adalah situasi perang mata uang (currency war). Ekspor China me­mang turun lebih dari 8% sepanjang Juli 2015.

 Dilansir dari Reuters, Selasa (11/8/2015), tindakan China ini ikut mengerek turunnya mata uang negara partner dagang China, seperti Austra­lia, Selandia Baru, dan bahkan Jepang.

“Apa yang menarik dari pergerakan hari ini? Tidak ada ukurannya. Kita balik ke posisi di September 2012. Ini adalah perang mata uang,” kata Analis, Simon Derrick.

Kebijakan POBC ini membuat mata uang regional termasuk rupiah anjlok. USD menembus Rp 13.600 pada penu­tupan hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 2,6% dalam se­hari. Bursa saham di regional Asia juga berjatuhan.

“China melakukan depresiasi den­gan melebarkan currency band. Hal ini dilakukan dalam rangka mendorong daya saing ekspor mereka, karena mata uang Jepang, Korea, dan Eropa sudah terdepresiasi cukup besar. Seperti dik­etahui, Jepang dan Korea merupakan saingan dagang dari China,” kata Depu­ti Gubernur Senior BI, Mirza Adityas­wara.

Keputusan bank sentral China ini membawa pengaruh kepada seluruh mata uang di regional Asia, termasuk rupiah. Namun, ujar Mirza, pengaruh terhadap rupiah tidak sebesar yang ter­jadi pada dolar Singapura, won Korea, dolar Taiwan, dan bath Thailand.

Baca Juga :  7 Penyebab Tangan Kesemutan yang Sering Diremehkan

“Kami yakini (dampaknya) akan se­mentara. Kami melihat saat ini rupiah sudah undervalue dan kompetitif ter­hadap ekspor manufaktur dan mendo­rong turis masuk ke Indonesia,” jelas Mirza.

Dia mengatakan, BI akan selalu be­rada di pasar menjaga pergerakan atau volatilitas nilai tukar rupiah, sehingga bisa tetap terjaga. Kemarin, nilai tukar USD semakin perkasa terhadap mata uang negara Asia. Imbas dari pelema­han yuan yang disengaja.

Rupiah pun tak luput terkena penguatan USD. Seperti dikutip dari data perdagangan Reuters, Selasa (11/8/2015), mata uang Paman Sam itu menembus Rp 13.613 sebelum ditutup di Rp 13.595.

Rupiah tidak melemah sendiri, se­luruh mata uang negara di Asia pun jeblok gara-gara langkah kontroversial pemerintah China itu.

Rapat Mendadak

Langkah China melemahkan mata uang yuan yang menggegerkan pasar keuangan dunia ini, membuat nilai ru­piah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) ikut jatuh.

Kemarin, dolar ditutup di Rp 13.610, sementara IHSG turun 2,6%. Menanggapi kondisi ini, Forum Stabili­tas Sistem Keuangan (FSSK) yang ter­diri dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpa­nan (LPS) menngelar rapat mendadak.

Wakil Menteri Keuangan, Mardias­mo, yang memimpin rapat itu men­gatakan, pelemahan yuan membuat IHSG turun dan rupiah melemah. FSSK membahas soal stabilitas sistem keuan­gan menanggapi kondisi ini, baik dari pasar modal, perbankan, atau pun asuransi. Namun, kondisi APBN-P 2015 menurut Mardiasmo masih aman dan tidak terganggu kondisi yang terjadi.

“Seberapa jauh mempengaruhi APBN, kita punya PNBP (penerimaan negara bukan pajak), kita punya utang bunga, intinya jadinya kan kita mem­bayar kewajiban, kita punya PNBP, kita saling mengisi, jadi masih relatif aman dan netral,” jelas Mardiasmo usai rapat FSSK, di kantor Kementerian Keuan­gan, Jakarta, Selasa (11/8/2015).

Baca Juga :  Cambuk 21 Kali, Terpidana Dihukum Atas Kasus Judi Online

Pada Kamis lusa, pemerintah, BI, OJK, dan LPS akan melakukan jumpa pers bersama terkait program stimulus ekonomi yang akan dikeluarkan dalam menghadapi tantangan ekonomi yang semakin berat saat ini. Terutama pasca China mengeluarkan jurus mabuk.

Soal kondisi terkini, FSSK melaku­kan uji tekanan (stress test) melihat dampak tekanan ekonomi ke sektor keuangan. Hasilnya masih aman. “Ma­sih aman dong, relatif aman tapi waspa­da supaya tidak terus menurun, jadi is­tilahnya menjaga stabilitas keamanan, menahan tidak semakin bergejolak,” kata Mardiasmo.

Banjir Produk China

Langkah China melemahkan mata uang yuan tak bisa dianggap remeh. Tujuannya membuat barang ekspor Negeri Tirai Bambu ini makin murah dan berdaya saing di pasar global. In­donesia berjaga-jaga terhadap langkah China ini.

Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel mengatakan, pemerin­tah tidak ingin barang asal China makin membanjiri pasar dalam negeri karena kebijakan pelemahan yuan ini.

China memang mengambil langkah ini karena nilai ekspornya turun hing­ga 8% sepanjang Juli 2015. “Yang jelas kita harus jaga impor kita dari China, karena impor kita dari China sudah cu­kup besar defisitnya. Oleh karena itu kita harus jaga pasar kita supaya jangan dibanjiri produk dari mereka,” jelas Gobel di Istana Negara, Jakarta, Selasa (11/8/2015).

Seperti diketahui, langkah China menurunkan nilai yuan membuat geger pasar keuangan dunia, khusus­nya Asia. Bursa saham hingga mata uang di regional Asia berguguran pada hari ini.

Indonesia memang tidak khawatir dengan pelemahan yuan, karena ru­piah juga sudah cukup melemah dan membuat barang produksi Indonesia cukup berdaya saing. (*)