Untitled-16JAKARTA, TODAY — Jurus mabuk China yang sengaja melemahkan nilai mata uangnya (devaluasi), benar-benar membuat panik dunia. Bah­kan Amerika Serikat pun ketakutan, kare­na langkah China ini akan membuat nilai USD terlalu kuat. Sementara mata uang di Asia terus berguguran terhadap dolar Ameri­ka. Rupiah makin parah, Rabu (12/8/2015) pagi sudah jatuh ke level Rp 13.825 per USD.

 Jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap USD pasca jurus mabuk China tersebut, diyakini akan sangat membahayakan bagi perekonomian Indonesia. “Kondisi ini tentu bahaya loh bagi kita, pemerin­tah sama sekali tidak memprediksi bila yuan dilemahkan, fokusnya pada suku bunga The Fed, bank sentral Amerika Serikat, dari dulu,” ungkap Direktur In­stitute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati, Rabu (12/8/2015).

Enny mengatakan, akibat lemahnya yuan, akan membuat Indonesia bisa dibanjiri barang-barang impor dari China dalam jumlah besar, sementara pemerintah tidak bisa berbuat banyak.

“Kita itu punya perjanjian perdagan­gan bebas dengan China, mau naikin tarif bea masuk untuk tahan serbuan impor nggak akan bisa. Kita hanya bisa tahan dengan kebijakan non tarif,” ungkapnya.

Ia memperkirakan, kondisi akan mem­buat defisit perdagangan dengan China se­makin besar, dan tentunya akan memukul industri dalam negeri. “Rupiah kita makin melemah, yuan makin murah, impor dari China makin besar, defisit perdagangan makin besar pula,’’ kata Enny.

Sementara, mau diterapkan kebi­jakan non tarif sulit, seperti Standar Nasional Indonesia (SNI), karena ha­rus pakai asas resiprokal. ‘’Kenapa sulit? Karena kualitas barang kita juga belum banyak yang bisa SNI, apalagi yang diek­spor ke luar negeri,” jelasnya.

Baca Juga :  Terkait Dugaan Kasus Pelecehan Seksual, Ketua BEM FISIP Unri Dinonaktifkan

Enny menambahkan, kondisi seperti ini diharapkan bisa diantisipasi pemer­intah. Apalagi setelah reshuffle kabibet yang dilakukan Rabu siang. “Pemerintah kita beda dengan pemerintah negara lain, seperti China contohnya, dari ke­marin kita mikirin The Fed melulu ya Bank Indonesia-nya ya Menteri Keuan­gannya, tak tahunya negara lain seperti China nggak disangka melakukan lang­kah devaluasi kita kena, kita kelabakan begini. Namanya pemerintah itu punya strategi, plan A, plan B sampai E, kita kan kalau sudah kejadian baru diantisi­pasi, ujungnya terlambat,” tutup Enny.

Rupiah Paling Parah

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah sudah melemah 10% terhadap USD ta­hun ini. Bank Indonesia (BI) mengakui pelemahan rupiah ini sudah terlalu dalam. “Bank Indonesia melihat bahwa pelemahan rupiah akhir-akhir ini telah terlalu dalam (overshoot) sehingga telah berada jauh di bawah nilai fundamental­nya (undervalued),” kata Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo dalam keterangan tertulis, Rabu (12/8/2015).

Menyikapi perkembangan tersebut, Agus mengatakan bank sentral telah dan akan terus berada di pasar untuk melakukan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah. “Bank Indonesia akan mengop­timalkan bauran kebijakan dan terus berkoordinasi dengan Pemerintah dan otoritas lainnya,” ujarnya.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah Rabu siang kemarin mengalami kore­ksi harian terparahnya di 2015. Dalam setengah hari rupiah anjlok 1,33% ter­hadap dolar AS. Jika dibandingkan awal tahun ini, rupiah sudah anjlok hingga 10,4%. Rupiah juga termasuk mata uang yang kinerjanya paling parah di Asia, di urutan kedua ada ringgit Malaysia.

Amerika Ketakutan

Langkah China yang sengaja me­lemahkan nilai mata uang yuan ternyata juga membuat Amerika Serikat (AS) ket­akutan. Rencana bank sentral AS, The Fed untuk menaikkan bunga acuannya diyakini bakal mundur di tahun ini.

Baca Juga :  Damkar Ajarkan Siswa Cara Padamkan Api

Menteri Keuangan Bambang Brodjo­negoro mengatakan, bila bunga acuan AS naik, maka USD akan makin kuat. Bila ini terjadi, maka barang produksi AS bakal tidak kompetitif dan kalah murah dibandingkan barang China.

“Justru devaluasi China malah bisa membuat The Fed jadi agak ragu-ragu, karena kan kalau dia menaikkan tingkat bunga, makin kuat lagi dia terhadap semua mata uang,” tutur Bambang.

“Padahal dengan China mendevalu­asi, kan berarti sekarang ini pun dolar makin kuat terhadap China dan yang lainnya. Karena begitu China devaluasi, yang lain ikut pasti, atau yang lain terim­bas. Ujungnya kan dolar makin kuat, dolar makin kuat itu juga bisa membuat AS berpikir dua kali,” papar Bambang di Istana Negara, Jakarta, Rabu (12/8/2015).

Pelemahan yuan yang terjadi ini me­nambah ketidakpastian di pasar keuan­gan global. Indonesia harus terus men­jaga kestabilan ekonomi di dalam negeri. Jangan sampai, guncangan dari China membuat dana asing keluar.

Bambang tidak bisa menyalahkan langkah yang dilakukan oleh China. Karena langkah itu dilakukan dalam menghadapi pertumbuhan ekonomi yang melemah dan ekspor yag melam­bat. China menganggap yuan sudah terlalu kuat, dan membuat nilai barang yang diproduksinya tidak bisa bersaing dengan kondisi ekonomi dunia saat ini.

“Devaluasi China ini kenapa dampak­nya besar, mungkin karena semua orang kaget. Tidak menyangka ada gerakan sep­erti ini,” ujar Bambang.

(Alfian M|dtc)