_MG_7112UMUMNYA fresh graduate, apalagi jebolan universitas luar negeri biasanya memilih pekerjaan kantoran, men­jalankan bisnis dibalik meja dengan menggunakan setelan mahal. Namun lain halnya dengan Billy Chow, pria lulusan University of British Columbia, Canada ini memilih bisnis penggilingan beras dan langsung terjun ke lapangan untuk memastikan jika hasil produksinya keluar dengan kualitas memuaskan.

Oleh : Latifa Fitria
[email protected]

Sikap mandiri pria kelahiran 5 Maret 1989 ini dapat ter­lihat dari caranya yang tidak ingin bergantung kepada siapapun khususnya orangtua. Meski awalnya setelah lulus, ia sempat ikut membantu bisnis plastik milik sang ayah selama enam bulan. Hingga akhirnya, ia meman­faatkan lahan ayahnya di daerah Sukamakmur, Kecamtan jonggol, Kabupaten Bogor.

Lokasi lahan yang jauh dari perkotaan mengharuskan anak bungsu dari dua bersaudara memutar otak bisnis apa yang hendak ia jalani. Wajar saja, karena letaknya berada di perkampungan, dan untuk membuka usaha cafe rasan­ya tidak mungkin. Hingga akhirnya keluarlah ide untuk membuka penggilingan gabah beras.

Baca Juga :  Diduga Dendam dengan Perusahaan, Alfamart di Senen Dirampok

“ Lahan seluas lima hektar itu kayaknya lumayan untuk dijadikan bisnis penggilingan beras. Jadi gabah-gabah disana bisa langsung digiling, dan petani juga tidak bingung mau jual kemana lagi. Saya juga bisa memproduksi tanpa gangguan dengan me-suplai jum­lah yang banyak,” urai pria yang juga pernah sekolah di Regina Pacis ini. Kendati demikian, Billy mengalami ke­sulitan saat memulainya, lantaran ia harus mempelajari tentang produksi dan melakukan riset kepada pelaku peng­gilingan yang sudah ada.

“Sempat gagal, karena beras yang kita giling itu hasilnya jelek, akhirnya saya dibantu teman yang berbisnis serupa. Kemudian saya ganti mesin penggilingan dan hasilnya sangat memuaskan,” tuturnya.

Berkecimpung di bisnis seperti ini, lantas tidak membuat Billy gengsi lantaran ia lulusan luar negeri. Baginya bekerja sep­erti ini adalah suatu kebanggaan, karena selain melihat prospek yang menjanjikan, ia juga dapat membantu para petani-petani yang ada disana. “Saya bangga jadi petani, dan membantu mem­fasilitasi petani-petani disana. Malah kebutuhan gabah yang san­gat tinggi, jadi saya ambil supplier dari Karawang, Ciajur dan daerah Jawa,” terangnya.

Baca Juga :  Dewi Laila Mubarokah Sabet Medali Emas di SEA Games

Satu tahun setengah ia terjun di bisnis penggilingan gabah tidak langsung begitu saja ia menikmati hasilnya, sebab ia me­milih untuk memutarkan keuntungannya daripada membalikan modal yang ia gunakan sendiri. “Balik modal juga belum, sebab saya memilih lebih baik uang dan keuntungannya diputar lagi. Dan beras yang saya produksi ini baru sampai Sukabumi, Ser­pong dan Bogor,” tuturnya.

Selain itu, ia juga menomorsatukan kualitas beras yang ia produksi itu, dengan metode ‘fresh from the oven’, sehingga be­ras yang akan di suplai baru langsung digiling sehingga kualitas­nya tetap bagus dan tidak berkutu. “Saya paling tidak mau jual beras dengan menggunakan obat pemutih dan dijual dengan harga murah. Karena beras kalau sudah dua bulan pasti kutuan, jadi saya stoknya dalam bentuk gabah, begitu ada orderan baru digiling,” pungkas dia.