manca_insiden-lempar-jumroh_20150924_180543MAKKAH, TODAY — Insiden saling injak dan dorong antar ribuan jamaah haji di jalanan sempit dekat area tenda di Lapangan Mina, setelah ibadah melempar jumrah, sudah sering memakan korban.

Nama Mina selalu berkaitan erat dengan musibah demi musibah saat pelaksanaan Ibadah Haji. Jamaah memang harus melakoni ibadah melon­tar jumroh di sini. Di Mina, berdiri sebuah tugu Jamarat, yaitu tempat pelaksanaan kegiatan melontarkan batu sebagai simbolisasi tindakan Nabi Ibrahim ketika mengusir setan. Di tempat ini jamaah juga diwajibkan untuk menginap satu malam. Nah, dirangkum dari data Khaleej Times, tahun 2015 ini meru­pakan Tragedi Mina yang ke-8.

Sebelumnya ada insiden yang juga me­newaskan para jamaah, di antaranya, pada 2006, lebih dari 360 jamaah meninggal akibat terinjak-injak saat sedang menjalani ritual lempar jumroh di Mina, yang terletak sekitar lima kilometer dari Makkah.

Kemudian, pada 2004, sebanyak 244 ja­maah meninggal ketika para jamaah berde­sak-desakkan di Mina. Ratusan orang lain­nya luka-luka dalam insiden di hari terakhir prosesi haji tersebut. Pada 2001, aksi saling dorong dan desak-desakkan di Mina me­nyebabkan 35 jamaah haji meninggal akibat terinjak-injak massa. Insiden fatal tersebut terjadi di hari terakhir prosesi haji tahun itu.

Baca Juga :  Diduga karena Hepatitis Akut, Bocah di Jakbar Meninggal, Ibu Korban: Makan Mie-Minum Sodanya Kuat

Pada 1998, sekitar 180 jamaah mening­gal terinjak-injak massa yang panik setelah beberapa dari mereka jatuh dari jembatan layang saat melakukan ibadah lempar jum­roh di Mina. Lalu pada 1997, sekitar 340 ja­maah tewas dalam kebakaran di tenda-ten­da haji di Mina. Kebakaran diperparah oleh angin kencang yang bertiup saat itu. Lebih dari 1.500 orang lainnya luka-luka saat itu.

Pada 1994, sebanyak 270 orang meninggal akibat terinjak-injak saat ritual lempar jumroh di Mina. Kemudian pada 2 Juli 1990, sebanyak 1.426 jamaah haji meninggal dalam tragedi Tero­wongan Mina. Jamaah berdesak-desakan dan terinjak saat berada dalam terowongan yang menghubungkan Makkah ke Mina dan Arafat.

Baca Juga :  Pohon Tumbang Akibat Hujan dan Angin Kencang yang Menerjang Padang

Pengamat penyelenggaraan haji, M Sub­arkah, mengatakan, biasanya jamaah asal Indonesia disarankan bergerak menuju lo­kasi lempar jumroh setelah malam hari.

Barkah—sapaannya—menuturkan, banyak jamaah yang semalam wukuf di Arafah ingin mengejar waktu yang afdhol untuk melempar jumroh. “Afdholnya ya tengah hari,” katanya.

Karenanya, kata wartawan senior itu, ja­maah haji bergerak dalam gelombang besar dalam waktu yang bersamaan ke satu lokasi. “Ini yang rawan,” tandasnya.

Penulis buku Orang Buta Melihat Ka’bah itu menambahkan, jamaah haji asal Indo­nesia memang diwanti-wanti untuk tidak memaksakan diri melempar jumroh di waktu yang afdhol. Sebab, secara postur tubuh dan fisik akan kesulitan ketika harus berdesak-desakan dengan jamaah haji asal Afrika. “Postur tubuh orang Indonesia bisa-bisa dilangkahi oleh jamaah asal Afrika yang tinggi-tinggi. Dan gesekan fisiknya memang keras karena mengejar waktu yang afdhol,” tuturnya.

(Yuska Apitya Aji)