MENJAGA SUMBER ILMU

Untitled-10BUKU merupakan sumber ilmu yang tak pernah kering sepanjang masa. Bahkan orang-orang menyebutnya sebagai jendela dunia, karena selu­ruh informasi-informasi di dunia terangkum menjadi satu di dalam se­buah buku yang dapat dibaca kapanpun dan dimanapun berada.

Oleh: RIFKY SETIADI
[email protected]

Banyak orang-orang sukses, senang membaca buku karena disana tersimpan begitu banyak ilmu dalam buku yang mereka baca. Oleh sebab itu jangan pernah menganggap re­meh buku yang kita baca karena dis­itulah tersimpan ilmu yang berguna.

Ada ungkapan dari Mua’adz bin Jabal r.a, pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya adalah kebaikan, mencarinya adalah ibadah, mengin­gatnya adalah tasbih, mendalamin­ya adalah jihad, mengerjakannya kepada orang yang belum mengerti adalah sedekah, mengingatkannya kepada orang yang sudah mengerti adalah taqqarub.

Ilmu adalah teman di waktu sepi, kawan dalam pengasingan, penunjuk jalan kesenangan, pe­nolong dalam kesulitan, hiasan di tengah-tengah kawan, dan senjata dalam menghadapi musuh. Ilmu dapat menghidupkan hati dari ke­bodohan, pelita dari kegelapan, kekuatan dari segala kelemahan, sa­rana untuk mencapai derajat orang-orang yang baik sewaktu hidup di dunia maupun di akhirat. Ilmu merupakan pemimpin dan amal adalah pengikutnya. Kuncinya, ter­uslah menjalin persahabatan yang erat dengan buku. Rasakan kehadi­ran mereka sebagai jendela untuk kita melihat masa depan di hada­pan. Jadikan keberadaan mereka se­bagai jembatan untuk kita berusaha menjadi makhluk Allah yang men­cintai ilmu.

BACA JUGA :  Beasiswa Kemenpora-LPDP 2026 Tahap 2 Resmi Dibuka, Atlet dan Pelaku Olahraga Berpeluang Kuliah S2-S3 Gratis

Demikianlah Mts dan MA Daarul Uluum Bogor mendo­rong untuk memperkenalkan siswa dalam khasanah keil­muan dengan cara menjaga tradisi membaca dan men­jaga koleksi sumber ilmu yang akan menumbuhkan kecintaan pada ilmu pengetahuan. “Rasa cinta terhadap ilmu tidak akan mudah tumbuh dengan sendirinya, namun harus ditanam­kan melalui tradisi dan aktivitas yang ditujukan untuk mencintai ilmu,” ungkap Hasbulloh, SE., MA.E.k, Kepala Sekolah MA Daarul Uluum Bogor.

Dia menegaskan, kegiatan Ujian Tafti­syul Kutub atau pemer­iksaan koleksi buku ini merupakan suatu tradisi yang unik dan sangat penting di lembaga pen­didikan Daarul Uluum. Sayangnya, tidak semua lenbaga pendidikan atau sekolah melakukan hal semacam ini. “Kegiatan ujian taftisyul kutub ini merupakan rangkaian ujian per­dana bagi santri kelas III MTs dan III MA di Daarul Uluum. Seluruh santri harus menghadirkan koleksi kitab dan buku baik dari kelas I sampai dia duduk di kelas III,” jelasnya.

Salah satu penguji, Ustadz Fikri Aziz menyebutkan Ujian Taftisyul Kutub yang berlangsung pada Min­ggu-Senin, 20-21 September 2015 itu bertujuan agar santri senantiasa teruji untuk selalu menjaga koleksi buku-buku yang sudah dimiliki dan buku-buku yang harus dimilikinya, sehingga siap dalam menghadapi tahap ujian selanjutnya. “Syarat khusus mengikuti kegiatan taftisyul kutub adalah tidak menggunakan buku orang lain atau santri lain di pondok pesantren untuk digunakan dalam ujian. Mereka diminta mem­persiapkan diri menghadapi materi yang diujikan, yaitu pemeriksaan buku-buku, baik catatan, paket dan latihan dari masing-masing pelaja­ran yang sedang dan akan dipela­jari,” ujar Fikri.

BACA JUGA :  Wali Murid di Sukaraja Keluhkan Sistem SPMB Kabupaten Bogor 2026

Para penguji menyiapkan krite­ria penilaian kelengkapan, kerapi­han hingga kejujuran. Kegiatan ini diikuti oleh oleh 45 siswa MTs dan 27 siswa MA Daarul Uluum Bogor di Kampus Daarul Uluum Bogor, Jl. Durian Raya 219, Bantar Kemang, Bogor. Setiap siswa dibagi men­jadi beberapa kelompok dengan penguji yang disiapkan oleh Kepala Madrasah. Beberapa penguji yang turun langsung melakukan serangkaian pen­gujian itu antara lain Ustadz Rizki Hakiki El-Yasier, S.Pd.I, Ustadz Fikri Aziz, Ustadzah Putri Salma, Ustadz Arif Fa­dillah, Ustadz Abdul Rosyid, S.Pd.I dan Ustadzah Nininh Sy­artika, S.Pd.I. “Beri­kutnya, setelah tahapan pemerik­saan dan kelengka­pan buku ini selesai diujikan. Para siswa akan menghadapi tahapan ijian beri­kutnya yaitu Fathul Kutub, ujian mem­baca dan mengkaji Kitab Kuning,” papar Fikri. Ujian ini mampu membentuk pemikiran siswa untuk selalu men­gacu pada sumber ilmu dan pengetahuan yang dapat dipertanggung­jawabkan.

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================