Untitled-9YULIANTI Gunawan, General ManagerDe Chef Culinary Center, atau Tjia Yu Lie tetap konsisten dengan apa yang dijgemarinya dari sejak kecil dulu. Bahkan ia sendiri sudah mampu menciptakan keindahan dengan karyanya di duniadesign kuliner.

Oleh : Latifa Fitria
[email protected]

Menurut wanita pemilik se­nyum indah ini, keindahan itu selalu menarik, terutama dalam seni visual. Apalagi ia menempanya dengan pendidikan tinggi demi memperdalam dunia kegemaran­nya dari sejak kecil hingga saat ini.

“Dengan mendekor kue tart, pasrty dan dan kuliner lainnya ada rasa kepua­san dan semangat tersendiri. Saya bisa membuat makanan yang awalnya biasa saja menjadi sesuatu yang sangat cantik, dan buat saya itu luar biasa,” ungkap wanita kelahiran 24 Agustus 1975.

Baca Juga :  Menjajaki Saung Pelestarian Penca Pusaka Cimande Bogor

Kegemaran ibu satu anak ini awalnya hanya sebuah hobi dari sejak kecil, hing­ga ia menyadari bahwa hobi itu sendiri keluar karena ia memang memiliki bakat. Namun banyak orang tak sadar bahwa mereka memiliki bakat yang selama ini sudah dijalani, dan tanpa disadari bakat itu sudah diaplikasikan ke dalam bentuk hobi. ”Saya sendiri dari sejak kecil suka sekali membuat sesuatu yang unik dan indah. Seni mendekor ulang dan mem­percantik sesuatu yang saya lakukan se­jak kecil itu semua lahir secara ortodi­dak, hanya dengan melihat sekali saya bisa mengkreasikan ulang sendiri,” ujar istri dari Agus Patma ini.

Setelah lulus kuliah, ia bekerja di Hotel Salak, Bogor selama 13 tahun lebih lamanya. Kemudian ia memutuskan un­tuk menerima ajakan duet Martina, te­mannya SMP-nya di Regina Pacis, Bogor.

Baca Juga :  Penangkapan Pelaku Curas di Medan, Polisi Tembak Kakinya

“Matina dengan saya memiliki ban­yak kesamaan, kalau saya seni dekor makanan dan marketingnya, sedang­kan dia lebih ke masakannya, dia suka meracik masakan yang baru. Lalu kemu­dian kami combain dengan membuka De Chef Culinary Center ini, rencananya kami akan membuka cabang lagi di Kota Bogor,” terangnya.

Baginya, hidup mengikuti alurnya, tidak terlalu menekan agar tidak ada penyesalandikemudian harinya, itulah yang dijadikan filosofi hidup oleh Yuli. “Hidup jalani saja semaksimal mung­kin, ikuti alurnya tetapi jangan terlalu memaksakan. Saya tidak mau mengejar sesuatu mati-matian, tidak tahunya ti­dak saya dapatkan, yang ada malah saya sakit nantinya,” pungkasnya.