20131223_150141TUNG Bwe Hoa (Bertha Tungga), Putri pertama dari lima bersaudara pasangan Liauw Lian Nio (Liani Lukman) dan Tung Dji Ang (Darmawan Tungga). Keterpurukan keluarganya sejak ayahnya sakit keras, mengharuskan Bertha menjadi tulang punggung keluarga sejak masih duduk dibangku SMA.

Oleh : Latifa Fitria
[email protected]

Terlahir sebagai anak pengusaha berlian kala itu, Bertha tergolong putri yang serba berkecukupan. Sejak kecelakaan ayahnya saat menyelamatkan nyawa oranglain di Jembatan Empang, mengha­ruskan Darmawan sakit selama empat tahun lebih, lanta­ran salah satu ginjalnya tak mau bekerja.

Istilah “sudah jatuh tertimpa tangga juga”, itu yang dialami oleh keluarga Tungga ini. Pasca sakit yang diderita ayahnya, keluarga itu juga harus menelan pil pahit karena usaha berlian ayahnya ditipu oleh teman ayahnya sendiri.

“Sejak saat itu saya dan mama mulai menjual emas-emasan yang kami miliki, saya juga sekolah sambil nyambi. Sebab ke-empat adik saya juga harus meneruskan seko­lahnya,” ungkap Bertha saat ditemui.

Ia kembali mengakui jika memang rencana tuhan ti­dak ada yang tahu, dan ia sangat meyakini jika tuhan sangat memberkati keluarga dan memiliki maksud yang baik ke­padanya. Wanita kelahiran 27 Juni 1953 ini akhirnya mam­pu menyelesaikan sekolahnya di Kejuruan, dengan kondisi harus mondar-mandir ke Rumah Sakit Saint Carolus karena harus menjaga ayahnya juga saat dirawat.

Baca Juga :  Protes Jalan Rusak, Warga Bogor Tanam Pohon Pisang

“Sehari saya tidak nengok, papa nanya-nanya terus. Jadi saya pulang sekolah langsung ke rumah sakit jagain papa,” kenangnya.

Normalnya orang jaman dahulu, setelah lulus sekolah langsung bekerja. Itupun dijalani oleh Bertha, Ia langsung bekerja di salah satu apotik mata. Kini apotik itu menjadi salah satu apotik bergengsi di Indonesia, dalam waktu tiga bulan ia langsung mendapatkan kenaikan gaji karena lebih memilih lembur terus.

Diskriminasi juga ia dapatkan dari teman-teman se­jawatnya yang datang dari Jawa, karena pada saat itu han­ya Bertha dan temannya Lily saja yang cina sunda.”Lama-lama saya jengkel juga, akhirnya saya lawan mereka. Setelah saya tantangin mereka tidak pernah berani lagi mendiskriminasikan saya,” ungkapnya.

Baca Juga :  Gejala Alam di Selat Sunda, BMKG Minta Semua Bersiap

Saking terlalu fokus dengan keluarga dan kariernya, Bertha lupa untuk urusan asmara. Wanita yang hingga kini masih terlihat nampak cantik itu memilih untuk tidak menikah, walaupun kala itu banyak pria yang antri beru­saha mendekatinya. “Sebetulnya saya takut juga untuk menikah, karena terlalu banyak percampuran adat yang rumit nantinya. Saya lihat itu dari keluarga saya yang lain, tetapi salah satunya karena terlalu fokus untuk keluarga, jadi saya telat menikah hingga akhirnya keinginan menikah itu hilang sendiri,” paparnya.

Kini, Bertha usaha sendiri untuk membiayai hidupnya. Yang ia miliki hanya mama berusia 89 tahun dan kepon­akan dari adik-adiknya. “Saya usaha bedcover dan seprai kasur ini untuk saya sendiri, mama dan keponakan saya. Walaupun saya tidak memiliki anak dan pasangan hidup, tetapi saya tidak mau menyusahkan adik-adik saya. Saya harus berusaha sendiri,” pungkasnya.