Opini-1-Candra-Malik

Oleh: CANDRA MALIK
Praktisi Tasawuf

Sufi besar Jalaluddin Rumi menulis kitab Fihi Ma Fihi (Di Dalamnya Apa yang di Dalamnya) tentang segala sesuatu sesungguhnya menyatu, yang relevan menunjukkan hubun­gan antara Tuhan dan hutan. Di dalamnya apa yang di dalamnya: di dalam benih, ada pohon; di dalam pohon, ada benih. Satu dan lainnya tidak terpisahkan. Tak ada benih, tak ada pohon. Tak ada pohon, tak ada benih. Benih dari pohon. Pohon dari benih. Benih adalah pohon, pohon adalah benih. Pohon adalah kehidupan, Tuhan pun meliputinya. Allah Maha Hidup menghidupkan, me­matikan, dan menghidupkan se­gala sesuatu, termasuk pohon. Pepohonan, dalam jumlah yang besar dan ragam yang beraneka, yang lalu kita sebut sebagai hutan, tentu melambangkan pula kehadi­ran Tuhan. Ketuhanan dalam ke­hutanan adalah kesadaran hayati manusia sebagai khalifah fil ardli.

Pohon mengajarkan kepada manusia sejumlah hal luar biasa. Bahwa untuk hidup, kita harus mengakar, menunjang dari mulai batang, dahan, ranting, daun, bun­ga, sampai buah. Akar pula yang menyerap air, yang merupakan sumber kehidupan. Bahwa untuk hidup, kita harus kokoh laksana batang pokok, menjaga dahan-ranting tanpa mudah lapuk dan patah. Bahwa untuk hidup, kita menyerap energi semesta seperti dedaunan terhadap sinar mataha­ri. Bahwa untuk hidup, kita mem­beri yang terbaik sebagaimana bunga. Tak hanya elok dipandang, tapi juga sedap dihirup aromanya. Bahwa untuk hidup, seperti po­hon, kita pada akhirnya berbuah, yang di dalamnya terkandung biji yang tak lain adalah benih bagi ke­hidupan berikutnya. Dari pohon kita belajar pula kapan pun kita pasti kembali ke tanah. Bisa kare­na diterpa angin dan gugur, bisa pula roboh karena usia.

Pohon mengajarkan pula un­tuk bersikap hidup percaya ke­pada kebaikan semesta. Berdiri tanpa kaki, tercipta untuk tidak melangkah, pun tidak berlari, tapi rezeki tidak akan tertukar kepada yang tidak berhak, pun demikian sesungguhnya konsep ini berlaku sama bagi setiap makhluk. Jika kemudian pepohonan ditebang sembarangan dan tidak ada upaya menanam kembali pohon-pohon baru, sesungguhnya kita berbuat bodoh memadamkan pelita hidup.

Betapa Tuhan dalam Al-Quran pun menggunakan pohon sebagai kiasan, yaitu jika kayu dan daun dari pohon di seluruh penjuru bumi dijadikan kertasnya-dan lau­tan sebagai tinta-maka niscaya ti­dak cukup untuk menuliskan Ilmu Allah. Dan, sabda Nabi Muham­mad SAW, ilmu adalah cahaya. Jika pohon-pohon ditebang sembaran­gan, dan pohon-pohon baru tidak ditanam, sesungguhnya kita me­madamkan pijar kehidupan. Jika surga digambarkan dalam ayat-ayat suci sebagai taman-taman nan sejuk, dengan berbagai buah-buahan dan pepohonan rindang, sungai yang mengalir jernih den­gan bebatuan yang selalu tepercik kesegaran air, bukit-bukit yang indah, burung-burung yang bebas beterbangan dan hinggap di mana pun, bukankah itu semua lukisan Tuhan tentang keagungan hutan?

Air adalah sumber kehidupan, dan tak ada bantahan tentang itu. Pohon telah melakukan segala hal untuk menjadi rumah bagi empat anasir terpenting jagat besar, yaitu angin, air, api, dan tanah. Pohon menghasilkan O2 (oksigen) pada siang hari dan CO2 (karbondiok­sida) pada malam hari. Akar pohon menghunjam tanah, batang pokok menjulang ke arah di mana sinar matahari terpancar, tak berbeda dengan falsafah di mana bumi dipi­jak, di sanalah langit dijunjung. Laut, sungai, danau, bendungan, waduk, dan wadah maupun aliran apa pun namanya yang menghimpun air, ti­dak akan pernah menafikan pohon sebagai kantong penyimpanan air yang sangat diandalkan.

Pohon bukan hanya paru-pa­ru dunia, tapi juga segala organ vital lain. Lihatlah, betapa dari pohon, kita mengambil sangat banyak penunjang kehidupan. Akar, batang, dahan, ranting, daun, bunga, dan buah telah kita jadikan apa saja sesuai den­gan kebutuhan manusia. Hutan telah memberi kita teramat ban­yak, tapi kita ternyata meminta lebih banyak lagi. Celakanya, kita kurang memberi kepada hutan, atau bahkan tidak memberi apa pun untuk melestarikannya. Pada mulanya, hutan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan ma­nusia. Kini, hutan terasa semakin jauh dan manusia seperti sengaja membentangkan jarak terhadap­nya. Jika pun ada yang merambah hutan, lebih banyak yang berbuat merusak serusak-rusaknya.

Orang-orang pedalaman yang masih hidup dengan hutan seb­agai habitat kini semakin tidak nyaman, bahkan semakin lama semakin terusir dari rumahnya sendiri. Orang-orang kota tak lagi melihat hutan selain dari layar televisi, terutama ketika asap telah mengepung kota sejak ke­bakaran hutan. Lihatlah hutan di Tanah Air; setiap tahun entah terbakar, entah dibakar. Sebagai manusia bertuhan dan beragama, kita ternyata tidak berbuat cukup untuk menyelamatkan hutan. Ma­syarakat kita kini terpisah dari hutan, atau bahkan memisahkan diri. Padahal nun di dalam hu­tan, tersimpan anugerah dan ke­ajaiban. Di manakah posisi kita yang bertuhan dan beragama ini dalam merawat semesta? (*)