IMG_20150825_161551Sama halnya dengan fashion, tren rambut pun terus berkembang. Bahkan gaya jadul (jaman dulu) pun kian digandrungi. Tengok saja penampilan para musisi, pesepakbola, bintang film hingga para kawula muda saat ini yang makin percaya diri dengan berpenampilan klimis layaknya Elvis Presley kala itu. Tren tersebut tentunya berimbas terhadap gairah industri kreatif, yakni usaha pangkas rambut dan usaha minyak rambut berjenis pomade.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Sama halnya dengan fash­ion, tren rambut pun terus berkembang. Bahkan gaya jadul (jaman dulu) pun kian digandrungi. Tengok saja penampilan para musisi, pesepakbola, bintang film hingga para kawula muda saat ini yang makin percaya diri dengan berpenampilan klimis layaknya Elvis Presley kala itu. Tren tersebut tentunya berimbas terhadap gairah industri kreatif, yak­ni usaha pangkas rambut dan usaha minyak ram­but berjenis pomade.

Tak terkecuali di Bo­gor, tren rambut rapi nan klimis ini pun banyak dimati para generasi muda keki­nian. Padahal tren rambut macam ini sudah populer sejak era 1930 hingga 1960- an. Untuk membantu penampilan supaya ganteng maksimal, selain potongan ram­but bergaya sleeky dan pompadour, juga yang tak kalah penting adalah penggunaan minyak rambut.

Salah satu produk minyak rambut yang sedang popular di Indonesia adalah po­made. Pomade adalah minyak rambut ber­bentuk gel yang bisa membuat rambut ter­lihat mengilap, licin dan klimis. Fenom­ena tren pomade itu ditangkap sejumlah pelaku usaha sebagai peluang bisnis.

Salah satunya, usaha yang tengah digeluti dua anak muda asal Bogor, yakni Alenia Agustin (21) dan Imam Nur Akbar (23). Le­wat brand lokal, Legisa Pomade, mereka mulai merintis usaha sejak November 2014.

Lea, sapaan akrab Alenia Agustin, mengungkapkan, ketertarikan dirinya untuk memproduksi sendiri pomade karena melihat tren gaya rambut diling­kungan teman-temannya. “Awalnya sih nggak tahu menahu soal pomade itu apa. Tapi karena temen kebetulan punya barbershop dan saya sering main ke situ makanya jadi tau. Apalagi waktu itu saya diajak untuk menghadiri gathering peng­guna dan pengoleksi pomade di Depok. Jadi makin tertarik,” kata Lea.

Sering bergabungnya Lea dengan komunitas pomade, membuat penge­tahuannya bertambah. Selain banyak menggunakan bahan alami, seperti lilin lebah dan minyak zaitun, pomade juga menurut Lea bisa dengan mudah dibuat.

“Kemudian saya searching di Google mengenai cara dan bahan yang digunak­an untuk membuat pomade. Saya juga banyak tanya-tanya ke teman yang sduah lebih dulu terjun ke bisnis ini. Ya, pada kenyataannya memang tidak terlalu mu­dah untuk membuatnya. Pomade buatan saya harus memasuki proses trial and error sebelum akhirnya mendapatkan komposisi yang pas,” bebernya.

Bermodalkan Rp3,5 juta akhirnya Lea dibantu rekannya Imam percaya diri untuk serius dibidang produksi Po­made. Nama brand Legisa Pomade pun dipilih yang merupakan singkatan dari keluarga Lea, Yogi dan Elsa. “Saya bikin dulu beberapa pcs untuk di coba ke te­man-teman. Ternyata respon mereka ba­gus. Kemudian kami coba buat 60 pcs,” ungkap Lea yang melakukan produksi di rumahnya, Jalan E Sumawijaya, Kam­pung Sindangbarang, Ciapus, Bogor.

Jika Lea fokus diproduksi. Imam mendapat tugas untuk fokus di pema­saran. Dijelaskan Imam, saat ini Legisa Pomade mampu memproduksi 120 pcs per dua bulan. “Karena bisnis pomade ini tidak seperti bisnis makanan yang di­beli lalu dimakan dan habis. Satu kaleng pomade biasanya bisa digunakan paling cepat dua minggu dan paling lama seblu­an, tergantung pemakaiannya,” jelas dia.

Untuk satu kaleng pomade 90 gram, Legisa membanderol Rp80 ribu. “Kami ada dua varian, yakni medium hold un­tuk rambut lurus dan heavy hold untuk rambut ikal atau keriting. Untuk jenisnya yang kami produksi oil based, jadi lebih tahan lama,” terangnya.

Produk Legisa Pomade, lanjut Imam, sudah bisa di dapat di barbershop di Bo­gor, seperti Kingz, Axel, Warrior dan se­jumlah barbershop lainnya. “Sosial media juga kami manfaatkan untuk berjualan. Untuk kota, selain Bogor, Legisa juga bisa didapat di Depok, Sukabumi dan Jakarta. Rencananya kami mau kembangkan ke Riau. Kebetulana da teman di sana yang tertarik jadi reseller,” tandasnya.

Distributor Juga Panen

Bukan hanya produsen yang menyisir rezeki dari bisnis pomade. Sejumlah dis­tributor juga ketiban berkah. Contohnya Nurkhoirulloh asal Tangerang, Banten. Pria yang akrab disapa Irul ini telah menekuni usaha distributor pomade se­jak tiga tahun lalu.

Irul adalah distributor pomade im­por dari Amerika Serikat. Selain produk impor, ia juga distributor pomade lokal. “Saya punya keinginan memperkenal­kan pomade lebih jauh di Indonesia le­wat bisnis ini,” ujarnya.

Selain menjadi distributor resmi pomade untuk wilayah Provinsi Suma­tra Selatan, Irul juga juga memasarkan produknya ke berbagai kota besar di Indonesia. Antara lain, Lombok, dan Makassar.

Produk pomade yang dijual Irul mer­eknya beragam, yakni Dapper Pomade, Bung Gurindam, dan Bung Kretek Shear Revival. Harganya Rp 80.000 per kaleng- Rp 300.000 per kaleng. Dari bisnis ini, Irul bisa meraup omzet Rp 6 juta-Rp 10 juta per bulan.

(Apriyadi Hidayat)