Untitled-2BOGOR, TODAY – Sedikitnya 117 lubang penambang emas tanpa izin (PETI) di Kampung Ciguha, Desa Bantarkaret, Keca­matan Nanggung, Kabupaten Bogor ditut­up oleh aparat gabungan Polres Bogor, TNI dan Satpol PP sejak Sabtu hingga Minggu (20/9/2015).

Selain itu, petugas juga memusnahkan dan membakar 445 bangunan yang kerap digunakan PETI atau gurandil untuk akti­vitas pengolahan bahan baku emas hasil curian di kawasan milik PT Antam Tbk itu.

Kapolres Bogor, AKBP Suyudi Ario Seto mengungkapkan, Kampung Ciguha yang terletak 21 kilometer dari kantor PT Antam Tbk, merupakan target untuk membersih­kan lokalisasi atau tempat tinggal semen­tara para PETI di kaki Gunung Pongkor itu.

“Setelah ini, kami bersama TNI, PT An­tam dan Satpol PP Kabupaten Bogor terus lakukan pengamanan secara terpadu, agar tidak ada lagi penambangan liar dan ban­gunan ilegal,” ujar Kapolres.

Ia menambahkan dalam penertiban ini, dengan total kurang lebih 2.500 per­sonil petugas gabungan tim berhasil men­gamankan 445 bangunan liar dan 3000 gelundungan untuk memurnikan emas, genset, dan alat-alat penambangan liar.

“Sampai saat ini kami tidak menga­mankan pelaku, karena kami lebih fokus terhadap kegiatan atau aktivitas penam­bangan liar. Ada juga tujuh lubang yang harus di filling atau ditutup semen supaya tidak bisa digunakan lagi,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Operasi Polres Bogor, Kompol Imron menjelaskan menerjukan 2.557 personel gabungan ter­diri dari anggota Polres dan Polsek dibantu Polda Jawa Barat, Brimob, Dalmas, Den­pom, TNI dan juga dari Satpol PP serta Ba­lai Taman Nasional.

Baca Juga :  Cerita Afan Maulana Warga Bogor yang Hilang Belasan Hari, Sempat Menjadi Buruh Cuci Motor di Banten

Ribuan personel dilibatkan mengingat luasnya area lokasi penambangan yang di­gunakan oleh para penambang liar untuk melakukan aksi pencurian emas milik negara.

“Luas lokasi lebih dari 10 hektar, makan­ya personel yang kita kerahkan jumlahnya besar. Sekaligus mengantisipasi, reaksi warga jika ada penolakan,” katanya.

Imron mengatakan, operasi penertiban merupakan puncak dari upaya Polres Bo­gor bersama Polda Jawa Barat dalam me­nindak aktivitas pengolahan dan penam­bangan tanpa izin di Gunung Mas Pongkor.

“Selain merugikan negara, aksi PETI ini juga merusak lingkungan, Sungai Cikaniki tercemar oleh aktivitas mercuri yang digu­nakan para penambang liar,” katanya.

Sementara itu, Direktur Umum dan Cor­porate Socian Responsibility (CSR) PT An­tam Tbk, I Made Surata menjelaskan, den­gan ditegakkannya hukum di lingkungan ini membuat lingkungan semakin bersih.

“Kami juga lebih mengintensifkan pem­binaan masyarakat terutama Desa Ciguha dan Cikaniki. Selain itu, dengan tidak ad­anya penambangan liar, akan menambah cadangan emas kita di Gunung Pongkor. Un­tuk masalah berapa cadangan emas kita saat ini manajemen atau tim sedang menghi­tungnya untuk detail pastinya,” tandasnya.

Dalam kurun 2012 hingga 2013, PETI telah sukses menggondol 1,6 ton emas yang jika diuangkan, nominalnya menca­pai Rp 801 miliar.

Belum lagi untuk biaya pengamanan, biaya pengelolaan kerusakan lingkungan, biaya penutupan lubang penambang emas tanpa izin (PETI), dan pendapatan negara serta daerah yang hilang begitu saja.

Baca Juga :  Prihatin Minimnya Minat Baca Masyarakat, Komunitas Maca Rempug Jasinga Gelar Perpustakaan Keliling

Dalam operasi ini, petugas juga menga­mankan enam tabung gas melon, dua unit genset, satu unit pompa serumi, dua unit blower, dua unit kompor gas, lima gulung kabel twist, bensin, alat rumah tangga, rantai, gembok, karung plastik, karung ore, ember, kastrol, terpal dan palu.

Salah satu warga Kecamatan Nanggung, Sarmada (48) mengatakan, keberadaan bangunan liar milik para gurandil yang mencapai 445 bangunan ini menyebabkan banyak masalah bagi wilayah setempat.

Selain pencemaran akibat penggunaan merkuri dalam pengolahan bahan baku emas, kondisi kumuh pun jelas terlihat.

“Bangunan itu buat tempat tinggal, wa­rung-warung dan pengolahan emas juga. Jadi kumuh dan tidak tertata,” ujarnya.

Sebelum dilakukan pembakaran, ra­tusan bangunan liar ini dirobohkan ter­lebi dahulu dengan dua alat berat yang didatangkan ke lokasi. Tidak ada satu pun penghuni kawasan tersebut yang ada di lo­kasi saat dilakukan penertiban.

Lebih lanjut ia menjelaskan, warga pen­datang mendominasi di Kampung Ciguha ketimbang warga asli. Selain menjadi gu­randil, banyak pula pendatang yang mem­buka usaha di kawasan tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup para gurandil.

“Kawasan ini tidak pernah tidur, 24 jam ramai terus sama pengolahan emas. Makanya, ini sudah kayak pusat kehidupan di Ciguha. Banyak juga pendatang yang buka usaha melihat peluang ini,” pungkas­nya.

(Rishad Noviansyah)