BOGOR TODAY – Organisasi Internasional Solidarity Center menggandeng Migrant Care Indonesia menggelar konferensi global bertajuk “Migrasi Buruh: Siapa yang untung?”. Bertempat di Novotel Ho­tel, jejamuan ini dihadiri lebih dari 250 peserta dari 25 negara.

Rekomendasi dari konferensi ini ada­lah meminta negara-negara pengirim dan penerima imigran, untuk memastikan melindungi hak-hak buruh imigrasi dari ekploitasi dan mendorong negara pen­girim buruh migran untuk mensejahtera­kan para buruh. Mereka juga ingin mem­buat reformasi sistem perekrutan yang tidak merugikan buruh migran dan me­mangkas agen buruh yang nangkal.

Direktur Eksekutif Solidarity Center, Shawna Bader-Blau, mengatakan, konfer­ensi ini diharapkan dapat menjadi forum berbagi ide untuk menjawab tantangan dan persoalan buruh migran diseluruh dunia. Ia juga menjelaskan, organisasi yang memperjuangkan hak pekerja ini telah mendata lebih dari 247 juta buruh di seluruh dunia yang bermigrasi ke negara lain untuk mencari kesejahteraan.

Baca Juga :  BPBD Bogor Mencatat 13 Bencana Dampak Hujan Deras dan Angin Kencang

Menurut Shawna, para buruh migran itu rawan eksploitasi. Besar kemungki­nan para buruh migran mendapat per­lakuan buruk dari majikan, mengalami ketidakadilan pemberian upah, pengani­ayaan, hingga risiko kematian. “Ini naman­ya perbudakan, kami akan berupaya keras untuk menghapuskan biaya terhadap bu­ruh migran, ” ungkapnya.

Shawna kembali menegaskan, un­tuk mengatasi hal itu, Solidarity Center bersama seluruh partisipan konferensi, menggagas kampanye pembebasan uang rekrutmen untuk buruh migran. Hal terse­but juga tengah diupayakan di Indonesia oleh organisasi Migrant Care.

Sementara itu, Anis Hidayah, Direk­tur Eksekutif Migrant Care, mengatakan akan segera membawa hasil konferensi ke pemerintahan Jokowi untuk ditindaklan­juti. Dirinya menegaskan, hasil yang telah didapatkan antara lain mendesak negara pengirim, negara penerima, dan negara transit untuk melindungi hak-hak buruh migran, khususnya para pekerja domestik. Menurut Anis, forum ini juga mendorong negara pengirim buruh mi­gran untuk mereformasi sistem rekrut­men, yakni meniadakan biaya penem­patan migran ke Luar Negeri. “Sampai sekarang, buruh migran belum semuanya mendapat keuntungan dari migrasi. Justru yang diuntungkan para mafia penempa­tan buruh migran,” tegasnya.

Baca Juga :  4 Lokasi di Kota Bogor Dikepung Bencana Dampak Dari Hujan Deras

Analisis kebijakan Migrant Care, Wahyu Susilo, mengatakan, pihaknya akan mengubah kebijakan publik, dan me­nekan para agen-agen buruh untuk tidak mengambil keuntungan kepada buruh imigran. “ Harus segera dihapuskan biaya kepada para buruh imigran yang ingin bekerja. Karena hampir semua agen selalu mengambil keuntungan dari tiap buruh imigran,” kata dia.

(Rizky Dewantara)