terminalBOGOR TODAY – Ombuds­man Republik Indonesia (ORI) meminta Pemkot Bogor mem­bereskan persoalan pungutan liar di Terminal Baranangsiang. Ombudsman menilai, ada po­tensi korupsi dalam status quo lahan terminal.

Legal dan Humas PT Pan­cakarya Grahatama Indonesia (PGI), Firman, menegaskan, pihaknya keberatan jika lahan yang sudah menjadi aset peru­sahaannya dipungut retribusi. “Kami keberatan. Sejauh ini, selama dua tahun, kami tak melakukan aktifitas apapun. Terhitung sejak aset kita perjan­jian berjalan,” kata dia, melalui pesan singkat kepada BOGOR TODAY, kemarin.

Assisten Ombudsman RI, Andi mengatakan pihaknya sangat menyayangkan lamban­nya tindak lanjut dari Pem­kot Bogor untuk memberikan terminal sepenuhnya kepada pihak PGI. “Ya, kalau sampai saat ini belum juga dikosong­kan sama pemerintah itu akan muncul banyak masalah baru. Kalau yang sekarang saya baca di surat kabar kan pungli nanti pasti ada lagi kalau tidak cepat diselesaikan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Perumda PPJ Matangkan Pembangunan Park and Ride Plaza Bogor

Hingga kini, izin pemban­gunan pun menjadi perdebatan karena ada beberapa kepentin­gan, seperti Pemerintah Pusat yang tidak setuju ketika termi­nal dibangun dengan dikem­bangkan dengan sektor bisnis seperti hotel dan kepentingan Walikota Bogor yang ngotot un­tuk fungsi terminal harus lebih besar daripada unsur bisnis. “Sehingga dikhawatirkan wa­likota Bogor belum mengeluar­kan izin, karena masih tarik me­narik kepentingan dan belum ada titik kompromi, jelas ma­syarakat yang dirugikan dalam kondisi ini. Kami merekomen­dasikan agar Kejari Bogor juga ikut mendalami potensi korupsi dalam pungutan ini,” tandas­nya.

Ketua Komisi C DPRD Kota Bogor, Yus Ruswandi, menyay­angkan, minimnya pemasukan retribusi di terminal. Seharus­nya potensi pemasukan dari terminal Baranangsiang me­lebihi dari potensi di terminal lainnya, karena aktivitas di ter­minal Baranangsiang lebih int­en dan banyak. “Kondisi bangu­nan di Terminal Baranangsiang memang tidak layak, tetapi disana masih tersimpan po­tensi retribusi yang sangat be­sar dengan maraknya aktivitas maupun intensitas pelayanan terminal. Tetapi hasil retribusi dari Terminal Baranangsiang ternyata sangat minim dan ke­cil, tidak sesuai dengan realita kondisi aktivitas sebenarnya di­lapangan,” kata Yus.

Baca Juga :  Kota Bogor Masih Belum Memberlakukan Car Free Day, Ini Penjelasan Bima Arya. 

Menurut Yus, Terminal Ba­ranangsiang memiliki aset yang potensial untuk menghasilkan retribusi, karena disana ada berbagai aktivitas kegiatan, di­antaranya, ada bus besar, bus sedang, bus kecil, kendaraan minibus, palkir kendaraan dan kios-kios maupun los PKL. In­tensitas aktivitas di terminal juga sangat tinggi, sehingga un­tuk sektor pendapatan sangat potensial. Namun berdasarkan informasi dari Dispenda, pema­sukan bagi PAD dari penari­kan retribusi terminal secara global yang dikelola UPTD ter­minal DLLAJ Kota Bogor Rp. 1.687.598.000. sementara hasil retribusi khusus dari terminal Baranangsiang sekitar Rp. 400 juta.

(Guntur Eko Wicaksono)