20062014_agus_martowardojoJAKARTA, TODAY — Kegadu­han moneter dunia belum juga reda setelah mendevaluasi yuan, China kembali membuat keju­tan. Kali ini Bank sentral China, The People’s Bank of China (PBoC), memangkas suku bunga 25 basis poin menjadi 4,6%.

Ini merupakan kelima ka­linya China memangkas suku bunga sejak November tahun lalu. Sebelumnya suku bunga China 4,85%. Seperti dikutip dari BBC, Selasa (25/8/2015), pemangkasan suku bunga ini untuk menggenjot per­tumbuhan ekonomi yang sudah melambat.

Bank sentra Chi­na, juga memang­kas Reserve Requirement Ratio (Rasio Cadangan Wajib) sebesar 50 basis poin sehingga perbankan setempat punya banyak dana untuk menyalurkan kredit.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menilai langkah tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi China. “Kita melihat keunikan daripada pasar keuangan global itu cukup terus kita waspada. Kita melihat policy rate di­turunkan dan terjadi perkuatan yuan. Ini mengundang kesan penurunan tingkat bunga di Tiongkok nanti di­harapkan membuat pertumbuhan ekonomi Tiongkok lebih baik,” ung­kapnya di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Selasa (25/8/2015)

Baca Juga :  Viral Spiderman Salat Jumat, Netizen : Ingat Jaring Laba-laba Juga Titipan Tuhan

China memang diproyeksikan tidak bisa tumbuh di atas 7% pada tahun ini. Sehingga beberapa langkah diupayakan China, khususnya dari sisi moneter.

“Di 2015 ini mungkin ekonomi Tiongkok akan ada di bawah 7%. Se­andainya di 2016 semua masih mem­bicarakan tentang ekonomi Tiongkok yang bisa 6,3%. Langkah yang diambil otoritas ekonomi Tiongkok kelihat ben­tuk konsisten untuk jaga pertumbuhan ekonomi di Tiongkok,” paparnya.

Agus menuturkan, sebelumnya telah dilakukan langkah devaluasi ter­hadap mata uang. Tujuannya sama, adalah mendorong ekspor yang meru­pakan komponen dari pertumbuhan ekonomi.

“Kita lihat ketika devaluasi, tu­juannya untuk bisa mengejar ekspor. Seandainya sekarang dilakukan penu­runan tingkat bunga itu juga memberi­kan reaksi optimisme,” tegas Agus.

Baca Juga :  Oknum Guru Ngaji di Bogor Diduga Cabuli 5 Anak Didiknya

Menurut Agus Martowardojo, hubungan perdagangan Indonesia dan China sangatlah tinggi. Karena tercatat sebesar 25% ekspor Indone­sia adalah ke China.

Sehingga bila ekonomi China bisa tumbuh lebih tinggi, maka permin­taan untuk impor akan mengikuti. In­donesia bisa memasok barang untuk kebutuhan China.

“Itu kita sambut baik. Kalau eko­nomi Tiongkok tidak terus menurun kita harapkan akan baik bagi negara yang selama ini punya hubungan perdagangan cukup erat dengan Tiongkok,” jelasnya.

Bila ekspor Indonesia meningkat, maka pertumbuhan bisa lebih tinggi dari yang diperkirakan, sekitar 5%. Karena ada dorongan dari investasi dan konsumsi rumah tangga yang juga cu­kup besar. “Jadi bagi Indonesia kita ha­rapkan volume ekspor terjaga dan kita harapkan penyesuaian harga komoditas lebih baik,” ujarnya.

(Alfian M|detik)