_20151018_205426BERPARAS menarik, bertubuh ideal jadi modal dasar untuk menjadi sales promotion girl (SPG). Begitulah penuturan Maria Natalia (19). Karena memiliki paras cantik dan tubuh menarik, maha­siswa sebuah universitas swasta di Kota Bogor ini ditawari menjadi seorang SPG oleh rekannya. Kini, hampir 2 tahun sudah ia melakoni profesi ini.

Oleh : Latifa Fitria
[email protected]

Tadinya cuma iseng sekadar mencari uang sampinganbuat nambah biaya kuliah, eh ternyata keterusan sampai sekarang,” ujar pe­milik nama Huang Yu Lin ini.

Maria, kini menjadi SPG sebuah produk rokok. Seminggu empat kali dia ha­rus berkeliling tempat hi­buran untuk menawarkan produknya.

Ia mengaku awalnya seka­dar coba-coba terjun menjadi SPG. Saat itu, seorang kawan mengajaknya menjadi SPG dalam acara Pekan Raya Ja­karta (PRJ) di Kemayoran. Karena menguntungkan, kini Maria kerap ditawari super­visornya bila ada event ter­tentu.

Lumayan sebulan gajinya bisa Rp 1,5 juta, belum sama bonus-bonusnya. Tetapi be­lum mesti juga kalau bonus,” terang wanita berambut pan­jang itu.

Baca Juga :  Satu Tahun Bertugas di Papua, 400 prajurit Elit TNI 315/Garuda Tiba di Bogor

Meski awalnya coba-coba, kini Maria merasa nyaman dengan pekerjaan yang di­tekuni saat ini. Bahkan tak jarang bila ada event tertentu dia lebih memilih bolos kuliah atau titip absen demi mendapat­kan rupiah. “Abis gimana lagi, apa-apa sekarang sudah mahal. Perlu duit buat kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Alasan Maria cukup rasional, saat ini dia hidup berdua dengan adiknya yang bekerja sebagai penjaga toko kosmetik di Mal Botani Square, Pa­jajaran. Selain untuk biaya kuliah, penghasilan menjadi SPG juga digunakan untuk membiayai kost dan kebu­tuhan hidup bersama adiknya. “Maklum orang tua di kampung sudah tidak sanggup membiayai lagi, tetapi saya masih pengen kuliah,” ujar wanita yang bercita-cita menjadi akuntan ini.

Namun, sejak mengenal gaya hidup yang hedon, wanita kela­hiran Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah ini mengaku menjadi rasional. Hidup di Kota Bogor menurutnya membutuhkan tiga hal. “Di sini cuma butuh tiga hal, uang, uang dan uang titik. Kare­na tanpa tiga hal itu hidup bakal sulit,” selorohnya.

Baca Juga :  Program Zero Stunting, IDI Jabar Gelar Pelatihan Sasar Dokter Umum

Meski demikian, dia men­gaku selalu menolak ajakan tidak senonoh yang selalu datang ke­padanya. Menjadi SPG menawar­kan rokok di tempat hiburan seperti tempat biliar, karaoke dan lainnya memang rawan di­goda. “Itu tergantung kitanya, kita bisa menolak kok. Toh kita kan tidak sendiri, sekali jalan kita empat sampai enam orang dan ada supervisor cowok kok, jadi aman,” terangnya.

Awalnya Maria mengaku malu dan risih dengan profesinya, namun seiring perjalanan waktu, ia bisa meyakinkan hat­inya bahwa apa yang dilakukan bukanlah hal yang memalukan. “Kalau aku lulus aku pengen punya kerjaan yang lebih baik, dan ini jadi salah satu jaringan buat aku nantinya karena jadi pu­nya banyak kenalan. Enggak mungkin aku terus menerus jadi SPG,” tutup dia.