20150831_150130Bisnis es krim seolah tak pernah mencair. Maklum, es krim bisa disajikan dalam cuaca dan momentum apapun. Bahkan, peminatnya datang dari berbagai kalangan, mulai dari bocah hingga orangtua cukup menggandrungi kudapan ini. Peluang tersebut kemudian ditangkap oleh sejumlah pelaku usaha. Salah satu pemainnya adalah kakak beradik, Hasril Arsyad dan Hanif Fadillah dengan bendera Ti-Is Home Made Ice Cream. Usaha itu baru mereka dirikan sejak awal Agustus 2015 di Jalan Tegallega, Kota Bogor.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Es krim kian digandrungi banyak orang. Hal tersebut bisa dilihat dari menjamurnya usaha olahan es krim. Beragam kreasi pun coba ditawarkan guna menarik perhatian pembeli. Terlebih, tren memotret makanan atau minuman dan dibagikan di sosial media tengah melanda kawula muda.

Tak mau ketinggalan, Ti-Is Home Made Ice Cream pun turut menambah daftar pilihan bagi penggemar es krim. Yang menjadi pembeda, Ti-Is menawarkan es krim dengan dressed cone unik. Selain itu, Ti-Is juga memproduksi sendiri es krim yang disuguhkannya.

“Pasar kuliner di Bogor terus menunjukan perkem­bangan yang luar biasa. Makanya, saya dan kakak saya mencoba meramaikannya lagi dengan varian berbeda. Kami melihat es krim dengan dressed cone belum ada di Bogor. Jadi, kami bikin ini,” ungkap Operasional Manager Ti-Is, Hanif Fadillah kepada BOGOR TODAY, kemarin.

Hanif mengatakan, pembeda Ti-Is dengan es krim yang ada di Bogor, adalah dari sisi penampilan dan rasa yang ditawarkan. Selain memiliki empat varian rasa, seperti blueberry, tiramisu, green tea dan vanilla, Ti-Is juga memiliki dressed cone yang unik karena su­dah kita rekatkan dengan sereal, mulai dari fruit loop, honey stars dan koko krunch. “Bisa ditumpuk bebera­pa scoop es krimnya. Kami juga menyediakan topping astor dan lain-lain,” katanya.

Untuk harga, Ti-Is membanderol mulai dari Rp12 ribu hingga Rp18 ribu. “Saya rasa harga tersebut san­gat pas dengan apa yang kami tawarkan. Kami memilih lokasi di Jalan Tegallega dekat kampus Universitas Pak­uan ini karena kami rasa segmennya cocok, yakni pe­lajar dan mahasiswa,” jelas pria yang masih berstatus sebagai mahasiswa itu.

Trial and Error

Meski baru sekitar sebulan menjalan usaha es krim tersebut, dua orang kakak beradik ini rupanya sudah mempersiapkan usahanya tersebut sejak enam bulan yang lalu. Saat itu, mereka memulainya dengan mencari cara membuat es krim yang lezat dengan tekstur lembut.

Hanif bercerita, persiapan yang paling matang adalah ketika akan memulai usaha lantaran ha­rus membuat es krim sendiri. “Kami terus cari cara bagaimana menemukan komposisi yang cocok. Selain searching di internet, kami juga rajin hunting ke outlet penjual es krim, kami juga sering mengun­jungi food festival,” terangnya.

Dari situ, mereka mencoba mengaplika­sikannya dengan meracik sendiri es krim. Setelah jadi, es krim tersebut tak langsung di lepas ke pasaran. Pihaknya menjadi keluarga dan orang-orang terdekatnya untuk melaku­kan tes pasar. “Akhirnya kami menemukan komposisi yang pas, baik dari segi rasa mau­pun teksturnya. Dan awal Agustus menjadi debut kami,” jelas dia.

Untuk memasarkan produknya itu, Hanif men­gaku, bahwa Ti-Is mengandalkan promosi media sosial, seperti path dan instagram. “Pengemban­gan ke depan tentunya kami akan menambah varian rasa, terus kami juga sedang mempersiap­kan cabang baru,” katanya, sekaligus menmabhkan bahwa usahanya tersebut belum terpikir untuk di­waralabakan.

Nah, jika Anda ingin menikmati the first dressed cone ice cream in Bogor, Anda bisa mengunjungi Ti- Is di Jalan Tegallega No 176 (seberang Alfamart Pakuan) mulai pukul 11:00 hingga 19:00 WIB.

(Apriyadi Hidayat)