943534_621534624532735_1873642291_nDi tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS), permintaan kopi luwak asal Indonesia tetap tinggi di pasar ekspor. Kondisi ini menjadi berkah bagi para pengusaha kopi luwak. Mereka mendapatkan keuntungan lebih dari selisih pelemahan nilai tukar rupiah. Dalam sebulan, keuntungan pengusaha naik 50 persen.

Oleh : Apriyadi Hidayat
[email protected]

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS), tak melulu membawa dampak negatif bagi bisnis berbahan baku komoditas. Contohnya, bisnis kopi luwak.

Sejak dollar AS menguat , volume ekspor kopi luwak asal Indonesia justru melonjak. Alhasil, para pelaku usaha di bisnis kopi ikut ketiban rezeki dar i selisih dollar AS terhadap rupiah. Contohnya, yang kini dialami para pengusaha kopi luwak di Lampung.

Lampung memang surga budidaya dan pengem­bangan kopi luwak di Indonesia. Tanahnya yang subur ditambah let ak geografis yang dikelilingi alam pegunungan, membuat Lampung jadi lahan yang cocok untuk budidaya kopi.

Salah satu pebisnis kopi luwak adalah Mega Se­tiawan, Ketua Himpunan Pengusaha Kopi Luwak L ampung Barat sekaligus pemilik usaha Duta Luwak Brother’s Link.

Menurut Mega, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS membuat permint aan terhadap kopi luwak asal L ampung di pasaran ekspor terus naik. Di bawah bendera PT Duta Asia Abrasif, vol­ume ekspor Duta Luwak melonjak tinggi.

Dari sebelumnya sekitar 1 ton per bulan, kini naik menjadi 5 ton per bulan. “Yang paling terasa adalah peningkatan volume ekspor menjadi lima ton per bulan,” ujar Mega.

Saat ini, lanjut Mega, ada 18 negara tujuan ekspor produk kopi luwak asal Lampung. Di antaranya Chi­na, Jepang, Korea, Belanda, German, Inggris, Italia, dan AS. “Dari 18 negara tujuan ekspor, permintaan dari China yang terbanyak, bisa sampai tiga ton per bulan,” imbuh Mega.

Mega bilang, produk kopi luwak yang paling laris adalah arabic a dan robusta. Masing-masing jenis ini mempunyai pangsa pasarnya tersendiri. Untuk Ara­bica, pangsa pasarnya ada di Eropa dan Amerika. Sementara pasar Asia lebih menyukai kopi robusta.

Kendati nilai tukar rupiah melemah, menurut Mega, harga kopi luwak di pasar ekspor tetap sta­bil, yakni US$ 630 per kilogram (kg). Dus, dengan peningkatan volume ekspor, omzet eksportir kopi luwak ikut membengkak. Dari sekitar Rp 250 juta per bulan, kini jadi Rp 500 juta per bulan.

Di tengah momentum penguatan dollar AS, Duta Asia Abrasif memang memasang strategi bi snis un­tuk mendongkrak volume ekspor. Salah satunya, memberikan potongan harga alias diskon 10% un­tuk pembelian 100 kg.

Pengusaha kopi luwak lainnya yang kec ipratan berkah penguatan dollar AS adalah Sugeng Pujio­no. Sugeng s memiliki rumah produksi kopi luwak Cikole di Lembang, Jawa Barat.

Menurut pria yang juga berprofesi sebagai dokter hewan ini, bisnis kopi luwak tidak terpengaruh efek pelemahan rupiah. “Harga kopi lu­wak tetap stabil, karena kopi luwak 100% bahan baku lokal,” kata dia.

Sugeng bilang, kapasit as produksi kopi luwak Cikole sekitar 120 kg per bulan. Dari total produksi itu, sekitar 60 kg diekspor ke sejumlah ne gara. Antara lain, Singapura, Jepang, Ko ­rea, China, Belanda, Jerman, dan Ita­lia. Sisanya sekitar 60 kg dialokasikan untuk pasar dalam negeri.

Untuk pasar lokal dan ekspor, Sug­eng membanderol kopi luwak Rp 3 jut a per kg. Dengan kapasitas produksi 120 kg, Sugeng bisa meraup omzet hingga Rp 360 juta per bulan. Namun, seiring menguat­nya dollar, maka ada selisih keuntungan yang bisa dipetik Sugeng. Kini, dalam sebulan, Sugeng bisa meraup omzet sekitar Rp 500 juta.

(KTN)