agus-lapasBOGOR, TODAY — Selain over­load alias penuh sesak, Lemba­ga Pemasyarakatan Kelas II Bo­gor atau lebih dikenal dengan Lapas Paledang, ternyata juga belum memiliki fasilitas sarana tempat ibadah baik masjid, gereja maupun tempat ibadah lainnya.

“Selama ini sarana untuk ibadah menggunakan aula yang berada di bagian tengah Lapas. Aula ini multi fungsi, selain tem­pat ibadah, juga untuk beragam kegiatan pembinaan lainnya,” kata Kepala Keaman­an Lapas Paledang Bogor, Agus Salim, Se­lasa (18/8).

Agus mengatakan, fasilitas sarana iba­dah sangat diperlukan selain sebagai tem­pat ibadah juga tempat pembinaan kero­hanian, menuntut ilmu agama bagi para warga binaan. Tempat ibadah merupakan kebutuhan dasar untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Karena tak memiliki tempat ibadah, maka warga binaan selalu menggunakan aula secara bergantian untuk solat dan ke­baktian. Aula juga digunakan sebagai tem­pat latihan bermusik, perpustakaan, dan latihan marawis. “Pada hari Jumat, aula dirapihkan untuk melaksanakan shalat jamaah Jumat. Begitu juga saat bulan pua­sa,” kata dia.

Baca Juga :  Nyeri Punggung? Ini Dia 7 Cara Mengatasinya

Menurut Agus, sejak awal dibangun pada zaman Kolonial Belanda, Lapas Paledang me­mang tidak dilengkapi tempat ibadah. Ter­lebih lagi kondisi lapas yang berada di tengah kota di area sempit, sangat sulit untuk mem­bangun tempat ibadah.

Harusnya, lanjut dia, setiap Lapas dilengkapi sarana ibadah tidak hanya mas­jid, tetapi juga gereja, vihara, maupun pura. Agar selama dalam masa tahanan, warga binaan dapat mendekatkan dirinya kepada Tuhan. “Apalagi Lapas Paledang ini masuk sebagai benda cagar budaya sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010, ka­lau mau membangun atau merombak ha­rus ada izin. Dan tidak mudah untuk mere­novasi bangunan cagar budaya,” katanya.

Ia mengatakan, dalam waktu dekat Lapas Paledang akan mendirikan masjid yang biayanya berasal dari hibah sebuah yayasan dari salah satu pondok pesantren yang ingin memberikan pembinaan ke­pada warga binaan. “Rencananya masjid akan dibangun di atas aula, jadi berada di lantai dua,” katanya.

Baca Juga :  Timnas Qatar Dipastikan Gagal Mendapatkan Tiket 16 Besar Piala Dunia 2022

Agus menambahkan, sebagian besar penghuni Lapas Paledang beragama Islam. Oleh karena itu, prioritas utama dibangun adalah masjid, dengan pertimbangan ang­garan dan luas lahan yang terbatas.

Selain tidak memiliki sarana tempat ibadah, kondisi Lapas Paledang mengal­ami kelebihan kapasitas. Saat ini jumlah warga binaan sebanyak 1.053 orang yang terdiri atas tahanan 249 orang, narapidana 804 orang.

Berdasarkan jenis kelamin, jum­lah warga binaan laki-laki sebanyak 945 orang, perempuan 96 orang, anak (pria) dua orang dan warga negara asing satu orang.

Kapasitas hunian dengan luas kamar 989,2 meter persegi (m2) idealnya untuk satu orang, atau sama dengan 5,4 m2, menu­rut surat edaran Ditjen Lembaga Pemasyara­katan Nomor E.PS.01.06-16 tanggal 23 Okto­ber 1996 idealnya untuk 186 orang.

Sedangkan kapasitas hunian berdasar­kan tempat tidur untuk ukuran 2 m2, daya tampung sebanyak 498 orang. Saat ini Lapas diisi 1.053 warga binaan, kelebihan kapasitas sebanyak 555 orang atau 100,11 persen.

(Guntur Eko Wicaksono|Yuska Apitya)