IMG_0149Kurang sukses dalam berumah tangga, bagi seorang istri bukan berarti harus berakhir segala-galanya. Ada banyak hal positif yang bisa dilakukan. Bahkan dengan status single parent, perempuan bisa menjadi pelaku UKM yang sukses. Contohnya Dra Giyanti Kadariyani, berhasil membangun Butik Batik Syandana.

Oleh : Alfian Mujani
[email protected]

Pada tahun 2012 silam, Antik, panggilan Giyanti Kadariyani, masih menge­lola usaha batik milik adik suaminya, Batik Wedhelan Solo. Siapa sangka, dua tahun kemu­dian Antik justru menjadi juragan batik. Ia membangun Butik Batik Syan­dana di kawasan Lawiyan, Kota Solo. ‘’Saya sudah tidak ikut ngurusi usaha batik yang dulu,’’ ujar Antik kepada Bogor Today beberapa waktu lalu. Dia enggan becerita soal perpisahan dengan suaminya.

Yang menarik, bisnis batik Antik ini maju pesat. Selain kreatif menampil­kan dan memilih disain batik, wanita lulusan Fisip Undip Semarang ini juga sangat ramah dalam melayani pelang­gannya. Antik bukan pedagang batik biasa, tetapi juga dia bisa jadi konsul­tan para peminat batik pemula yang tidak terlalu ngerti kain batik. Itu sebabnya, ba­tik produksi Butik Syandana cepat terkenal hingga Jakarta. ‘’Tanggal 3-16 November ini batik Syandana hadir di lantai dasar Botani Square Mall Kota Bogor,’’ ujar Antik, Min­ggu malam (1/112015).

Baca Juga :  Sempat Diajak Jadi Pengemis, Umang Konsisten Buat Besek

Batik Syandana menjadi salah satu tenan di A Day in the Farm. Untuk memenuhi per­mintaan konsumen, Butik Batik Syandana Solo selalu berkeliling menggelar pameran batik tingkat nasional di Jakarta. Pada 7–20 September 2015, Batik Syandana hadir di Happy Anniversary Central Park Mall Ja­karta. Batik Syadana didaulat tampil pada pameran tersebut.

“Ini merupakan kesempatan yang baik untuk bisa hadir dalam pameran tingkat nasional di Jakarta. Momentum ini kami manfaatkan semaksimal mungkin, agar bisa memenuhi permintaan konsumen ter­hadap batik,” kata Antik, pemilik Butik Sy­andana Solo.

Menurut Antik, minat masyarakat ter­hadap batik, khususnya kemeja untuk pria, perempuan dan anak-anak sangat tinggi. Bahkan ketika mengikuti pameran di Lapi­aza Kelapa Gading Jakarta, Juni 2015 lalu, omzetnya masuk tiga besar.

“Alhammdulillah, kepercayaan kon­sumen terhadap Batik Syandana sangat be­sar. Untuk itu, Batik Syadana kembali hadir untuk memenuhi permintaan pasar dengan ikut pameran di di Happy Anniversary Cen­tral Park Mall Jakarta,” ujar ibu dua anak tersebut.

Baca Juga :  Merawat Tradisi Membuat Dandang Nasi

Dikatakan Antik, meski saat ini pereko­nomian global, termasuk Indonesia agak lesu, akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, namun kondisi itu tidak mempengaruhi masyarakat terhadap ke­meja batik. Sebagai bukti, pada pemeran bulan lalu, minat dan permintaan baju ba­tik tetap tinggi.

Sedangkan Batik Syandana, menyediakan berbagai motif kemeja dengan harga ber­variasi, mulai dari harga Rp 90.000 – Rp 300.000 hingga Rp 3 juta. Untuk motif batik beragam, mulai dari batik tulis, cap dan lain­nya. Ada juga batik yang sudah jadi, maupun batik yang masih berupa lembaran kain.

Markas besar Butik Syandana berada di Jalan Sidoluhur nomor 7 Kapung Batik Laweyan Solo, Jawa Tengah. Butik ini juga melayani permintaan baju untuk hajatan pengantin. Begitu juga untuk model, Butik Syandana terus mengikuti perkembangan trend masyakarat, sehingga model baju ti­dak ketinggalan.

“Kami terus melakukan kreasi, dengan mengikuti perkembangan seni batik, se­hingga harus diimbangi dengan inovasi yang disesuaikan dengan tuntutan pasar. Dengan trend maasyarakat, maka perkem­bangan batik mengalami kemajuan sema­kin pesat,” tambah Antik. (*)