CI-B0oKUAAQWCvzTak jarang sebuah bisnis terlahir berkat hobi yang digeluti. Hobi yang menyuguhkan kepuasan tersendiri bagi penikmatnya tak jarang dijadikan sumber rejeki. Membisniskan hal yang dicintai ternyata memberikan kenikmatan tersendiri bagi sang pengusaha, seperti lima sekawan Lucky, Rais, Rino, Febria, dan Lucito. Kelimanya menangkap peluang usaha dari tren ‘narsis’ dengan mendirikan studio foto The Couple Click Studio.

Oleh : Shinta Dwi Pratiwi (mg)
[email protected]

Hobi hunting foto dan video saat duduk di bangku kuliah ternyata menjadi sebuah rekam jejak tersendiri bagi berdirinya studio foto yang digawangi oleh lima pemuda ini. Proyek garapan pertama pun datang saat masih menduduki bangku kuliah yaitu buku tahunan angkatan. Cita-cita untuk membangun studio foto pun telah terbesit semenjak mereka masih duduk di bangku kuliah.

“Awalnya kita hobi fotografi, hunting sana sini un­tuk mengasah kemampuan sekalian sharing skill den­gan teman-teman juga. Dari hobi untuk rehat dari ru­tinitas kuliah, jadi punya cita-cita untuk buat studio foto,” jelas Lucky kepada BOGORTODAY, beberapa waktu yang lalu.

Studio foto yang berada di daerah Pulo Armin, Bogor Timur ini dinamai “The Couple Click Studio”. Lucky sebagai salah satu owner menjelaskan nama ini diambil dari harapan agar klien yang menggunakan jasa mereka bukan hanya click (harmonis) di sebuah memori foto akan tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

“Namanya diambil supaya pasangan yang di foto itu menjadi pasangan yang paling serasi. Kalau bukan pas­angan seperti keluarga atau grup, supaya selalu harmo­nis dan kompak” ujar Lucky.

Proses membangun sebuah studio foto ini pun me­miliki cerita yang cukup panjang, mengingat ke empat owner merupakan lulusan analis kimia dan satu lain­nya merupakan sarjana ekonomi. Mulai dari pengum­pulan modal hingga mencari studi foto yang tepat.

“Cerita ngebangun the couple click lumayan pan­jang, mulai dari punya cita-cita saat kuliah. Lalu pasca lulus kerja di tempat dan bidang masing-masing buat ngumpulin modal, terus kita semua janjian untuk resign dari tempat kerja maksimal Oktober 2013. Be­lum lagi ada konflik internal sampai hampir enggak jadi buat studio, sampai akhirnya dapet studio dan berdirilah The Couple Click Studio. Tepat berdirinya itu pada 20 Februari 2014” papar Lucky yang meru­pakan lulusan diploma 3 AKA Bogor ini.

Bisnis yang berawal dari hobi otodidak ini bermo­dalkan awal sebesar kurang lebih 100 juta rupiah, termasuk modal investasi. Dan untuk tiap bulannya usaha ini dapat meraup omset sekitar 20 juta rupiah. Hal ini bergantung pada klien studio the couple click dan projek yang ditangani. Selain menyewakan studio, the couple click juga menyediakan jasa fotografi, vid­eografi, dan editing. Harga yang ditawarkan pun be­raneka ragam bergantung jasa yang diberikan.

The Couple Click Studio memilih kawula muda se­bagai sasaran utama pemasaran. Media Sosial menjadi media utama promosi, disamping pengoperasian web, iklan via radio, brosur, dan mengikuti event-event. Promosi dari mulut ke mulut juga sangat membantu berkembangnya studio foto ini. “Untuk promosi kita via medsos, web, radio, event. Tapi mulut ke mulut juga efektif banget. Yang penting kita jaga kualitas, kalau kualitas kita bagus pelanggan puas. Testimoni pelanggan ke teman-teman atau keluarga juga bisa jadi buat promosi” ujar Lucky.

Menurut Lucky The Couple Click Studio memiliki keunggulan tersendiri dibanding studio-studio foto lain di kota Bogor, yaitu memiliki tujuh tema yang ber­beda di dalam satu studio. Tema ini diganti secara rutin mengikuti perkembangan selera yang sedang mewa­bah di kalangan anak muda. Terdapat pula background tiga dimensi pada beberapa tema. Property yang men­arik pun disediakan untuk menunjang tema yang ada.

“Di studio kita ada tujuh tema, jadi enggak perlu pindah-pindah tempat. Temanya juga diganti rutinan, sesuai aja sama yang lagi hits. Property juga disediain dan diupgrade sesuai dengan tema yang ada. Misal­nya kaya tema klasik gitu kita sediain televisi jadul. Disesuaikan juga dengan masukan dari klien, buat perkembangan kitanya juga ke depannya” tutur Lucky.

Foto prawedding dan wedding menjadi projek ter­laris yang mereka tangani. Hal unik dan sulit dalam teknis bisnis ini pun sering mereka temui. Lucky menceritakan sulitnya untuk memfoto bayi dengan momen yang pas. Dan memfoto bayi menjadi tantan­gan tersendiri baginya.

Bisnis ini tentu saja tidak selalu berjalan dengan mulus. Kendala pun sering mereka hadapi seperti contohnya penipuan oleh klien. “Ya kalau kendala sih seperti misalnya klien kita ngasih projek ke kita, projek udah kelar tapi enggak dilunasi terus si klien kabur. Kita meminimalisirnya dengan buat MOU dulu sebelumnya, kesepakatan diantara dua belah pihak,” cerita Lucky.

Lucky pun sempat berbagi tips untuk para pengusa­ha yang ingin memulai bisnisnya. “Yang penting kita yakin dengan apa yang kita jalani. Hitung resiko den­gan matang, dan cari tau gimana cara meminimalisir dan mengahadapi resikonya. Maksimalin usaha yang bisa dilakuin, baik itu mandiri ataupun kelompok. Terus jangan lupa doa, karena yang di atas yang Maha Pemberi. Satu lagi jangan lupa doa orang tua, itu salah satu kunci kesuksesan yang enggak boleh dilewatkan,” tutup Lucky.

(Shinta Dwi Pratiwi/mg)