150427jokodriyono1-205076-idcmsJAKARTA, Today – PT Liga Indonesia mengaku menderita kerugian Rp 7,5 mili­ar karena gagal menggelar kompetisi.

Kerugian itu tak bisa dilepaskan dari keras kepala dan buruknya perhitungan manajemen padahal Kemenpora sudah memerintahkan mereka memutar kom­petisi.

Untuk menutup kerugian, PT LI berencana menggelar even menyerupai kompetisi. Kepastian langkah PT Li itu diutarakan CEO-nya, Joko Driyono dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa di Jakarta, Sabtu (24/10).

“PT LI masih harus mematangkan rencana itu, even yang mirip dengan kompetisi tersebut diproyeksikan dimu­lai pada Februari 2016,” mendatang.

Rencananya, kompetisi jadi-jadian dan tak resmi itu digelar pada Februari- Oktober di 2016. Mereka yang terlibat adalah klub-klub yang selama ini dinaun­gi PT LI dalam kompetisi ISL dan Divisi Utama.

“Kita berasumsi Indonesia bisa tampil di Piala AFF 2016. Kalau dikaitkan den­gan AFF, periode terbaik Februari sam­pai Oktober 2016,” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, seluruh kom­petisi resmi yang dijalankan PT Liga di bawah aliansi PSSI tak bisa digulirkan karena tidak mendapatkan izin, dan hal tersebut berdampak pada profit peme­gang saham PT Liga.

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RPUS) Luar Biasa 2015, Sabtu (24/10), di Jakarta, muncul wacana dari PT Liga dan klub-klub pemegang saham untuk meng­gulirkan kompetisi secara independen.

Hal itu berani dimunculkan menyu­sul persetujuan dari PSSI selaku federasi sepakbola Indonesia yang mengizinkan PT Liga berjalan secara independen.

“Pemegang saham, yaitu PSSI meny­etujui upaya PT Liga menggelar kegiatan, yang merupakan kompetisi tidak resmi PSSI. Singkatnya Liga akan berjalan inde­penden dalam masa kevakuman,” tutur Joko Driyono selaku CEO PT Liga, kepada media.

Kompetisi tersebut melibatkan tim dari Indonesia Super League juga Divisi Utama. Bersifat layaknya kompetisi, na­mun dipastikan tak bisa dianggap kompetisi sepenuhnya karena ti­dak ada jenjang.

“Event ini juga tidak membuat klub menuju kompetisi AFC. Event mirip kompetisi, tapi tidak resmi,” pungkas­nya.

(Imam/net)