Untitled-4Mikrofon yang dipakai Soekarno saat pembacaan proklamasi, mati ditengah-tengah. Konon karena kabel terinjak oleh pengunjung. Karena itulah saat pembacaan teks prokla­masi suara Bung Karno tidak terdengar dari speaker, jadi hanya orang yang berdiri dekat Bung Karno saja yang mendengar. Begitu sepenggal cerita dalam perjalanan bangsa yang berjuang mengibarkan Sang Merah Pu­tih.

Saat pengibaran pun, balada berkibarnya bendera Sang Merah Putih punya cerita lain. Seorang gadis berjalan bersama Suhud dari halaman belakang membawa nampan berisi bendera jahitan Bu Fatmawati. Ses­eorang berteriak, “Yu Tri – maksudnya SK Trimurti –, sampeyan saja yang mengibarkan bendera!”. SK Trimurti menjawab, “Nggak usahlah, biar laki-laki dan prajurit bersera­gam saja.” Melihat itu Suhud lalu membawa nampan bendera dan menyerahkannya pada Latief Hendraningrat. Latief kaget karena ia datang bukan untuk mengibarkan bendera, tetapi sebagai keamanan. Dalam buku yang diterbitkan Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI tentang Proklamasi ditulis bahwa Suhud ke­mudian mengambil bendera dari nampan lalu mengikatnya ke tali pada tiang bendera. Sementara Latief membantunya mengerek bendera. Sumber lain yaitu Mbah Sudiro mengatakan bahwa saat mengerek bendera Latief juga dibantu oleh mahasiswa Ika Daigaku Prapatan 10, catatan lain menye­butkan nama mahasiwa itu adalah Suraryo. (dikemudian hari muncul nama Ilyas Karim yang mengaku ditugaskan oleh Latief untuk mengerek bendera, yang kebenarannya dito­lak oleh peneliti LIPI Asvi Warman Adam). S. Suhud atau lengkapnya Suhud Sastro Kusu­mo, kemudian dikenal sebagai salah seorang pengibar bendera pusaka saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Tepatnya sebagai pendamping Pak latif Hendraningrat.

Kisah mengenai bendera pun begitu menarik. Bendera Pusaka dikibarkan pada tahun 1945 di Jakarta. Namun pada tahun 1946 – 1948 Bendera Pusaka dikibarkan di Yogyakarta. Pada waktu itu dikibarkan den­gan formasi 5 orang (3 putri dan 2 putra), formasi ini berdasarkan Pancasila. Bendera Pusaka dikibarkan sejak tahun 1945 – 1966 dengan formasi tersebut, sedangkan sejak tahun 1967 mulai menggunakan formasi pa­sukan 17-8-45 dan sejak saat itu pula Bendera Pusaka diganti dengan Bendera Duplikat.

Bendera Duplikat dibuat di Balai Pene­litian Tekstil Bandung yang dibantu oleh PT Ratna di Ciawi, Bogor. Upacara penyerahan Bendera Duplikat dilaksanakan pada tang­gal 5 Agustus 1969 di Istana Negara Jakarta yang bertepatan dengan reproduksi Naskah Proklamasi Kemerdekaan. Bendera Duplikat mulai dikibarkan bersama dengan utusan-utusan dari 26 propinsi sejak tahun 1969 sampai dengan sekarang.

Bendera Duplikat dibuat dari benang wol dan terbagi menjadi 6 carik kain (masing-masing 3 carik merah dan putih). Sedangkan Bendera Pusaka terbuat dai kain sutera asli.

Nama pasukan pengibar bendera pada tahun 1967 – 1972 dinamakan Pasukan PengerekBendera, sedangkan mulai tahun 1973 sampai dengan sekarang dinamakan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paski­braka). Regu-regu pengibar sejak tahun 1950 – 1966 diatur oleh rumah tangga kepreside­nan, setelah itu diganti oleh Direktorat Pem­binaan Generasi Muda.

Bendera pusaka adalah bendera yag di­jahit tangan oleh Ibu Fatmawati Soekarno dan dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur 56, saat prokla­masi kemerdekaan RI di Jakarta, oleh Latief Hendraningrat dan Suhud. Bendera pusaka berkibar siang dan malam di tengah hujan tembakan. Karena aksi teror Belanda sema­kin meningkat, presiden dan wakil presiden Republik Indonesia dengan menggunakan kereta api meninggalkan Jakarta menuju Yogyakarta.

Baca Juga :  Ini Dia Kebiasaan Sederhana Agar Aging Gracefully, Simak Ini

Bendera pusaka dibawa ke Yogyakar­ta dan dimasukkan dalam koper pribadi Soekarno, hingga ibukota Republik Indone­sia dipindahkan ke Yogyakarta. Selanjutnya sejak tahun 1946 hingga 1949, bendera ini dikibarkan di Istana Gedung Agung Yogya­karta. Tanggal 19 Desember 1948, Belanda melancarkan agresinya yang kedua di Yogya­karta. Presiden, wakil presiden dan bebera­pa pejabat tinggi Indonesia akhirnya ditawan Belanda. Namun, pada saat-saat genting di­mana Istana Presiden Gedung Agung Yogya­karta dikepung oleh Belanda, Soekarno sem­pat memanggil salah satu ajudannya, Mayor M. Husein Mutahar. Sang ajudan lalu ditugas­kan untuk untuk menyelamatkan bendera pusaka. Penyelamatan bendera pusaka ini merupakan salah satu bagian “heroik” dari sejarah tetap berkibarnya Sang Merah putih di persada bumi Indonesia. Saat itu, Soek­arno berucap kepada Mutahar:

“Apa yang terjadi terhadap diriku, aku sendiri tidak tahu. Dengan ini aku mem­berikan tugas kepadamu pribadi. Dalam keadaan apapun juga, aku memerintahkan kepadamuuntuk menjaga bendera kita den­gan nyawamu. Ini tidak boleh jatuh ke tangan musuh. Di satu waktu, jika Tuhan mengizink­annya engkau mengembalikannya kepadaku sendiri dan tidak kepada siapa pun kecu­ali kepada orang yang menggantikanku seki­ranya umurku pendek. Andaikata engkau gugur dalam menyelamatkan bendera ini, percayakanlahtugasmu kepada orang lain dan dia harus menyerahkannya ke tanganku sendiri sebagaimana engkau mengerjakan­nya.” Sementara di sekeliling mereka bom berjatuhan dan tentara Belanda terus men­galir masu melalui setiap jalanan kota, Mu­tahar terdiam. Ia memejamkan mataya dan berdoa, Tanggungjawabnya terasa sungguh berat. Akhirnya, ia berhasil memecahkan kesulitan dengan mencabut benang jahitan yang menyatukan kedua bagian merah dan putih bendera itu. Dengan bantuan Ibu Per­na Dinata, kedua carik kain merah dan putih itu berhasil dipisahkan. Oleh Mutahar, kain merah dan putih itu lalu diselipkan di dasar dua tas terpisah miliknya. Seluruh pakaiandan kelengkapan miliknya dijejalkan di atas kain merah dan putih itu. Ia hanya bisa pas­rah, dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Yang ada dalam pemikiran Mutahar saat itu hanyalah satu: bagaimana agar pihak Be­landa tidak mengenali bendera merah-pu­tih itu sebagai bendera, tapi hanya kain bi­asa, sehingga tidak melaku-kan penyitaan. Di mata seluruh bangsa Indonesia, bendera itu adalah sebuah “prasasti” yang mesti diselamatkandan tidak boleh hilang dari jejak sejarah.

Benar, tak lama kemudian Presiden Soekarnoditangkap oleh Belanda dan dias­ingkan ke Prapat (kota kecil di pinggir da­nau Toba) sebelum dipindahkan ke Muntok, Bangka, sedangkan wakil presiden Moham­mad Hatta langsung dibawa Bangka. Mutahar dan beberapa staf kepresidenan juga ditang­kap dan diangkut dengan pesawat Dakota. Ternyata mereka dibawa ke Semarang dan ditahan di sana. Pada saat menjadi tahanankota, Mutahar berhasil melarikan diri den­gan naik kapal laut menuju Jakarta.

Di Jakarta Mutahar menginap di rumah Perdana Menteri Sutan Syahrir, yang sebelumnyatidak ikut mengungsi ke Yog­yakarta. Beberapa hari kemudian, ia kost di Jalan Pegangsaan Timur 43, di rumah Bapak R. Said Soekanto Tjokrodiatmodjo (Kepala Kepolisian RI yang pertama).

Baca Juga :  Percasi Kabupaten Bogor Targetkan 7 Emas Pada Porprov XIV Jabar 2022

Selama di Jakarta, Mutahar selalu men­cari informasi dan cara bagaimana bisa segera menyerahkan bendera pusaka kepada presiden Soekarno. Pada suatu pagi sekitar pertengahan bulan Juni 1948, akhirnya ia menerima pemberitahuan dari Sudjono yang tinggal di Oranje Boulevard (sekarang Jalan Diponegoro) Jakarta. Pemberitahuan itu me­nyebutkan bahwa ada surat dari Presiden Soekarno yang ditujukan kepadanya.

Sore harinya, surat itu diambil Mutahar dan ternyata memang benar berasal dari Soekarno pribadi. Isinya sebuah perintah agar ia segera menyerahkan kembali ben­dera pusaka yang dibawanya dari Yogya ke­pada Sudjono, agar dapat dibawa ke Bangka. Bung Karno sengaja tidak memerintahkan Mutahar sendiri datang ke Bangka dan me­nyerahkan bendera pusaka itu langsung ke­padanya. Dengan cara yang taktis, ia meng­gunakan Soedjono sebagai perantara untuk menjaga kerahasiaan perjalanan bendera pusaka dari Jakarta ke Bangka.

Itu tak lain karena dalam pengasingan, Bung Karno hanya boleh dikunjungi olehang­gota delegasi Republik Indonesia dalam pe­rundingan dengan Belanda di bawah penga­wasan UNCI (United Nations Committee for Indonesia). Dan Sudjono adalah salah satu anggota delegasi itu, sedangkan Mutahar bu­kan.

Setelah mengetahui tanggal keberang­katan Soedjono ke Bangka, Mutahar beru­paya menyatukan kembali kedua helai kain merah dan putih dengan meminjam mesin jahit tanganmilik seorang istri dokter yang ia sendiri lupa namanya. Bendera pusaka yang tadinya terpisah dijahitnya persis mengikuti lubang bekas jahitan tangan Ibu Fatmawati. Tetapi sayang, meski dilakukan dengan hati-hati, tak urung terjadi juga kesalahan jahit sekitar 2 cm dari ujungnya.

Dengan dibungkus kertas koran agar ti­dak mencurigakan, selanjutnya bendera pu­saka diberikan Mutahar kepada Soedjono un­tuk diserahkan sendiri kepada Bung Karno. Hal ini sesuai dengan perjanjian Bung Karno dengan Mutahar sewaktu di Yogyakarta. Dengan diserahkannya bendera pusaka ke­pada orang yang diperintahkan Bung Karno maka selesailah tugas penyelamatan yang dilakukan Husein Mutahar. Sejak itu, sang ajudan tidak lagi menangani masalah pengi­baran bendera pusaka.

Tanggal 6 Juli 1949, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta kem­bali ke Yogyakarta dari Bangka dengan mem­bawa serta bendera pusaka. Tanggal 17 Agus­tus 1949, bendera pusaka dikibarkan lagi di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta. Naskah pengakuan kedaulatan lndonesia ditandatangani 27 Desember 1949 dan sehari setelah itu Soekamo kembali ke Jakarta untuk memangku jabatan Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS). Setelah em­pat tahun ditinggalkan, Jakarta pun kembali menjadi ibukota Republik Indonesia. Hari itu juga, bendera pusaka dibawa kembali ke Ja­karta.

Untuk pertama kalinya setelah Prokla­masi bendera pusaka kembali dikibarkan di Jakarta pada peringatan Detik-detik Proklamasi17 Agustus 1950. Setelah itu ben­dera terus dikibarkan setiap tanggal 17 Agus­tus hingga berakhirnya masa pemerintahan Soekarno. Kini, para pengibar bendera den­gan gagah berani menjadi pewaris semangat perjuangan pengibaran bendera Merah Pu­tih. Itulah sebabnya, penghormatan terha­dap Sang Merah Putih layak dilakukan untuk mengenangperjalanan bangsa ini. (*)