tentaraBOGOR, TODAY – Untuk mengan­tisipasi penyalahgunaan senjata api oleh oknum TNI, Batalyon In­fanteri (Yonif ) 315/Garuda mem­perketat penggunaan senjata un­tuk setiap anggotanya.

Wakil Komandan Batalyon (Wadanyon) 315/Garuda, Mayor Inf Dani Indraja mengatakan, meski kesatuannya memiliki stan­dar operasinal prosedur (SOP) dalam penggunaan senjata, pi­haknya akan tetap memperketat penggunaannya.

Hal ini sebagai upaya penem­bakan yang dilakuka oknum TNI terhadap warga sipil beberapa waktu lalu tidak terulang kem­bali.

“Akan diperketat penggunaan senjata untuk di luar. Sehingga, ti­dak terjadi hal serupa di kesatuan kami,” ujar Dani saat pembersi­han dan pemeliharaan senjata di mako Yonif 315/Garuda, Jumat (6/11/2015).

Baca Juga :  Program Zero Stunting, IDI Jabar Gelar Pelatihan Sasar Dokter Umum

Ia melanjutkan, saat ini, Yonif 315/Garuda sendiri memiliki 458 senjata api jenis laras panjang se­banyak dan 96 laras pendek. Se­tiap prajurit menggunakan laras panjang, sedangkan laras pendek digunakan oleh perwira.

“Baik laras panjang atau pendek, tidak bisa digunakan sembarangan. Karena bisa mem­bahayakan bagi dirinya juga orang lain,” sambungnya.

Untuk mengawasi hal terse­but, ada petugas piket yang selalu mendata jumlah personel dan senjata yang keluar.

Baca Juga :  Rumah Kosong Dua Lantai di Bogor Terbakar, 4 Unit Damkar Dikerahkan 

Sehingga, kata dia, siapapun yang menggunakan senjata ke­luar dari gudang, harus benar-benar bertanggungjawab.

“Senjata ini tidak boleh keluar tanpa izin. Jika keluar tercatat di gudang. Kalau off dinas tidak bo­leh digunakan, semua harus ma­suk gudang,” terangnya.

Pihaknya juga melakukan pemeliharaan senjata berupa pembersihan. Tujuannya, ketika sewaktu-waktu diperlukan, sen­jata selalu siap digunakan. “Ini dalam rangka pemeliharaan sen­jata yang menjadi indeks dan per­tanggungjawaban,” pungkasnya.

(Kozer)