_MG_7126DIBERIKAN kesempatan tanggung jawab untuk melanjutkan warisan bisnis keluarga memang tak mudah, apalagi jika yang mengemban terbilang ma­sih muda. Hal ini diakui oleh pria kelahiran 25 Maret 1989, Yudhi Budiwarman atau pemilik nama Li Qing Tong. Budhi, sapaan akrab pria berdarah Tionghoa adalah generasi ketiga dari kakeknya yang bernama Lem Nyoek Si menjalankan bisnis bahan bangunan.

Oleh : Latifa Fitria
[email protected]

Engkong (sebutan kakek dalam ba­hasa Cina) saya sudah memulai usaha ini sejak Plaza Bogor belum dibangun. Jadi, yah bisnis ini bisa dibilang turunan dari leluhur. Memang ti­dak mudah menjalankannya, apalagi saya baru beberapa minggu terjun langsung,” ujar pria yang sebelumnya pernah bekerja sebagai Barista di salah satu Cafe brand Internasional.

Budhi yang juga Sarjana Manajemen IBBI Jakarta ini memutuskan pilihan men­jalankan usaha keluarga karena ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Selain itu juga ia sangat berharap ayahnya bisa pensiun dini dari usaha berjualannya itu, karena ia mempertimbangkan faktor usia ayahnya.

Baca Juga :  Bus Pariwisata di Bogor Menjadi Sasaran Pelemparan Batu, Polisi Buru Pelaku

“ Ayah saya pernah bilang melan­jutkan warisan keluarga lebih penting ketimbang jadi karyawan. Saya memikir­kan kalimat ayah saya itu, lalu kemudian saya memutuskan untuk melanjutkan bis­nisnya tanpa ada paksaan, saya juga tidak malu. Kenapa harus malu jual bahan ban­gunan, justru kerjanya lebih enjoy, saya jadi bos dan bukan karyawan lagi,” tutur lelaki yang hobinya memasak ini.

Sejauh ini, masih kata Budhi, ia menomorsatukan kejujuran dalam sistem penjualannya, karena ia merasakan betul menumbuhkan kejujuran nampaknya lebih sulit dibanding menunggu pembeli di toko miliknya yang diberi nama Toko Waja Mas. “ Kepercayaan itu sulit di dapat, jadi kejujuran harus dinomor­satukan. Kalau semua kepercayaan itu sudah kita pegang, pembeli juga tidak ragu untuk kembali datang ke tempat saya,” tutur Budhi yang pernah mengenyam bang­ku pendidikan di Regina Pacis ini.

Baca Juga :  Peningkatan Ruas Jalan Warung Borong-Rancabungur Telan Anggaran Rp 8 Miliar

Meski begitu, Budhi juga sudah mempersiapkan diri dengan tingkat persaingan yang tinggi. Apalagi ma­kin kesini penjual ba­han bangunan semakin menjamur. “ Iya, per­saingannya ketat so­alnya penjual bahan bangunan semakin banyak, tetapi saya tetap akan berusaha, tidak mau kalah kare­na kompetitor ban­yak. “Sejauh ini sih saya merasa tersisi­hkan karena banyak kompetitor, pokoknya jalani saja dulu un­tuk kedepannya,” pungkas lelaki yang menanamkan filosofi ‘jangan memikirkan masalah yang sudah terjadi’ ini.